2

Satu Hari Wajib Setor Satu Soal (0)

AfanZulkarnain January 25, 2021

Tulisan ke-43 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Semester genap Tahun Ajaran 2018/2019. Aku sudah dinyatakan lolos seleksi CPNS 2018. Itu artinya aku sudah harus siap-siap untuk mengundurkan diri dari sekolah tempatku mengajar. Namun kebimbangan menyelimuti hatiku. Aku masih bertanggung jawab terhadap siswa kelas sembilan. Aku ingin sekali membantu mereka mempersiapkan diri mengahdapi ujian nasional.

Maka setiap saat aku berdo’a, semoga SK CPNS ku turun setelah penyelenggaraan UN Matematika SMP.

Aku pun secara tersirat mengatakan kepada semua anak kelas sembilan, bahwa ini adalah kesempatan terakhirku membimbing persiapan ujian nasional. Aku sampaikan segala macam harapanku, dua diantaranya target rata-rata 70 untuk matematika, dan setidaknya ada satu anak yang mendapatkan nilai sempurna di pelajaran matematika.

Aku memiliki program saat itu. Aku membagi semua anak ke dalam tiga kelompok. Kelompok 1 adalah anak-anak yang memiliki kemampuan matematika yang menonjol. Aku memberikan treatmen kepada mereka satu hari satu soal HOTS.

Mereka memiliki buku tulis khusus untuk program itu. Setiap hari aku memberikan mereka soal Hots, seketika ada yang mengerjakan. Ada juga yang bertanya dan berdiskusi denganku. Setelah jawaban mereka benar, baru aku beri satu soal kembali untuk mereka kerjakan di rumah, dan harus dikumpulkan besok harinya. Begitu seterusnya. Kelompok 1 inilah yang aku prediksi bisa mewujudkan impianku, yaitu ada yang mendapatkan nilai sempurna di UN Matematika.

Kelompok 2, terdiri atas anak-anak yang kemampuan matematikanya rata-rata. Setiap hari aku beri mereka soal dengan kesulitan sedang. Apabila ada peningkatan kemampuan, baru aku beri mereka soal HOTS.

Sementara kelompok 3 terdiri atas anak-anak yang harus lebih diberikan motivasi untuk belajar matematika. Setiap hari aku beri mereka soal-soal yang tingkat kesulitannya rendah. Apabila ada peningkatan kemampuan, baru aku beri mereka soal dengan tingkat kesulitan sedang.

Kelompok 2 dan kelompok 3 aku persiapkan untuk memenuhi impianku, yaitu target rata-rata nilai UN Matematika 70. Sekedar tahu, tahun sebelumnya rata-rata kami hanya berada di angka 50-an.

Begitulah, selain aku mengajar pada jam yang telah disediakan, pulang sekolah aku selalu meladeni anak-anak yang setoran jawaban. Ada yang semangatnya menggebu-gebu di awal, namun kendor di tengah perjalanan. Ada juga yang awalnya tak peduli dengan programku, akhirnya rajin bertanya dan berdiskusi. Anak itu mendapat nilai yang cukup bagus di UN Matematika.

Salah satu anak di kelompok 3, namanya Riski. Harus ekstra sabar dalam membimbingnya. Ia tipe anak yang sulit mempelajari pelajaran eksak. Hari ini diberikan materi A, besoknya lupa. Tapi yang aku suka dari dia adalah semangatnya. Ia selalu menungguku saat bel pulang sekolah. Ia menyodorkan soal yang ia kerjakan, meskipun jawabanya masih salah, ia tetap berusaha. Aku beri dia penjelasan mengenai penyelesaian soal, dan dia dengan seksama mendengarkan dan mencatat di buku khusus program tersebut.

Program ini terus berjalan, meskipun aku sedikit kelimpungan mengoreksi jawaban semua siswa setiap hari. Tapi tak apa demi target yang ingin aku capai.

Juga demi memberi “Kado perpisahan” kepada sekolah yang aku cintai itu berupa nilai anak-anak yang baik di ujian nasional.

Alhamdulillah, aku bisa membimbing mereka sampai Ujian Nasonal mata Pelajaran matematika digelar. Sampai saat itu SK CPNS belum turun, seperti apa yang aku harapkan.

Mei 2019, aku menerima SK CPNS dan harus langsung bertolak ke Jombang untuk mengumpulkan berbagai berkas. Dalam perjalananan pulang, di atas bus, aku mendapatkan kabar membahagiakan.

Hasil UN SMP telah keluar. Seorang rekan memberiku kabar yang sangat menggembirakan. Ada empat anak yang mendapat nilai sempurna di matematika. Seperti harapanku selama ini. Yang juga mengejutkan anak-anak hampir sedikit berhasil memenuhi target rata-rata UN Matematika. Target kami 70,00 namun kami berhasil meraih rata-rata 69,44 persen.

Alhamdulillah, dalam bis ayang penuh sesak aku berteriak gembira. Tak peduli penumpang-penumpang lain melihatku dengan tatapan curiga. Haha…

Terima kasih untuk kalian yang telah berusaha. Semoga sukses untuk semuanya.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar