3

Sekolah Satu Atap Sebelum dan Sesudah Pandemi (0)

Rajman October 16, 2020

Sekolah tempat saya mengajar merupakan sekolah Satu Atap yang artinya di situ terintegrasi antara sekolah SD dan SMP dalam satu lokasi. Nah mengajar disekolah Satu Atap itu memiliki tantangan tersendiri. Tantangannya bisa berupa  kurangnya tenaga pengajar, sarana yang kurang mendukung,  hingga murid yang dibawah standar idealnya.

Idealnya siswa yang masuk kesekolah menengah itu sudah lancar membaca, menulis begitupun dengan berhitung. Akan tetapi fakta di sekolah kami masih ada siswa yang bahkan masih belum bisa membaca apalagi berhitung. Bahkan ketika awal saya mengabdikan diri disekolah itu kaget, karena ada juga siswa disabilitas, yang mengalami tuna rungu sekaligus tuna wicara.

Pada prinsipnya siapapun yang ingin sekolah harus diterima, karena minat pendidikan orang-orang di daerah kami sebelumnya memang rendah, hal ini berdampak dengan tingkat pendidikannya. Putus sekolah, menikah usia dini, itu sudah hal lumrah.  Sehingga melihat anak-anak yang melanjutkan pendidikanya setelah lulus sekolah Dasar itu suatu kesyukuran, sehingga salah satu tugas kami sebagai guru yaitu membuat mereka betah bersekolah agar mereka punya asa, punya cita-cita dan punya keinginan untuk terus menuntut ilmu.  

Di sekolah ini saya diberi tanggung jawab untuk mengajar IPA dan matematika. Walaupun faktanya saya kadang sampe ngajar 4 mata pelajaran sekaligus. Tantangan pertama saya adalah bagaimana mereka semua itu minimal bisa hafal perkalian 1 sampai 10 dan juga melakukan pembagian sederhana. Hal ini saya lakukan karena rata-rata siswa hanya bisa hafal perkalian 1, 2, 5 dan 10 . Bahkan kadang sebagai guru saya sudah seperti pegawai koperasi, karena anak-anak menyetor hafalannya bahkan dicicil. Proses ini memakan waktu yang panjang, secara kontinyu hingga sampai mereka menamatkan diri dari sekolah.

Mata pelajaran eksak memang menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika mendapat jatah di jam-jam terakhir pelajaran. Sala satu trik yang terapkan agar siswa  betah, tidak bosan, menyenangkan, kadang siswa saya ajak untuk bermain kadang juga para siswa tersebut menonton film pendek hingga karaoke satu lagu.

Mengajar disekolah satu atap itu ya, memang unik apalagi jika sedang mengajar di kelas, anak-anak dari tingkat SD suka bikin gaduh, main kejar-kejaran, ribut dan membuat konsentrasi belajar mengajar menjadi tidak efektif. Kalau dimarahin semuanya pasti lari, tapi ya namanya anak SD sukanya main sudah pasti akan muncul kembali. Jangan tanya kenapa nggak dilarang gurunya, ya jumlah gurunya saja memang tidak sebanding dengan siswa.

Selain itu siswa tamatan SD yang satu atap dengan dengan sekolah SMP serasa tidak punya gairah, karena pada dasarnya mereka hanya seperti ganti seragam, guru dan pelajaran berbeda. Sehingga motivasi itu agak kurang.

Setitik harapan dari Bencana

Gempa bumi 28 September 2018 yang menyebabkan tsunami hingga likuifaksi yang melanda sebagian wilayah sulawesi tengah menjadi awal baru sekolah kami. Bangunan yang berdiri sejak tahun 2007 itu ternyata tidak sanggup menahan goncangan gempa 7,4 SR.  Sehingga kami harus belajar dari satu tenda ke tenda darurat lainnya. Ini dilakukan, karena kadang tenda darurat yang kami tempati kebanjiran hingga tidak mampu menahan tiupan angin yang kencang. Hingga pindah ke lokasi yang sedikit aman walaupun tidak kondusif untuk proses belajar menagajar. Dan keadaan ini berlangsung hampir sekitar 3 bulan.

Keadaan sedikit berubah karena kami mendapat lokasi hibah dari desa yang kemudian disitu dibangun Ruang Belajar Sementara (RBS) yang sampai saat ini masih kami tempati karena masih menunggu pembangunan sekolah permanen oleh pemerintah. Dari sinilah awal mula sekolah kami berpisah dengan sekolah SD di mana sekolah kami bernaung dalam satu atap

Mengajar di tempat baru bukan berarti tidak ada masalah, pernah suatu ketika diawal memasuki tahun ajaran baru 2019/2020, selama beberapa hari selalu terjadi kerasukan masal. Dan pada beberapa momen kadang hanya tinggal saya seorang guru yang  datang. Dan pengalaman yang tidak terlupakan, karena seketika jadi ahli ruqyah. Walaupun pada akhirnya jinnya  malah nggak mau keluar.

Menggunakan RBS sebagai tempat belajar itu banyak keluhannya, yang pada umumnya adalah rusaknya dinding karena ulah siswa yang sedang bermain tanpa sengaja menabrak dinding yang berbahan papan fiber semen yang ketebalnya hanya 3.5 mm. Bahkan hal ini kadang terjadi saat proses belajar mengajar.  Dengan demikian, sampai saat ini rang kelas kami bolong sana-sini.

Coronapun datang

Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia yang kemudian diikuti dengan instruksi dari Kemendikbud agar belajar dirumah, sebenarnya kami para guru dan siswa belum siap. Ditengah kepanikan saat awal mula Virus ini menyebar di Indonesia, kami mencoba menerapkan pembelaran daring. Saat itu para guru menyepakati menggunakan aplikasi Messenger untuk mensiasati tidak adanya data internet. Pembelajaran ini sangat tidak efektif, terutama mengajarkan matematika kepada anak yang pengetahuannya masih sangat minim.

Akhirnya saya mencoba menggunakan aplikasi youtube dan zoom untuk proses pembelajaran. Kebetulan waktu itu bulan Ramadhan, jadi saya menyarankan siswa untuk masuk kelas subuh sampai dengan jam 07.00, hal ini dikarena akses jaringan internet yang terbatas dan juga siswa mendapat subsidi pulsa dari sekolah. Namun pulsa tersebut hanya untuk digunakan pembelian  paket internet malam.

Lagi-lagi program ini tidak berjalan dengan baik, karena setelah dievaluasi ternyata para siswa yang punya Smartphone itu hanya sekitar 50% dari total siswa. Selain itu beberapa dusun tidak terjangkau oleh jaringan telekomunikasi.

Akhirnya kamipun memutuskan menggunakan pembelajaran dengan sistem luring, demi efektitas belajara mengajar. Secara teknis, kami para guru membagi siswa dalam berberapa kelompok berdasarkan zona tempat tinggal, yang nantinya para siswa menentukan rumah siapa yang jadi tempat belajar.

Belajar luring itu ya banyak kendalanya, apalagi ada tempat-tempat siswa yang harus ditempuh dengan menyebrangi sungai kecil, yang kalau musim hujan bisa dipastikan tidak bisa melintas. Belum lagi ada anak yang tidak mau belajar ke rumah temannya saat ada guru datang, setelah ditelusuri ternyata antara orang tua  anak tersebut saling sapa sehingga anak yang jadi korban.

Saat proses belajar mengajar berlangsung yang paling sulit itu ketika siswa mendapat giliran menulis. Tidak adanya meja tentu sangat sulit untuk menulis secara ideal, sehingga siswa-siswa menulis dengan berbagai posisi bahkan ada yang sambil rebahan. Sebagai guru tentu membiarkan saja, selama menereka tidak tertekan.

Dan salah satu momen yang teringat jika mengajar, tuan rumah kadang menyuguhkan air panas beserta kue. Yang kadang dinikmati oleh guru dan semua anak-anak yang sedang belajar sehingga suasa ini mecairkan hubungan antara orang tua, guru dan murid.

Secara emosional, sebenarnya para siswa mengalami kebosanan belajar dari rumah.  Apalagi dirumah mereka di bebani pekerjaan rumah bagi perempuan dan laki-laki pasti ikut ke kebun untuk membantu bapaknya. Sampai suatu ketika kami coba membuka sekolah karena sepertinya ada angin segar atas intruksi Kemendikbud maupun pemerintah daerah. Siswa-siswi sangat senang sekali datang kesekolah dan mereka berharap hal itu berlangsung lama. Namun pada kenyataanya harus kami tutup kembali, karena adanya penambahan kasus baru di Desa tetangga.

Kita semua berharap pendemi Covid-19 ini secepatnya berakhir. Sehingga kita bisa melakukan proses belajar mengajar secara normal.  Membangkitkan kembali gairah belajar anak-anak dan menata kembali sekolah sehingga semua merasa bahwa kita seakan-akan tidak pernah mengalami hal tersebut.

Tulisan saya lainnya bisa anda kunjungi di https://www.terus-belajar.web.id/

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (3)

  1. Selamat Sore ­čÖé
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar