0

Sejuta Asa dari Nusa Tenggara Timur (0)

Thurneysen Simanjuntak March 31, 2021

Tampaknya problematika garam di negeri kita belum kunjung berakhir. Kalau melihat fakta, kebutuhan garam di negeri kita dari tahun ke tahun terus meningkat. Baik itu garam sebagai kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan industri. Permasalahannya, kebutuhan tersebut tidak diimbangi pula oleh produksi garam nasional.

Menurut Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang Kartasasmita), “Kebutuhan garam pada 2020 mencapai 4,4 juta ton dengan 84% dari angka tersebut merupakan kebutuhan industri manufaktur, ditambah adanya pertumbuhan industri eksisting 5-7% serta penambahan industri baru.” Sementara kalau melihat data produksi garam nasional tahun 2020 diperkirakan hanya sebesar 2 juta ton saja.

Artinya, dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan garam nasional tidak dapat terpenuhi oleh produksi garam nasional. Kalau demikian, apa yang harus dilakukan? Satu-satunya cara jangka pendek yang harus dilakukan adalah impor garam.

Senada dengan yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian bahwa “Impor garam sebenarnya merupakan keterpaksaan demi menjamin kepastian pasokan bahan baku garam bagi industri dalam negeri, khususnya sektor alkali (chlor alcali plant/CAP), pulp, kertas, aneka pangan, farmasi, kosmetik, dan pengeboran minyak.”

Tentu bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan berbagai industri di negeri kita tanpa impor garam tersebut. Industri yang berhubungan dengan garam akan mandeg. Hal itu kemudian akan memengaruhi aspek kehidupan yang lain juga bukan?

Nah, tantangan bagi bangsa kita memang berat, bagaimana agar produksi garam nasional dalam aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan, dan kepastian harga dapat terpenuhi. Untuk mewujudkan hal ini tentu bukan sesuatu yang mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ada banyak permasalahan dilapangan yang harus dihadapi dan dipecahkan.

Beberapa tahun terakhir, sepertinya kita sedang menemukan titik terang. Nusa Tenggara Timur ternyata memiliki potensi garam yang sangat besar yang layak dikembangkan. Alasannya NTT ternyata memiliki kadar air laut yang lebih asin serta suhu panas di daerah tersebut lebih panjang. Dengan potensi garam yang sangat besar tersebut, maka provinsi NTT dapat dijadikan sebagai provinsi penghasil garam bahkan pengekspor garam nasional.

Dua tahun lalu (2019) Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, sempat menyampaikan bahwa “NTT ini memiliki potensi yang bisa dikerjakan itu 21.000 hektare. Di Kupang ada kurang lebih 7.000 hektare, yang dimulai ini 600 hektare dulu. Tetapi juga baru diselesaikan 10 hektare.”

Tetapi melihat pemberitaan beberapa hari lalu (Kompas, 15/3/2021). Pemerintahan kembali berencana membuka impor garam dalam waktu dekat. Impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Hal ini tentu tidak lepas dengan meningkatnya kebutuhan garam pada 2021 yang mencapai 4.6 juta ton, sementara yang sudah dipenuhi masih separohnya.

Walau demikian, kita harus tetap berharap dan optimis bahwa potensi garam di NTT dapat direalisasikan segera sebagai daerah penyupalai garam, sehingga tahun-tahun berikutnya kita benar-benar mampu keluar dari permasalahan garam dan bahkan menikmati rasanya swasembada garam.

Semua pihak tentunya harus bersinergi, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta dan masyarakat. Dengan demikian aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan, dan kepastian harga garam dapat terpenuhi dan terealisasi. Semoga.

Sumber Referensi:

  • https://money.kompas.com/read/2021/03/15/085105226/jokowi-mau-ri-swasembada-garam-di-2015-tetapi-sampai-2021-masih-impor?page=all
  • https://www.presidenri.go.id/siaran-pers/presiden-jokowi-tinjau-produksi-tambak-garam-di-kupang-timur/

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar