2

SATU SENYUM ANAK INDONESIA SERIBU SEMANGAT MENJADI SEORANG GURU (+3)

Titi Sumarni May 12, 2015

SENANGNYA PENGALAMAN MENJADI SEORANG GURU

Selamat Siang

Perkenalkan saya Titi Sumarni seoarang mahasiswi dari jurusan Teknik Elektro Prodi Pendidikan Teknik Komputer dan Informatika ,S1 Angkatan 2011di salah satu universitas di ajawa tengah yaitu Universitas Negeri Semarang(UNNES). Alhamdulillah sekarang sudah menempuh semsester 8.Dan saat ini saya ingin mencoba ikut berpartisipasi dalam penulisan sebuah artikel yang bertopik Senangnya Pengalaman Menjadi Seorang Guru.

SATU SENYUM ANAK INDONESIA SERIBU SEMANGAT MENJADI SEORANG GURU

Ini berawal saat saya menempuh semester 6 mengambil PPL (Program Pengalaman Lapangan) bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kependidikan. PPL merupakan sarana pelatihan menjadi seorang guru , mengenalkan pentingnya profesi seorang guru. Mungkin pengalaman ini jauh berbeda dengan guru yang sudah bersarjana, walaupun saya belum bersarjana saya mencoba berbagi pengalaman tenatang senang nya menjadi seorang guru yang berjudul “Satu senyum Anak Indonesia Seribu Semangat menjadi seorang Guru “.

Sesuai keterangan diatas PPL merupakan salah satu program sarana untuk mengenalkan kepada mahasiswa bagaimana cara berprofesi menjadi guru yang baik . Pada saat itu kami ber 23 anggota mendapatkan tempat PPL di SMK Negeri 1 Batang, dan saya kebagian menjadi seorang guru Multimedia untuk kelas X dan Kelas XI Multimedia. Pada tahun 2014 merupakan awal pemberlakuan kurikulum 2013, dimana sebagai salah satu kurikulum baru dari kurikulum sebelumnya KTSP . Berabagai macam pro dan kontra mengenai pemberlakuan kurikulum 2013 dari guru, siswa ,karyawan bahkan sampai ke pedagang-pedagang pinggiran disekitar SMK Negeri 1 Batang   ikut antusias dalam menanggapi kurikulum 2013 tersebut.

Namun saya sebagai mahasisawa calon pendidik kelak nantinya harus profesioanal dalam menanggapi pro dan kontra pemberlakuan kurikulum tersebut. Karena saya berpikir setiap keputusan pemerintah Kementrian Pendidikan Indonesia tetapkan itu memiliki landasan atau motif tersendiri demi kemajuan Pendidikan Indonesia.

Kelas Multimedia merupakan jurusan terbaru dari jurusan lainnya selama 5 tahun belakangan ini.Kelas ini terbagi menjadi 3 angkatan , kelas X , XI dan XII. Namun saat itu saya mengajar kelas X dan XI Multimedia SMK 1 Batang, banyak pengalaman dan pelajaran yang saya ambil. Awal mual mengajar merupakan suatu kesan pertama untuk anak dan untk diri saya sendiri walaupun sedikit gerogi, tapi ketika melihat keramahan anak-anak dan antusias anak-anak semangat baru menjadi seorang gurumulai  tumbuh secara  perlahan. Sebelumnya saya tidak berpikiran untuk menjadi seorang guru walaupun saya berlatarbelakangi kependidikan saat itu saya berpikir ketika lulus nanti saya ingin menjadi seorang ahli teknisi komputer, karena maaf bagi saya guru pekerjaan yang tidak menjanjikan pada saat itu. Waktu berjalan, satu minggu awal mengajar merupakan proses sosialisai , masa perkenalan , atau masa penyesuaian menjadi seoarang calon guru di SMK Negeri 1 Batang.

Kelas X Multimedia merupakan kelas yang ramai saat mata pelajaran berlangsung,walaupun ramai anak-anaknya sangata antusias ketika pelajaran berlangsung. Disamping itu yang perlu diperhatikan lagi bermain games, bermusik,berinternet membuka situs yang tidak sesuai pelajaran dan membuka situs media social tidak pernah lepas dan merupakan kebiasaan buruk yang perlu di beri perhatian khusus kepada anak-anak. Dari kodratnya anak-anak suka akan hal yang menyenagkan dirinya , apalagi salah satu siswa ketika ditanyai “kenapa kamu terus bermain game saat pelajaran berlangsung”Tutur Saya.

“Karena saya jurusan multimedia tidak salahnya kalo saya bermain game” Jawab anak tersebut.

Betapa lucunya pemikiran anak seusia tersebut namun  hal itu perlu kita perhatikan penuh bagaimana cara menjelaskan kepada siswa kita hakikat dari makna belajar itu sendiri dan perannya guru dalam memotivasi siswa itu sangat penting. Apalagi ketika ada seoarang siswa yang merasakan kalau dirinya tidak sepantasnya mengambil jurusan Multimedia, dikarenakan berbagai factor salah satunya tidak memiliki bakat dalam mengoperasi sebuah computer,takut kalau computer rusak dan terus disuruh menggantinya dan ia sendiri hanya belajarnya terbatas yaitu di dalam kelas . Itu juga kalau fasilitas computer untuk praktikum memadai.Namun itu semua merupakan permasalahan perlu ditangani khusus. Tapi sebenarnya yang perlu dipikirkan bagi calon pendidik seperti saya bagaimana solusi kedepannya, yaitu mengembalikan paradigma siswa dengan memotivasi cara berpikir siswa terkait betapa pentingnya jurusan Multimedia dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki andil dalam implementasi di dunia pekerjaan khususnya. Paradigma tersebut dimualai dari timbulnya rasa nyaman dan senangnya mengikuti pelajaran didalam kelas dengan cara membangkitkan motovasi pribadi siswa. Misalnya ketika bermain game anak-anak diarahkan atau di jelaskan perbedaan belajar dan bermain.kemudian bermain game kemudiakan kita putar balikan sesuai dengan bidang Multimedia kalau kita sebagai bangsa Indonesia bukan saja sebagai bangsa konsumen namun kita memiliki peluang atau kesempatan besar kalau kita memiliki andil untk menjadi seorang programmer atau membuat game atau animasi yang nantinya dikaitkan dengan prospek kerja di masa depan. Karena Bangsa yang baik bangsa yang mencitai produk sendiri. Dan pada sekarang ini bagi saya belajar IT itu mudah untuk siapa saja mau mendalaminya dan itu bias dilakukan kapapnpun dan dimanapun, karena IT sifatnya fleksibel terhadap perkembangan zaman yang terus maju. Jadi ketika paradigm anak tersebut mengenai hal teknologi itu sudah dalam kategori menyukai, membangun ,dan mengembangkan teknologi yang ikut berpartisipasi dalam mengembangkan minimal memakai. Akan lebih mudah masuknya sebuah materi pelajaran. Kemudian disamping secara garis besar praktikum lebih diperbanyak lagi dan dikaitkan dengan implementasi atau penerpan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak adanya pengambangan dalam penangkapan sebuah materi. Semua ini bergantung dengan metode pelajaran yang diterapkan oleh setiap guru yang terangkum penuh dalam RPP yang dibuat. Kelas yang ramai bukan berarti kelas itu tidak efektif, melainkan menfaatkan kondisi yang ada asalkan posisi guru tetap pada nomor satu, mampu memerankan dan mengendalikan sesuai kondisi yang  ada. Kemudian setelah pelajaran berakhir tidak lupa seorang guru harus mengevalusi seluruh materi yang diberikan pada hari itu sebagai tolak ukur seberapa persen seorang siswa manangkap sebuah materi yang diberikan melalui post test atau cara lainnya.

Dari semua itu saya berpikir kembali kalau pendidikan akan maju ketika guru ,siswa, orang tua dan elemen sekolah satu sama lain saling mendukung. Tidak ada kata TIDAK BISA untuk memulai dari sekarang karena pentingnya dalam ikutt serta memajukkan pendidikan di Indonesia. Karena kita adalah Bangsa yang Cerdas Cinta tanah air Indonesia.Satu Senyum anak Indonesia Seribu Semangat Menjadi Seorang Guru

Selesai…

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar