4

Sebuah Cerpen : “Uang Buku” (0)

AfanZulkarnain January 14, 2021

Tulisan ke-20 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

“Ayah, besok Arif harus bayar buku.”

Permintaan putra semata wayangku membuat hatiku kalut. Bagaimana tidak, keuangan rumah tanggaku sedang berada di titik nadir. Hutangku menumpuk. Sementara penghasilanku hanya cukup untuk membuat asap dapur mengepul.

“Berapa,nak?” tanyaku.

“Dua ratus lima puluh ribu,” katanya pelan. Ada kekhawatiran dalam ucapannya. Khawatir akan membebaniku.

Putraku ini sangat tahu kondisi ekonomiku. Tidak pernah ia meminta sesuatu. Kalau tidak terlalu penting, ia tidak akan meminta. Putra semata wayang yang kubesarkan seorang diri setelah ibunya meninggal karena kanker yang membuatku harus merelakan semua harta bendaku habis terkuras.

Kami jatuh miskin dalam lilitan hutang. Tinggal di kamar kost sempit ujung gang.

Aku menarik nafas panjang. “Do’akan Ayah,ya. Semoga ada rezeki.”

Putraku mengangguk. “Al Maidah ayat 114,yah. Kata Ustadz Ahmad, fadilahnya bisa mendatangkan rezeki. Aku baca it uterus untuk Ayah.”

Hatiku sedikit terhibur. Ia selalu berapi-api kalau berbicara soal agama. Aku membelai rambut hitamnya dengan lembut. Ia adalah satu-satunya alasan mengapa aku harus terus hidup.

Terus berjuang dalam keterbatasan.

Ia menyalamiku dan bergegas berangkat ke sekolah. Aku melihat punggungnya yang menjauh hingga menghilang di belokan gang.

‘Sekolah yang pintar,nak. Agar masa depanmu lebih baik dari ayahmu ini,’ kataku dalam hati.

Setelah memasak di dapur umum untuk persediaan makan siang dan bekal, aku berangkat bekerja. Mengojek. Mencari penumpang untuk ku antarkan. Hari ini aku harus mendapatkan dua ratus lima puluh ribu. Artinya, aku harus mencari setidaknya lima belas orang penumpang.

“Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabalan.” Sebuah do’a terlantun dalam hati. Semoga Allah memperlancar urusanku hari ini. Aamiin.

***

19.45 WIB.

Di bawah rimbunan pepohonan Taman Kota. Aku hanya bisa mengumpulkan tak lebih dari tujuh puluh ribu rupiah. Darimana aku harus mendapatkan sisanya? Hutang kemana lagi? Ya Allah, aku seperti menemui jalan buntu. Aku harus bagaimana?

Aku menemui setiap orang di taman kota dan menawarkan tumpangan untuk pulang. Tak satupun yang berkenan. Semuanya menggelengkan kepala isyarat penolakan. Malam memang waktu paceklik untuk tukang ojek sepertiku.

“Herman!”

Seseorang memanggil namaku. Faisal, kawan lamaku. Sudah hampir sewindu tidak bertemu. Dia menanyakan tentang kabarku dan keluargaku serta alasanku mengapa di taman kota malam itu. Aku katakan semuanya. Tentang masalahku. Mungkin ia berniat baik membantuku.

“Aku tidak punya uang sama sekali.” Katanya pelan. “Tapi, aku mau menawarkan kamu pekerjaan yang bisa kamu lakukan mala mini. Kamu bisa mencari sisa uang buku anakmu dengan ini.”

Aku memandangnya ragu.

“Ini pekerjaan halal. Tidak usah khawatir.”

Faisal mengajakku ke rumah kontrakan barunya yang ternyata dekat taman kota. Ia meminjamiku pakaian, wig, bola dan tape jinjing.

Badut. Itu solusi darinya.

“Tidak usah malu. Tak ada yang tahu orang di balik riasan wajahmu. Kau hanya menari mengikuti irama lagu. Orang-orang akan memberi uang kepadamu.” Faisal meyakinkanku.

Aku menghela nafas panjang. Teringat wajah Arif, putraku. Teringat bola matanya yang hitam. Teringat rambutnya yang ikal. Teringat akan harapan agar dia memiliki masa depan yang lebih baik dariku.

Bismillah.

Dengan berpakaian badut dan wajah bermake up menor, ku jinjing tape menelususri jalanan. Mencari rupiah sambil menjajakan kelucuan. Tak peduli betapa sinis orang-orang, tak peduli aku ditertawakan. Hanya satu yang aku pedulikan. Uang buku Arif harus kudapatkan.

Lembar demi lembar rupiah terkumpul. Sempat aku hitung. Cukup untuk membayar buku anakku. Aku bernafas lega berucap Alhamdulillah. Tapi aku putuskan untuk melanjutkan profesi dadakanku sampai larut. Setidaknya untuk menambal hutangku di warung Mak Gemi tadi pagi.

Sebuah rumah makan. Itu tujuanku berikutnya. Cukup ramai dengan orang. Peluang mendapatkan lebih banyak uang.

Tanpa ragu aku menarikan gerakan mengikuti lagu Heavy Rotation. Orang-orang yang melihatku tertawa terpingkal-pingkal. Ada juga yang memandangku kasihan. Aku tak peduli. Mereka mengisi kaleng bekas yang kubawa dengan kepingan uang logam. Ada pula yang mengisinya dengan uang kertas lima ribuan. Alhamdulillah.

Saat aku beranjak ke tempat lainnya, sebuah suara mengehntikanku. Suara yang aku kenal.

“Pak!!!”

Aku menoleh kea rah suara. Bocah usia belasan itu memasukkan selembar uang sepuluh ribuan ke kalengku.

“Dari Tacik yang punya rumah makan, Pak. Terima kasih sudah membuat rumah makannya jadi ramai.” Katanya pelan lalu berbalik menuju rumah makan dan larut dalam pekerjaannya melayani pelanggan.

Air mata menetes di pipiku. Aku tak bisa bergerak dari tempat itu. Bocah itu adalah Arif, putra semata wayangku. Dia bekerja. Dan selama ini aku tidak menyadarinya.

***

23.30 WIB.

Aku kembali ke kamar kost. Gelap. Terdengar dengkuran putraku. Tanda kelelahan. Aku hidupkan lampu meja belajarnya. Ada sebuah kertas yang membuatku mengharu biru.

“Ayah. Maaf membohongi Ayah. Sebenarnya tanggungan bukuku 750ribu. Tapi aku sudah punya 500. Maaf menyusahkan ayah mencari sisanya. Ada nasi goreng untuk ayah.”

Aku memakan nasi goreng itu sambil tak hentinya bercucuran air mata. Sesekali ku belai rambutnya dan berdo’a tentang hari esok yang lebih cerah untuknya.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar