4

Sekilas Tentang Pendidikan Gizi Keluarga (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 26, 2020

Pendidikan gizi perlu kiranya menjadi pedoman bagi setiap keluarga terutama bagi orang tua yang merupakan pusat dari semua pemenuhan kebutuhan dirinya serta anak-anaknya. UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) merupakan program yang tertuju pada  para ibu pengasuh anak agar merubah kebiasaan pangan yang tak serasi. Kebutuhan anak akan makanan dan nutrisi sangatlah menjadi perioritas seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga. Aktivitas seorang anak akan lebih aktif dan produktif akibat asupan nutrisi yang relevan dengan semakin tingginya tingkat kesadaran orang tua terhadap hal ini. Umumnya orang tua akan lebih terbatas kepada kepeduliannya terhadap pemenuhan makanan anak-anaknya, seperti faktor ekonomi dan pendapatan kerja yang rendah mungkin inilah yang menjadi alasan orang tua bahwa untuk pemenuhan gizi di lingkungan keluarga bukan hal-hal yang dianggap mewah atau alakadarnya. Namun dibalik itu semua orang tua biasanya cuek dengan hidangan makanan apa yang menjadi kesukaan anggota keluarga, terutama yang sering disalahkan ayah maupun anak-anakanya ialah peran serang ibu dalam rumah tangga. Seharusnya seorang ibu selain harus tahu menahu tentang manajemen makanan, masak-memasak, termasuk cara pengolahan bahan makanan menjadi menu yang spesial dari masakan, dan iapun harus tahu kebutuhan makanan atas anggota keluarganya yang lain. Seorang ibu harus mampu mengolah, menghidangkan menu makanan seimbang bagi keluarganya (seorang ibu juga harus peka dan paham terkait dengan prinsip “empat sehat lima sempurna”).

“…Seorang ibu mengaduk sebagian kecil dari dirinya ke dalam segala sesuatu yang Dia masak untuk keluarganya.” (Marjorie Holmes)

Juga sebagai anak kita harus mampu mengoreksi menu makanan yang dihidangkan oleh orang tua kita. Makanan yang menjemukan alias setiap minggu menu makanan tidak berganti akan menyebabkan nutrisi/gizi yang dibutuhkan tubuh hanya itu-itu saja. Selain anak akan menjadi bosan makan, juga kemungkinan besar memicu nafsu makan anak menjadi menurun, anak akan lebih suka makan di luar, menyebabkan anak menjadi infiil terhadap orang tua, dan lain sebagainya. Anak harus tau seberapa banyak aktivitas yang diembannya. Harus tau pula seberapa banyak makanan yang harus dikonsumsinya (dalam arti zat gizi yang dibutuhkan) dalam takaran saji per harinya. Ini perlu adanya komunikasi antara anak dengan orang tua, atau sebaliknya. Semua itu juga penting jika seorang anak menuntut kepada orang tua untuk pemenuhan gizinya. Orang tua juga harus tanggap dan peka terhadap kegiatan harian anak-anaknya. Jika aktivitas anaknya kiranya banyak, kemudian disusul lagi dengan aktivitas belajar/berpikir, tentu si anak  membutuhkan banyak nutrisi. Disinilah tugas orang tua perlu diutamakan. Jadi intinya bahwa kebutuhan gizi keluarga perlu kiranya menjadi pertimbangan bersama antar anggota keluarga.

Bagi anak-anak yang mengalami kurang kasih sayangnya orang tua (Broken Home), mereka umumnya mengalami gizi buruk. Hal ini bisa saja diakibatkan oleh ketidakpedulian orang tua mereka dalam menghidangkan jenis makanan tertentu, atau alakadarnya. Kebiasaan anak ketika mengalami peristiwa ini rata-rata anak hampir hilang nafsu makannya hingga makan dalam sehari menjadi tidak teratur, atau bisa saja seorang anak mencari kesenangan di luar kemauan keluarga.

Dan umumnya bagi anak-anak yang memiliki orang tua yang tingkat ekonominya tinggi umumnya pemenuhan jenis makanan banyak ragamnya. Sehingga anak bisa saja bebas mengonsumsi makanan semaunya. Namun ini perlu menjadi kesadaran orang tua untuk memperhatikan gizi keluarga dan jangan sampai berlebihan. Gizi buruk juga dialami oleh orang yang tingkat ekonominya tinggi, yaitu obesitas (seperti yang umum terjadi di negara maju). Sedangkan bagi anak yang memiliki orang tua dengan tingkat ekonomi rendah, umumnya seringkali mengalami gizi buruk (mal gizi). Gizi yang kurang ini banyak memicu penyakit lain, karena umumnya si anak apabila asupan nutrisi sangat kurang bisa saja si anak menderita penyakit marasmus, kwashiorkor, atau campuran keduanya marasmus-kwashiorkor. Penyakit-penyakit ini umumnya kekurangan zat gizi tertentu, namun yang paling sering karena kekurangan protein dan energi protein (KEP).

Selain gangguan makan anak di atas, ada beberapa gangguan makan pada anak yang lainnya yang sering kita jumpai pada masyarakat awam yang belum memahami prosedur pemenuhan  kebutuhan nutrisi pada anak dan memahami pentingnya nutrisi pada anak, gangguan makan pada anak yang sering kita temukan seperti penolakan makan, pika, gangguan regurgitasi pada masa bayi, anoreksia nervosa, dan bulimia.

  • Penolakan makan merupakan gangguan makan pada anak yang dapat diakibatkan beberapa faktor diantaranya anak tidak menyukai terhadap pemberian secara memaksa dalam makanan atau tidak menyukai cara pemberiannya atau tidak menarik perhatian pada anak, kemudian orang tua atau pengasuhnya tidak sabar dalam memberikana makan atau dalam hal ini orang tua atau pengasuhnya terlalu merasa khawatir atau kecemasan kalau anak tidak makan maka anaknya akan mengalami kekurangan gizi sehingga kadang-kadang selalu disiapkan makan yang bergizi tanpa memperdulikan selera pada anak atau kesukaan anak. Faktor cara pemberian makan pada anak adalah salah satu bagian penting dari faktor pengaruh gangguan makan pada anak, artinya cara pemberian ini yang sering kali menyebabkan gangguan makan seperti adanya paksaan dalam memberikan makan, suasana yang tegang, dan lain-lain.
  • Pika, merupakan keadaan anak berulang kali makan yang tidak bergizi seperti kapur tembok yang mengelupas, kertas, kotoran yang dipunguti dari lantai, kancing, rambut, mainan, dan lain-lain. Pika ini dapat menimbulkan anemia atau keracunan apabila yang dimakan mengandung zat yang dapat memberikan keracunan seperti zat timah dan lain-lain.
  • Terjadinya regurgitasi atau mengeluarkan kembali makanan ke dalam mulut tanpa disertai perasaan mual atau gangguan gastrointestinal, dengan ditandai mengejan, punggung melengkung ke belakang, mulutnya terbuka, kepala menengadah dan disertai gerakan-gerakan menghisap, kondisi demikian apabila terlalu banyak makanan yang dimuntahkan maka akan terjadi kehilangan berat badan sehingga dapat menimbulkan malnutrisi.
  • Anoreksia nervosa dan bulimia merupakan gangguan makan yang sering dijumpai pada anak remaja wanita yang ditandai adanya penurunan berat badan secara disengaja atau gangguan psikologis yang spesifik, kondisi demikian merupakan salah satu penyebab gangguan makan pada anak.

Sebagai orang tua, sesibuk apapun aktivitas orang tua perlu kiranya menyisikan waktu luang untuk keluarga sangat penting dan menjadi hal yang begitu pokok. Pada dewasa ini seringkali seorang ibu terpaksa meninggalkan anaknya karena harus bekerja meskipun ia sangat mencintai anaknya. Dalam keadaan seperti ini mau tidak mau anak mengalami kekurangan kasih sayang ibu yang merupakan deprivat maternal. Bila seorang ibu harus bekerja, maka seyogyanya ia dapat membagi dan membatasi waktu misalnya pada sore hari sudah ada di rumah sehingga anak-anaknya masih mendapatkan waktu untuk berkomunikasi dan merasakan kasih sayang ibunya.

Dibalik pekerjaan orang tua yang semisal sangat sibuk sekali aktivitasnya, kemungkinan besar stres dan depresi bisa saja menemani aktivitas kerjanya. Hal yang biasa umum dilakukan oleh orang tua yaitu memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya, bermain atau mengajarkan anak-anaknya mengaji, belajar, itu hal yang umum dapat mengurangi stres yang ada. Karena stres dan atau depresi dapat menimbulkan penyakit kepribadian maupun penyakit secara klinis seperti yang banyak dialami oleh orang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Ada pengaruh lain bahwa ternyata melalui makanan juga dapat dilihat seberapa besar cinta orang tua terhadap anak-anaknya, menumbuhkan ikatan emosional diantara orang tua dan anak atau sebaliknya. Kemampuan untuk menjalin hubungan yang akrab dan berarti dengan orang lain, hanya bisa diajarkan secara efektif di rumah oleh orang tua yang penuh kasih. Hal itu hanya dapat diajarkan dengan contoh, tidak dengan nasihat. Sebagai  orang tua harus lebih menyadari akan kebutuhan gizi bagi keluarganya. Gizi seimbang dengan menu makanan dan minuman sehat akan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan keluarga yang lebih berarti baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Daftar Pustaka:

  • Sumoprastowo, R.M. 2006. Memilih dan Menyimpan Sayur-Mayur, Buah-Buahan, Dan Bahan Makanan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
  • Supariasa, I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  • Winarno, F.G. 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya. Jakarta: Balai Aksara.
  • Winarno, F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Wahlroos, Sven. 1999. Komunikasi Keluarga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
  • Zang, S.M dan Bailey N.C. 2004. Manual Perawatan-Di-Rumah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar