2

Sebuah Cerpen : An Nisa (0)

AfanZulkarnain January 18, 2021

Tulisan ke-28 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Malam ini adalah penentuan dari segala waktu yang terbuang.Penentuan atas semua perasaan yang bercampur di dalam dada yang sudah sekian lama aku menahannya.
Bulan sabit dan berjuta bintang di angkasa cerah seakan memberikan semangat lewat cahaya mereka yang gemerlap.
Aku sudah siap! Entah bagaimanapun hasilnya nanti aku tak peduli, yang penting aku sudah berani.
Aku menatap bayanganku sendiri pada cermin besar di ruang kamar.Lelaki berbaju koko lengkap dengan sarung hijau dan peci hitam ini siap untuk bertarung melawan keangkuhan seorang lelaki tua yang selama ini menghantuiku setiap waktu.
“Kau harus ke sini dengan memakai baju koko,sarung dan peci hitam,kalau tidak Kau tak akan kubukakan pintu!”
Kata-kata dari lelaki tua yang tegas itu terngiang kembali di ingatanku.
“Ingat! Kalau kau gagal,tidak ada lagi kesempatan lagi untukmu!” ,ucapannya inilah yang membuat aku tegang.Bagaimana tidak,ia seperti eksekutor yang akan menentukan nasibku nanti.
Aku menghela nafas panjang.Sedikitnya ini yang bisa kulakukan untuk meredakan gejolak di batinku.
“Bismillah,” bisikku dalam hati, “ya Allah lancarkanlah semuaproses ikhtiarku ini”

Segera kulangkahkan kaki keluar rumah.Ku hampiri sepeda dan langsung kukayuh melewati jalanan desa yang di sisi-sisinya ditumbuhi pohon kelapa.
Jalanan tak beraspal dengan kerikil-kerikil kecil nan tajam kulalui demi cinta ini.Cinta kepada seorang wanita bernama Dellia.


Dellia.Nama itu yang selalu bersemayam di relung jiwa.Gadis berjilbab dengan lesung pipit yang muncul setiap ia tersenyum.Manis sekali.Matanya sayu tapi selalu saja menjadi penghibur di setiap laraku.


Seminggu yang lalu aku mengantarkannya pulang dengan sepeda.Sesampainya di rumah Dellia, kami disambut ayahnya yang berkacak pinggang.Wajahnya memerah penuh dengan emosi yang siap ia semburkan bak gunung berapi yang tak tahan dengan gejolak magma di dalamnya.Aku benar-benar tak berkutik.


“Dellia!!!! Masukk!!!!” pekiknya.Dalam sekejap Dellia melompat dari boncenganku dan berlari memasuki rumah.Lalu lelaki tua itu menatapku tajam.
“Aku tak mengizinkan putriku berjalan dengan bukan muhrimnya!.” Nafasnya terengah-engah.”Siapa namamu?”
Aku menjawab dengan gugup,”Os..oskar,pak”
“Bacakan surat An Nisa kepadaku!” mintanya tegas.
Tentu aku terkejut dengan permintaannya.Bagaimana tidak,aku bukan penghafal Al-Qur’an.Aku memang kerap membaca kitab Allah itu tapi sama sekali tak ku hafal.
Jelas keringat dingin mengucur deras.Dadaku berdegup kencang.
“Tak bisa?hafalkan dulu surat itu,seminggu lagi kau datang kesini,bila kau masih tak hafal,jangan harap bisa bertemu dengan putriku” katanya sambil lalu dan menutup pintu rumahnya dengan keras.


Rasa sakit menghujam dada.Aku pun pulang dengan rasa kecewa.Padahal aku sudah membayangkan indahnya perkenalanku dengan orang tua Dellia.
Tapi dari situ aku merasa tertantang.Akan kubuktikan keseriusanku mencintai putrimu,pak.
Kuhabiskan hari-hariku untuk menghafal surat An-Nisa.Ku sewa jasa guru mengaji agar aku bisa membaca dengan makhraj yang benar.Tak lupa aku memahami setiap arti bacaannya.Hingga seminggu berlalu,dan malam ini akan kutunjukkan keseriusanku.
***
Aku sudah di depan rumah Dellia.
“assalammualaikum..” kuketuk pintu rumahnya.Selang beberapa menit,pintu kayu itu terbuka.Suaranya berderik.Lelaki tua itu muncul.
“wallaikumsalam..”jawabnya.
Aku langsung mencium tangannya.Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menaruh sikap hormat kepadanya.
“bacakan surat An-Nisa kepadaku”,katanya spontan.
Tentu aku terkejut dengan perkataannya yang tanpa basa-basi langsung memintaku membaca surat permintaannya itu.
“maaf,pak.apa tidak sebaiknya saya membacanya di dalam?”tanyaku.
“kalau kau tak mau,ya sudah silahkan pulang” sanggahnya angkuh.
“baik,pak saya akan membacanya di sini.”kataku mengalah.
Aku menghela nafas panjang.Lalu kulantunkan Ta’awudz,dan basmalah.Selanjutnya kubaca satu persatu ayat yang seminggu ini kuhafalkan.
Beberapa kali aku salah ,namun seketika lelaki tua itu mengkoreksinya dan menuntunku membaca dengan benar.
Jantung terasa berdegup kencang.Keringat dingin bercucuran.Demi Allah,aku sangat gugup.
Belum sampai ayat ke 100,ia menghentikanku.Lelaki tua itu menatapku dengan sorot mata tajam.


“kau masih perlu banyak belajar membaca Al Qur’an” katanya tegas,”Bagaimana bisa kau hidup tanpa tahu bacaan di kitab pedoman hidup?”
Seketika aku menunduk.
“Hafalkan lagi!!!ku tunggu kau minggu depan!!” pekiknya.Bola matanya membesar,urat di lehernya terlihat, terlihat ia begitu emosional dan aku semakin ketakutan.Betapa susahnya mendapat izin dari ayahmu, Dellia.Meski hanya ingin bertemu dan bercengkrama saja.
Aku kembali pulang,dan kuhapal kembali surat itu.
***


Seminggu berlalu.Aku kembali menghadapnya.Lagi-lagi ia memintaku untuk kembali lagi sepekan kedepan karena ada bacaanku yang salah.
“Kalau kau salah membaca Al Qur’an,artinya pun akan berbeda!kembali lagi minggu depan” katanya.
Aku mulai berprasangka buruk.Mungkin orang tua ini tak suka kepadaku.Tapi,rasa rindu terhadap Dellia terlalu besar.Aku harus berjuang.
***


Aku kembali menghadapnya.
Lagi-lagi ia mengomentari bacaanku dengan pedas.”Katanya kau mahasiswa,tapi tak bisa membedakan mana idghom mana iqlab.Kembali lagi minggu depan!”
Dadaku terasa sesak mendengarnya. Dellia ,begitu beratnya untuk bisa melepas rindu denganmu,meski hanya menatapmu saja dengan busana muslim anggunmu.
Kuhabiskan hari-hariku untuk menghafal kembali surat itu.Cukup sulit memang karena aku harus membagi konsentrasi pada ujian akhir semester.Tapi apapun akan kulakukan demi dia, Dellia.
***


Seminggu berikutnya.Aku kembali lagi untuk kesekian kalinya.
Lelaki tua itu sudah berdiri di teras depan.Mungkin ia menungguku.Seperti biasa kucium tangannya dan ia langsung menyuruhku melafalkan surat An Nisa.Segera kupenuhi permintaannya.Ku baca ayat demi ayat dengan hati-hati.Aku tak mau gagal lagi.Aku ingin bertemu Dellia.Rasa rinduku semakin tak terbendung.


Lelaki tua itu memejamkan mata,memaknai setiap bacaan yang keluar dari mulutku.Hingga ayat terakhir,ayat ke 176.Ia lalu menarik nafas dalam dan membuka matanya.Ia menatapku teduh.
Entah apa yang dirasakannya,dia seakan berubah.Dia tak terlihat menyeramkan seperti biasanya.


“Kau tahu mengapa aku menyuruhmu menghafal surat An Nisa?’ tanyanya.
“Maaf,pak saya tak tahu” aku menggelengkan kepala.
Tiba-tiba tangannya memegang pundakku.Tatapan matanya berubah menjadi lembut.
“Allah sangat memuliakan kaum wanita.Ia mengabadikannya lewat surat An- Nisa”
Aku terhenyak mendengarnya.
“aku juga ingin kau muliakan setiap wanita yang kau temui, termasuk putriku, Dellia”ujarnya lembut.
Kata-kata itu menyentuh hatiku.Jadi ini maksutnya ia memintaku menghafal surat An-Nisa?
“Jadilah mitra taat putriku” bisiknya pelan namun membuat aku bergetar.
“Terima kasih,pak” ku mencium kembali tangannya.Lama sekali.Tak terasa air mata meleleh perlahan.Air mata syukur karena aku bisa meyakinkannya bahwa aku serius dengan putrinya.
Ia mengelus lembut punggungku.
“Ayo,masuk. Dellia menunggumu” bisiknya lagi.


Alhamdulillah.Aku tersenyum lebar.Betapa tidak,berminggu-minggu sudah aku tak melihat wajahnya.Rasa rindu ini sudah meluap.
Kami melangkah masuk ke dalam rumah,dan kudapati Dellia duduk manis di sofa lengkap dengan busana muslim syar’inya.Dia memang bidadari surga.Wajahnya bersih karena selalu tersiram sucinya air wudhu.Senyum yang selalu menghiasi wajahnya membuatnya terlihat teduh.
Aku duduk di depannya.Sementara ayahnya masuk ke ruang tengah meninggalkan kami berdua berjibaku dengan rindu.


“Terima kasih telah mengabulkan permintaan ayahku” ia membuka pembicaraan.”Berminggu-minggu hatiku selalu diliputi rasa was-was dan ragu.Aku takut engkau tak mampu memenuhi permintaan ayahku.Dalam sujudku aku selalu berdo’a agar Allah menguatkanmu,dan ternyata Allah mengabulkannya.” Dellia menghela nafas panjang.


Aku tak mampu berkata-kata mendengarnya.
“InsyaAllah” kataku pelan.”dari permintaan ayahmu aku belajar bahwa mencintaimu berarti bertekad menjadi penuntunmu ke surga”

Aku terdiam. Ada hal yang ingin aku sampaikan.

“Aku ingin mengajak keluargaku ke sini. Melamarmu, Dellia.”

Mendengar kalimat itu, Mata Dellia berkaca-kaca. Terharu. Sang ayah rupa-rupanya juga mendengar apa yang aku katakan. Beliau menghampiri kami. Dengan lembut ia berkata, “Aku tunggu kehadiran keluargamu.Secepatnya”

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar