9

Sekolah Tanpa Buku dan Pena, Bisakah? (+2)

Blasius Mengkaka February 21, 2014

Dalam salah satu ceramahnya baru-baru ini, Bapak Mantan Presiden RI, Prof B.J Habibie melontarkan sebuah gagasan yang menarik tentang masa depan pendidikan Indonesia. Beliau mengatakan kurang lebih bahwa satu saat kelak, pendidikan kita sudah tidak lagi memakai buku dan pena. Dalam arti peserta didik kita, cukup mendengarkan di kelas, setelah itu mereka akan mempelajari lagi melalui teknologi internet. Media internet menjadi alternatif para siswa/i kita untuk mencari tahu hal-hal yang belum dipahami di kelas oleh gurunya. Hal itu disebabkan karena seiring dengan semakin derasnya arus informasi di media-media online yang menyajikan penjelasan yang akurat dan terpercaya, para siswa/i kita sudah punya bahan mentah untuk mereka bisa belajar banyak hal tentang ilmu dan teknologi melalui penelusuran di internet.
Gagasan, sang mantan Presiden RI ini sangat cemerlang dan tentu ikut memberikan pencerahan kepada kita tentang bagaimana kehidupan para siswa/i kita di zaman supercanggih dalam TIK. Beliau secara tak langsung tentu mengakui bahwa karena keterbatasan waktu tatap muka, maka para guru kita tak mampu memenuhi kebutuhan ingin tahu para siswa/i kita di kelas secara seratus prosen. Solusinya ialah penyajian mata pelajaran oleh guru di kelas hanya cukup didengarkan saja, lalu bila tidak jelas maka internet menjadi solusi yang paling bagus. Tentunya secara tersamar beliau juga mengakui bahwa dewasa ini media internet menjadi sarana yang mampu menjawabi persoalan pendidikan khususnya kebutuhan akan pemenuhan ilmu dan teknologi. Bila di kelas, para guru oleh karena keterbatasan waktu hanya menjelaskan hal-hal secara garis besar, namun di internet mereka bisa lebih leluasa menulis tentang pengetahuannya secara lebih rasional. Itu berarti ada apresiasi terhadap para penulis Web kita sebagai penulis-penulis berdedikasi.
Gagasan sekolah tanpa buku dan pena memang sejalan dengan pengguna internet yang memang tidak membutuhkan kertas dan pena, hanya mengandalkan tangan, intelek, perhatian, kesehatan, waktu dan kesempatan yang bagus. Pengguna internet hanya membutuhkan tempat duduk, ruangan dan waktu, lalu mulailah proses belajar tersebut. Ini memang hal baru bagi sistem pembalajaran kita, sebab bertahun-tahun, para siswa/i kita selalu kita wajibkan untuk memiliki buku tulis, buku cetak, alat-alat menulis, dll. Sesuatu yang memberatkan kalau semuanya disimpan dalam tas sekolahnya. Setiap ke sekolah, saya melihat, para siswa/i kita mulai dari TK hingga PT memikul tas sekolah besar di bahunya. Terkadang tas sekolahnya begitu besar dan berat sehingga kelihatannya cukup membebankan yakni membebankan untuk memikul karena berat dan membebankan ketika menjaganya di sekolah. Keadaaan itu sangat kurang efektif dan jelas sangat membebankan para siswa/i kita.
Namun bila basis pendidian itu tanpa alat-alat, maka kita bisa membayangkan seperti ini: Para siswa/i kita tidak perlu memikul beban berat dalam tasnya, mereka lebih luwes dan ringan melangkah, lagi pula tidak perlu kuatir terhadap bawaannya yang berat itu. Mereka ke sekolah tanpa beban tas berat lalu mereka duduk di depan kelas untuk mendengar pelajaran. Setelah pelajaran selesai mereka akan langsung ke ruangan TIK sekolah untuk surving di internet. Hasilnya: mereka menjadi paham ilmu dan teknologi dan juga tentang kehidupan di dunia maya yang serba riuh dengan ide-ide namun ternyata dapat memiliki kemampuan besar untuk mendidik. Tentunya hal-hal ini akan dapat dipahami para siswa/i kita dengan baik.
Setelah sekolah selesai, mereka akan kembali ke rumah untuk makan dan beristirahat. Bila tiba waktu belajar, mereka cukup melihat dan menemukannya di internt bahkan dapat pula mengerjakan PR melalui internet dalam hal ini Email lalu mengirimkan hasil PRnya kepada guru lewat Email alamat guru tersebut. Ini memang luar biasa. Gagasan Bapak B.J Habibie ini patut didiskusikan bahkan dicerna dan dipraktekkan khususnya bagi para siswa/i kita di kota-kota besar dan kota metropolitan. Bila dalam sistem kurikulum 2013, para siswa/i dan para guru kita masih menggunakan buku dan pena, mungkin saja pada Kurikulum berikutnya, pendidikan sudah berbasis sungguh-sungguh (100%) pada TIK. Luar biasa, kan? Dengan cara seperti itu maka Indonesia akan semakin canggih saja, generasi muda Indonesia akan semakin canggih di tahun-tahun mendatang!

Comments (9)

  1. Insya Allah hal itu akan terjadi di seluruh dunia. Sekarang saja, tanda-tanda itu sudah tampak. Cucuku sekolah tanpa banyak membawa buku. Sebagian buku sudah di almari sekolah dan sudah sangat sering belajar online di sekolah maupun di rumah. Allahu Akbar. Thx sharingnya. Salam.

  2. Pak Tri, hehe, memang benar bahwa harga kertas mahal. kalau pemerintah meloloskan program sekolah tanpa buku maka, Komputer-komputer akan laku keras. Solusinya Komputer lamapun akan diupayakan untuk berfungsi lagi bukan menjadi benda karatan hehehe

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar