20

Saya Ternyata Guru…..Innalilahi…. (+3)

Botaksakti November 25, 2013

Tadi malam, saya diundang ke pengajian 40 hari seorang tetangga.Dalam tausiahnya, Ustadz menyampaikan beberapa amalan yang akan membuat seseorang masuk ke sorga. Di antara berbagai amalan, Ustadz menekankan tentang ilmu bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain. Secara khusus, Ustadz menyebut guru lah yang mengambil peran ini.

Ketika Ustadz mengatakan hal itu, entah kenapa ada perasaan tidak menentu menyeruak ke sanubari saya. Baru ingat bahwa saya pun seorang guru. Itu terbukti dariΒ  sertifikat profesi yng sudah sya peroleh, meski saya belum menikmati sepeserpun tunjangan yang menjadi hak saya. Tanpa sertifikat itu, saya hampir lupa bahwa saya seorang guru hehehehe…..

“Meski demikian, karena jalan sebagai guru itu juga menjanjikan amal jariah, tapi jangan salah. Ketika guru tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya, tentu dosa yang ditanggungnya juga besar. Bayangkan bila guru malah menyesatkan anak didiknya, maka segala kesesatan yang dilakukan anak didiknya tersebut sebagai akibat dari pengajaran gurunya maka segala dosa yang ditimbulkannya juga akan menimpa guru tersebut!”, jelas ustadz lebih lanjut.

Kalimat itu seperti menusuk ulu hati saya. Menyengat tajam membelah kesadaran.Profesi guru tidak selayaknya dianggap sebagai anugerah sepenuhnya. Memang anugerah karena diamanahkan untuk mengantarkan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Akan tetapi, ternyata juga musibah karena dituntut tanggung jawab yang sedemikian besar. Selamat hari guru, semoga kita tetap tabah dan tawakal!

Comments (20)

  1. Supaya ndak bingungi saya artikan singkatan di atas. DIK = Mendidik, JAR = Mengajar, BING = Membimbing, RAH = Mengarahkan, TIH = Melatih, LAI = Menilai dan UASI = Mengevaluasi. Itulah sebenarnya tugas utama guru…! Salam Guraru! πŸ™‚

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar