6

Sebuah Fiksi : Mimpi yang Tertempel di Tembok Ruang Belajar (0)

AfanZulkarnain January 16, 2021

Tulisan ke-24 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Di sekolah, siapa yang tidak mengenal Lisa. Siswi kelas lima yang kerap menjadi juara di kelasnya. Segala mata pelajaran dia bisa. Nilai ulangannya selalu sempurna. Bakatnya juga membuat orang berdecak kagum padanya. Menari, menyanyi, melukis hingga olah raga, semua bisa. Dia telah menyumbang banyak prestasi untuk sekolah. Piala-pialanya berjejer rapi di ruang kepala.

Apabila sekolah akan kedatangan tamu, seperti kepala dinas pendidikan misalnya, Lisa selalu ditunjuk sebagai penerima tamu. Ia pun kerap diminta unjuk suara menghibur tamu kehormatan.

Lisa adalah mutiara sekolah kami. Namanya sangat populer. Bahkan penjual gorengan depan gerbang sekolah pun mengenalnya. Tak heran banyak siswa putra yang sudah puber jatuh hati kepadanya.

Aku cukup mengenal Lisa. Dia pernah aku latih untuk persiapan lomba baca berita. Dia berlatih keras. Totalitas. Pagi hari sebelum bel jam pertama berbungi dan pulang sekolah hingga jam tiga, ia berlatih dengan hati riang. Tak ada beban.

Orang tuanya pun sangat baik. Lisa adalah anak tunggal. Kesayangan kedua orang tuanya. Maka tak heran, apapun kegiatan positif yang diikutinya selalu didukung. Apapun yang ia minta selalu dipenuhi. Tapi Lisa adalah Lisa. Dia tetap rendah hati.

Orang tuanya pernah mengundangku untuk berlatih lomba baca berita di rumahnya. Aku dijemput dengan mobil mewah. Sesampai di rumah besarnya, aku disambut dengan berbagai makanan lezat yang sengaja dimasak ibunya untuk ku. Bukan hanya itu, ibunya menyiapkan berbagai hal untuk mendukung latihan kami. Dari microphone hingga sound system yang suaranya dapat terdengar hingga ke luar rumah.

Kami pun berlatih esktra di ruang belajarnya. Begitulah, Lisa tetap Lisa. Tak sulit untuk melatih dia. Remaja ini sudah memiliki modal berupa suara yang renyah. Untuk menyanyi saja merdu, apalagi untuk membaca berita.

Banyak hal yang aku amati dari ruang belajar tempat kami berlatih. Sangat luas. Lantainya ditutup karpet hangat berwarna tosca dengan gambar pikachu. Satu set meja belajar berada di pojok ruangan. Di sebelahnya rak buku yang cukup besar. Di situ tersusun rapi berbagai novel, komik, dan buku pengetahuan. Hawa sejuk dari AC yang terpasang di atasnya membuat siapapun merasa nyaman belajar di sana.

Di salah satu sisi ruangan, ada hal menarik perhatianku. Berbagai macam kertas warna-warni tertempel di situ. Aku mendekatinya dan aku baca satu persatu tulisan dalam kertas-kertas itu.

Ada kertas yang bertuliskan, ” Masuk SMA Juara.”, “Polwan.”, “Jadi model iklan.”, sampai “indonesian idol.”

Aku bertanya pada Lisa. Gadis itu menjawab, “Itu mimpi-mimpi saya, Pak.”

Lisa bercerita bahwa ia pernah memebaca buku tentang seseorang yang menuliskan mimpi-mimpinya di secarik kertas, lalu di tempel di tembok. Setiap hari ia membaca mimpi-mimpi tersebut, hingga suatu saat satu persatu mimpi terwujud.

“Mantap. Semoga semua ini bisa kamu capai, Lisa.” Ujarku memberi semangat.

“Aamiin. Siap,Pak.” begitu jawab Lisa dengan senyuman lebar.

Lisa gagal menjadi pemenang lomba baca berita. Ia hanya bisa mengantongi juara ketiga. Lisa tetaplah Lisa. Ia adalah sosok yang dewasa. Tak ada kesan sedih dan kecewa. Menjadi juara tiga saja dia alhamdulillah. Aku memberinya semangat agar bisa lebih baik jika ada perlombaan serupa.

Beberapa minggu kemudian, seisi sekolah gempar. Sebuah kabar mengejutkan tersiar. Lisa meninggal. Mobil yang ditumpangi bersama ayahnya alami kecelakaan di ruas jalan tol. Nyawa Lisa tak bisa diselematkan, begitupun dengan ayahnya. Ibunya sangat shock. Beberapa kali tak sadarkan diri.

Kematian Lisa memberi duka mendalam bagi sekolah kami. Tak ada yang menyangka begitu cepatnya gadis berprestasi itu harus pergi.

Saat melayat, aku menyempatkan mampir di ruang belajar tempat kami berlatih lomba baca berita. Aku perhatikan kertas warna-warni berisi mimpi yang masih tertempel di tembok ruangan. Aku baca satu persatu, hingga tak terasa tetes air mata terjatuh.

Mimpi-mimpi yang tertempel di tembok ruangan satu persatu terhempas dan berserakan di lantai.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar