0

Secangkir Kopi Sebelum Mengajar–Guru Penggerak (0)

Daniel Leonard Sinaga April 7, 2021

Seekor siput bergerak lambat. Sangat lambat. Ya, ia memang tidak bisa bergerak cepat. Apalagi setiap hari tampak murung. Makin lambatlah jalannya.

Seekor katak melompat, mendarat manis di dekat siput. Dapat teman, siput bukannya gembira, malah tambah murung. Katak heran, kenapa siput murung terus.

“Put, aku heran kenapa kamu terlihat murung. Ada apakah?”

“Tak, bagaimana aku bisa gembira, kau lihat kan aku ini?”

“Tentu saja. Kau baik-baik saja kan? Ga ada yang kurang dari dirimu.”

“Katanya kamu teman baikku, kenapa kamu tidak memahami aku?” Siput kian murung.

“Put, aku lihat kamu sehat-sehat saja? Apa kamu sakit?”

“Ada sesuatu yang kurang dari diriku, Tak.”

“Apa, Put?” Katak kembali heran. “Anggota tubuhmu masih lengkap, kok.”

“Ah, Katak. Tidakkah kau lihat diriku ini begitu lamban. Aku iri setiap melihat kamu. Kamu begitu lincah melompat dan meloncat. Sedangkan aku….”

Tiba-tiba seekor elang terbang rendah mendekati mereka. Seketika siput memasukkan tubuhnya ke cangkang. Sementara itu, meskipun katak sudah berusaha melompat, cakar elang lebih cepat mencengkeram tubuhnya.

Dalam cangkangnya, siput tertegun. Barulah ia bisa menyadari dan bersyukur atas apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.—

Kita itu sukanya melihat apa yang ada di diri orang (pihak) lain. Sepertinya orang (pihak) lain jauh lebih beruntung dibandingkan kita.

Ketika di sekolah, kita lebih sering memikiran fasilitas dan kemudahan di sekolah lain. Apa yang ada di sekolah kita, selalu saja kurang di mata kita. Parahnya, itu jadi pembenaran bagi ketidakmauan kita bergerak dan memberikan yang terbaik. Namanya juga pembenaran, jadi seandainya fasilitas sekolah lengkap, belum tentu juga melakukan yang terbaik.Ketika guru banyak beban administrasinya, kita mengeluh tidak maksimal mempersiapkan dan melakukan proses pembelajaran. Ketika kran kebebasan dibuka, ternyata kita juga masih mengeluh karena tidak ada contoh, juklak, ataupun juknis.

Jadi guru kok menderita amat, ya? Kenapa harus mengeluhkan apa yang tidak ada? Mengapa tidak memanfaatkan yang ada saja?

Sumber daya sekolah, apa pun itu, bisa kita manfaatkan. Tergantung seberapa kreatif kita memanfaatkannya. Belajarlah jadi guru merdeka. Guru yang punya tujuan, mandiri dalam bentindak, dan selalu melakukan refleksi. Guru merdeka itu bergerak. Tidak menunggu. Jangan bingung atau takut ketika tidak ada contoh. Justru itu kesempatan menunjukkan kita adalah guru yang kompeten. Kalau merasa sendirian, ajaklah teman guru lainnya. Ajaklah mereka bergerak. Jadilah guru penggerak.

Bergerak. Itulah cara kita bersyukur. Tidak perlu berlari kalau memang hanya bisa berjalan. Tidak harus berjalan ketika hanya bisa merayap. Yang penting jangan diam. Yuk, kita syukuri apa yang ada pada diri kita dan ajarkan murid-murid kita untuk melakukannnya juga. Bersyukur membuat kita ringan menjalani kewajiban dan tidak mudah meremehkan orang lain.

Cecap tulisan-tulisan lainnya di buku “Secangkir Kopi Sebelum Mengajar”.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar