16

Sanksi Bermain (+6)

abd karim ismail May 16, 2013

Jam pelajaran IPA pun tiba. Hari Rabu, 15 Mei 2013. Saya masuk ke kelas VIII-2 dengan wajah yang serius. Sesaat  saya duduk di kursi guru, ketua kelas menyiapkan kesiapan belajar dan berdoa sebelum belajar. setelah itu, saya memulai memulai pembelajaran. Materinya adalah tekanan udara. Setiap kenaikan posisi dari di ukur dari permukaan laut sebesar 100 m, tekanan udara turun menjadi 1 cmHg.

Persamaan yang digunakan adalah P = Po-h

P= tekanan udara (cmHg)

Po= tekanan udara normal , 76 cmHg

h= ketinggian di ukur dari permukaan laut (m)

setelah saya menjelaskan konsep diatas saya memberi contoh soal.

Kota jeneponto berada pada ketinggian 200 m dari permukaan laut. Hitunglah tekanan udara di kota tersebut !

saya pun memberi cara menjawab dengan menggunakan persamaan di atas.

Diketahui:

h= 200 m = 2 cmHg, Po= 76 cmHg

Ditanyakan : P :….?

P = Po -h = 76cmHg-2 cmHg= 74 cmHg. jadi, tekanan udara  di kota jeneponto sebesar 74 cmHg.

setelah itu, saya memberi 2 soal yang mirip. Hampir semua siswa bisa mengerjakannya. Kemudian saya memberi soal Kuis,

Kota jeneponto berada pada ketinggian 150 m dari permukaan laut. Hitunglah tekanan udara di kota tersebut !

saya tunjuk langsung siswa yang mengerjakan di papan tulis. Kalau salah, ada sanksinya. saya memberi waktu sekitar 5 menit.

waktu berlalu, saya pun menunjuk. beberapa orang, jawabannya bervariasi, ada yang menyebutkan 6, 1 cmHg, 63 cmHg, dan 74,5 cmHg. saya heran juga kok bisa terjawab 6, 1 cmHg. saya pun memberi sanksi kepada siswa yang menjawan salah tadi.

Saya panggillah siswa ke depan teman-temannya. saya memberi sanksi, saya memberi instruksi. Sanksinya, tepuk tangan 2x, atas dan bawah,tepuk tangan atas bersuara ayam, dan tepuk tangan bawah bersuara bebek.

siswa tersebut bertepuk tangan, teman-temannya pun tertawa termasuk saya melihat ekspresinya. suasana kelas menjadi riuh. tepuk tangan itu saya instruksikan berulang-ulang dengan gaya sendiri, setelah kondisi terhibur, siswa tersebut boleh kembali ke tempat duduknya.

Perkiraan awal mereka sanksinya berat dan menakutkan tapi ternyata begitu saja.

siswa

Kelemahan mereka ada di perhitungan matematis. sebab klasik. namanya guru, jika tujuannya ingin mencerdaskan, belajar bersabar untuk menanti perkembangannya, dengan nilai, etika, agama dan intelektualnya. maju guru dan generasi!!!

 

 

 

Tagged with:

Comments (16)

  1. Maaf Pak Guru, saya sepertinya tidak sependapat bahwa hukuman malah meningkatkan kemampuan siswa untuk mengerjakan soal, tentu saja tidak semua siswa kita pandai matematika dan itu menjadi salah satu “kekesalan” guru ilmu alam. Nah, seandainya belajar tanpa diberi sanksi, ketakutan belajar ilmu alam akan menjadi efek positif bagi mereka,
    misalnya dicoba dengan penerbangan balon udara atau yang kegiatan eksploratif lagi yang lebih menyenangkan dan maaf pak Karim ada kesan sepertinya “menghukum” justru mempermalukan siswa padahal kita menginginkan mereka menguasai materi yang kita ajarkan? Dan seandainya saya menjadi siswa, saya akan mengalami luka hati dan tentu saja semakin tidak menyenangi pelajaran ini
    Sekali lagi maaf jika bapak tidak berkenan dengan komentar saya

  2. bapak rudi jauh lebih senior dari saya .. tntu ilmu tntng hal pmbeljran jauh d bndng sya. mungkin uraian d atas bgtu singkat jadi menimbulkan perspsi ngatif. Kondisi bapak yang kmntrkn seseungghny tdak seprt yng trjd d lpangn. tntunya sanksi itu tdaklah trs dlakukn, trgntng kondsi… kondsi d wlayah bapak dgn kndsi d wlayah dgn stts jnjang yang sama pastlah beda. mnurtku, trgntng guru tknk pmebrian instrksi dan ekspresi serta konds klas saat itu, kmarn itu memungknkan… sswa pun menikmati dan malah minta lagi soal dgn sanksi dmikian. bapak mngkn tdak prcya kn… kesan guru fisika yang slama ini galak.. q redam… terima kasih bapak brknan komntar, mhn brbg ilmu dan pnglaman,, qbaru 3 thn mnjd guru aktf… q ingat pesan dosesn dulu… GURU YANG BERWIBAWA DAN BERSAHABAT.. slama ini saya sring tur k rmah siswa .. .. mhn berbagi.. sya senang d kritk…

  3. untk cnth konsp, q bnyak beri di apersepsi.. maaf klo uraian d atas mnimbulkn slah tanggpn.. brikutnya kn lbh d detailkan… terma ksh.. mga qt mnjd guru yang mngajr bukn untk akdemi bdang.. tp sgla aspk khusunya pennaman nilai.. bravo guru trtama FISIKA.. hehehe

  4. Pak Karim yang saya banggakan, bukan karena senioritas atau apalah sebutannya tetap saja kesan yang melekat, terlepas dari status jenjang atau wilayah, kita masih sebagai bagian NKRI dan kerangka kesatuan bangsa. Salah satu kerangka kesatuan dalam filosofi yang paling sederhana adalah kesejajaran dan saya semakin prihatin jika dari belia, siswa jenjang ini diberi sanksi dan sanksi ini malah semakin disukai? wah wah wah, saya takutnya mereka suatu saat menyenangi kekerasan sebagai hiburan dong pak, walaupun “kekerasan” yang saya maksud adalah sanksi bagi mereka untuk bernyanyi, berlenggak lenggok atau apapun kesannya untuk hiburan. Mengapa tidak disebut saja mempertontonkan kebolehannya selain dari kata sanksi? Sanksi itu sendiri dekat dengan akibat dari kelalaian atau hukuman? Jika minta soal lagi dan ganjarannya yang menjawab salah adalah disuruh bernyanyi dan lain sebagainya, mengapa mereka tidak disuruh menyanyikan pelajaran fisika saja dalam lagunya (hukuman yang menghibur dan tidak merasa terhukum, bukan?)
    Guru fisika yang galak itu baru kesan pertama, kesan berikutnya semakin “menggoda” mereka untuk semakin mengetahui “galaknya” sang guru.
    Semoga ini menjadi dasar diskusi kita biar seru 😀

  5. barangkali, perlu dipahami juga bahwa sanksi itu melekat untuk kesalahan atau kelalaian. Kalau ‘ketidakbisaan’ sepertinya bukan sanksi yang tepat untuk diterapkan. Tapi apa, ya…….mungkin Pak Rudy lebih tahu. Mohon pencerahan.

  6. ttap sj namanya sanksi.. biar rme kmntarnya.. hahaa…. spay rame kn ada hal yg unik dan kontra d dlamnya… sy sbnrny brhasil mmancing ini.. hehehe…. makasih… tp ttap buth ilmu dr senior yang paham sprt pak rudi ini…. saya prbadi suka variasi n mncoba bbrapa model dan strtg mngajar dgn mngkondisikannya

  7. saya sependapat dengan Pak Botaksakti, kalo sanksi memang melekat dengan hukuman 😛
    dan memang kontroversi sih caranya, btw untuk menarik minat pembaca sanggup mengucur komentar panjang dan cenderung ekstrim 😀
    kami berdua pak botaksakti sanggup kog memenuhi box posting ini dengan komentar lain :-))
    jika ketidakbisaan dapat menjadi indikasi untuk diperbaiki, bukankah kita bisa menerapkan metode Montessori kemarin sekalian memodif pengajaran, tapi saya yakin Pak Karim bisa menemukan kelemahan dari Sanksi ini untuk menjadi lebih bermakna, manusia dan akhirnya Humanis untuk memanusiakan manusia pembelajar

  8. ibarat org mkan d ats hdangan.. smua ada porsinya.. ada syurnya.. ada lauknya.. ada nasinya// ada buah dan minumannya… mngjar pun sy kra dmikian… srius ada, ktgasan ada, canda tawa pn ada.. intinya adlah pmblajaran bkan pngajaran smata…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar