1

SANG TROUBLE MAKER (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto November 19, 2020

Abdullah Hasan Al Faruq. Nama yang indah. Seindah harapan orangtuanya padanya. Tapi jangan tanya tingkah lakunya. Semua guru angkat tangan menghadapinya. Yang bandel lah, yang suka bolos lah, yang tidak hormat pada guru lah, yang tidak pernah mengerjakan tugas lah, tidak bawa buku lah, dan sederet keluh kesah lain dari para guru.

Aku pun pernah sakit hati sampai tersulut amarahku di kelas karena anak ini. Gara-garanya dia tidak mau mengerjakan tugas yang kuberikan, malah menyepelekanku dan mempengaruhi teman-temannya untuk tidak mengerjakan tugas. Ugh, rasanya pengen kutonjok saja anak ini, kuremas-remas bagaikan kertas. Tapi kan dia anak orang. Bapak ibunya pasti tak terima kalau kusentuh sedikit saja ujung rambutnya.

Akhirnya kutinggalkan kelas itu dengan gemetar menahan marah. Pengennya sih jangan pernah masuk ke kelas ini lagi deh. Agar aku tidak bertemu lagi dengan anak yang menyebalkan itu.

Tapi nyatanya. . . .setahun berikutnya malah aku yang ditunjuk jadi wali kelasnya di kelas enam. Kata Ustadzah Djuwita, kepala sekolahku, beliau percaya bahwa aku bisa mengatasi Hasan.

Mau tidak mau, suka tidak suka aku akan bertemu Hasan setiap hari. Harus menghadapi tingkahnya yang menjengkelkan itu. Tetapi aku sudah menerima amanah ini. Aku harus bisa menjalankan amanah ini dengan sepenuh hati.

Maka dimulailah petualanganku menghadapi Hasan. Pertama kucoba dengan mengubah cara pandangku terhadap dia. Kucari kelebihannya. Dan kuubah strategiku menghadapi siswaku di kelas. Jika sebelumnya aku sering marah-marah menghadapi kelas ini, maka sekarang aku mencoba lebih bersabar. Tidak lagi dengan amarah.

Ternyata setelah aku mengenalnya, banyak sekali kebaikan yang kulihat pada diri Hasan. Dia anak yang penuh kasih sayang. Dia paling suka jika aku meminta tolong padanya. Kalau aku mengajak Zaky, anakku, ke sekolah, dia yang paling bisa momong. Mungkin selama ini dia hanya ingin mencari perhatian saja dengan bertingkah yang menyebalkan.

Dengan pendekatan yang intensif itu, kini Hasan mulai mengurangi kesenangannya untuk bolos. Jika di awal masuk dia seakan punya jatah untuk bolos minimal sekali dalam sepekan, akhirnya jatah bolos itu hilang dengan sendirinya. Tugas juga mulai dikerjakan. Rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit mulai tumbuh. Aku memang bukan tukang sulap yang bisa mengubah segalanya dalam sekejap mata. Tetapi aku yakin Allah akan menolongku. Dalam setiap do’aku, kusebutkan namanya secara khusus, agar Allah melembutkan hatinya.

Ternyata diriku pun menjadi sorotan bagi Hasan. Lewat ibunya aku tahu Hasan mengagumi diriku. Dari caraku berbicara maupun berpakaian selalu jadi bahan obrolan dengan ibunya. Menurutnya, jadi guru itu harusnya seperti aku. Tegas namun lembut dalam memperlakukan anak-anak di kelas. Disiplin tetapi juga punya rasa humor. Alhamdulillah, jika sesuatu dilakukan dengan hati maka hati pula yang akan berbicara. Rupanya hati kita sudah bertaut.

Saat perpisahan pun tiba. Semua kelas sibuk mempersiapkan tampilan untuk perpisahan kelas VI. Hasan mengusulkan sebuah lagu yang isinya benar-benar membuatku terharu. Lagu Oh Guruku itu adalah permintaan Hasan, yang ingin mempersembahkan lagu itu bagi guru-gurunya. Dia merasa selama ini sudah sering berbuat kesalahan dan ingin meminta maaf lewat lagu itu.

Melihat Hasan tampil di panggung bersama teman-temannya aku terharu, ingin menangis. Si Trouble Maker itu kini sudah berubah. Aku yakin dia akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Dia akan menjadi seseorang yang sesuai dengan impian orang tuanya. Dia juga telah membuatku banyak belajar.

Kabar terakhir yang kuterima, si Hasan ini mendapat beasiswa untuk belajar agama di Aljazair selama 4 tahun. Dia dijadwalkan berangkat bulan Syawal ini. Beberapa hari yang lalu dia inbox aku. Menanyakan kabarku dan minta do’a restu untuk keberangkatannya ke Aljazair. Aku terharu sekali. Ulat itu telah berubah menjadi kupu-kupu. Dia siap menebar manfaat bagi sekitarnya.

Terima kasih, Nak. Kami memang gurumu, tapi kami masih harus banyak belajar darimu. Jika kau adalah anak surga, maka kamilah sang pemburu surga.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar