0

Sebuah Perspektif (0)

AfanZulkarnain February 23, 2021

Manusia adalah makhluk sosial. Dalam interaksinya, manusia selalu dihadapkan oleh berbagai warna kelompok berbeda.Salah satu perbedaan mendasar pada warna kelompok sosial adalah agama. Di Indonesia, perbedaan agama menjadi suatu fakta keberagaman yang harus kita terima. Keberagaman itu harusnya dapat menjadi modal untuk menjalin tali persatuan dan kesatuan. Seperti pelangi yang indah karena terdiri atas beragam warna yang disatukan.

Setiap orang berhak memeluk suatu keyakinan, hal itu tercantum dalam Undang-Undang Dasar Pasal 28, dimana negara menjamin segala bentuk kebebasan rakyatnya untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah sesuai dengan ajaran yang diyakininya. Hal tersebut menjadi alasan setiap orang harus memiliki sikap toleran.

Toleransi adalah adalah hal yang w ajib dikedepankan untuk memahami kondisi keberagaman di negeri ini.

Islam, sebagai Rahmatan Lil Alamin telah mengajarkan sikap toleransi tersebut lewat Al-Qur’an.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

(QS. Al Hujurat ayat 13)

Wahai manusia, Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa keberagaman pada manusia memiliki tujuan agar kita saling mengenal dan saling menghormati. Nabi Muhammad SAW sendiri telah memberi kita contoh bagaimana menghormati perbedaan dan bersikap toleran melalui Piagam Madinah.

Piagam Madinah adalah konsep perjanjian yang di dalamnya mengakomodir hak dan kepentingan seluruh masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda, beragam suku, agama serta budaya. Tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan konsep piagam madinah yang ditawarkan oleh Nabi, sehingga Piagam Madinah ini dapat dijadikan dasar dalam membangun Madinah sebagai kota yang ramah terhadap segala jenis suku, agama dan etnis, kesemuanya terlindungi haknya, sama-sama memiliki kewajiban untuk menjaga keutuhan kota Madinah.

Apa yang dilakukan oleh Nabi patutlah kita contoh dalam kehidupan bersosial di negara Indonesia yang terdiri atas ragam suku dan agama. Kita harus toleran terhadap siapapun yang berbeda suku dan keyakinan dengan kita. Contoh sederhana dari sikap toleransi ini adalah kita bisa berteman dengan siapa saja tanpa memperdulikan dia dari suku mana dan beragama apa, membiarkan masyarakat yang berbeda kayakinan dengan kita untuk melangsungkan ibadah dengan tenang, saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa peduli latar belakang keyakinan, selalu rukun meskipun berbeda agama, dan tidak memaksakan orang lain menganut agama kita.

لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ

Penggalan surat Al Baqarah ayat 256 ini menunjukkan bahwa tidak ada paksaan siapapun untuk memeluk agama Islam. Jika ada orang yang ingin memeluk agama Islam haruslah itu benar-benar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Bukan dalam keadaan terpaksa. Ayat ini sangat menunjukkan bahwa Islam sangat memegang teguh toleransi antar umat beragama.

Toleransi juga berarti kita tidak boleh ikut campur dalam urusan agama orang lain. Al Qur’an sudah mengajarkan hal ini lewat Al Kafirun ayat terakhir

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Yang artinya, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa umat Islam harus bisa menghormati perbedaan keyakinan dalam kehidupan bersosial. 

Mari saudara-saudaraku, kita tingkatkan rasa saling menghargai. Karena itulah yang menjadi tonggak bersatunya negeri ini. Dengan saling menghormati, artinya kita turut menjaga keutuhan bangsa ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar