2

Saling Menghargai (0)

Supadilah S.Si April 19, 2021

Apa yang ingin kita rasakan dari perlakuan orang lain? Bukankah kita ingin dihargai? Hampir tak ada orang yang tidak mau dihargai. Betul?

Lalu, bagaimana caranya agar orang lain menghargai kita? Ah, saya rasa semuanya sudah tahu jawaban itu.

Seperti yang sudah kita dengar sejak dulu, ada ungkapan, kalau ingin dihargai, maka hargai dulu orang lain. Benar?

Kalau seperti ini mah nggak perlu diingatkan. Soalnya kita sudah pada tahu. benar, Kan? Ah, anak kecil saja pasti sudah mengerti.

Ya, sejak dulu kalimat ini kita dengar. Tapi, sering susah praktiknya. Sesusah kita tahu bahwa membuang sampah sembarang itu tak baik. Tapi masih kita lakukan juga.

Namun, agar sesuatu itu bisa menjadi sikap atau karakter, perlu dilatih dan diulang – ulang. Mungkin ilmu ini sudah tahu. Seiring berjalannya waktu dan kesibukan kita, biasanya kita lupa.

Pegang erat kata-kata dan respon yang baik untuk kita berikan pada orang lain. Sejak dari pikiran hendaknya diperhatikan betul.

Begitulah. Saling menghargai. Dua kata yang ringan diucapkan tapi berat dalam pelaksanaan. Bahkan jika itu adalah orang yang paham teori-teori bersosialisasi, seorang guru, atau seorang ustadz.

Tokoh terakhir saya sebut, saya anggap penting. Ya, sosok ustadz pastilah tahu mengenai ilmu-ilmu kehidupan. Misalnya berbuat baik pada sesama, menjaga perasaan, atau semisalnya. Lalu, kenapa masih ada sosok yang dianggap paham itu lalai dalam hal saling menghargai? Tentu jawabannya sangat kompleks. Jawabannya bisa beragam. Dari orang yang berbeda, ada jawaban berbeda. Benar, kan?

Mungkin saat itu perasaannya sedang tidak enak, sedang ada masalah, atau banyak yang dipikirkan. Lha, kalau begitu harus ada satu pihak yang memahaminya.

Sebagai penutup, saya tuliskan satu kalimat, “perlakuan orang lain seperti orang lain itu diperlakukan”. Itu sederhana. Kalau orang lain ingin dihargai, maka hargai dia. Kalau orang lain ingin diberi respon sopan, berilah respon sopan itu. Tidak bisa kah kita memberikan respon sopan barang sedikit saja? Toh bersikap sopan bukanlah karakter yang menguras energi yang banyak. Bawalah sedikit pemikiran pada reaksi kita.

Mari berhati- hati pada respon sebab bisa saja menimbulkan keanehan, kegundahan, salah paham, dan bahkan pertengkaran. Apalagi jika pada orang yang tidak kenal betul dengan karakternya. Bisa-bisa memicu perselisihan. Ada kalanya kita harus benar-benar memahami apa baik dan buruknya atas respon kita.

Ibaratnya rambut sama hitam, tapi isi kepala siapa yang tahu? Maka hindari reaksi yang bisa menimbulkan kesalah pahaman.

Memang hal ini tidak mudah. Jika belum menjadi karakter, hal ini memerlukan pembiasaan. Pembiasaan yang belum tentu satu atau dua kali menjadi karakter tetapi harus dilakukan secara terus menerus. Selamat mencoba menjadi pribadi yang saling menghargai.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar