3

Saat mereka memberikan rasa kecewa (+1)

Okky Fajar Tri Maryana December 27, 2013

 

Sahabat guru, pada dua tulisan sebelumnya saya bercerita tentang rasa bangga ketika kita sebagai guru mendapat kabar tentang keberhasilan salah seorang siswa kita.

Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit menyampaikan sebuah pandangan diri ketika saya sebagai guru mendapatkan kabar kebalikan dari rasa bangga kita. Maka, tulisan ini saya beri judul.

Saat mereka memberikan rasa kecewa.

Seperti itulah kira-kira.

Judulnya sepertinya agak-agak memberikan kesan kesedihan berat ya sahabat? Seperti sebuah ungkapan para pesimistis dan menyerah terhadap nasib. Ungkapan ketidakberdayaan. Ungkapan keluhan.

Padhal sesungguhnya tidak.

Semoga saya cukup baik dalam memberikan sedikit pandangan saya. Sebuah pandangan optimis, agar…

Agar saya tetap bersemangat sebagai pendidik dan saya merasa memiliki teman dalam berbagi rasa dan menghadapi ujian sebagai pendidik, sekarang mau pun waktu yang akan datang.

Saya terkadang mendengar kabar tentang murid-murid saya yang kini tidak diajar lagi oleh saya. Entah ia masih menginjakkan kaki di bangku SMA atau sudah memasuki masa kuliah. Nah, kabar yang diterima ini beberapa sangat tidak enak di dengar. Tentunya saya harus memastikan kebenaran kabar tersebut. Setelah kabar tersebut benar. Saya hanya terduduk lemas.

Terkadang pikiran saya kembali ke belakang. Mencoba mengingat saat-saat kebersamaan kami di sekolah. Saat ini masih menginjak remaja.

Beberapa guru yang mendengar kabar tersebut pun hanya bisa menarik nafas panjang.

Tak semua murid kami menjadi sesuatu yang dibanggakan. Ada pula yang terjatuh.

Sumber Gambar : favim.com

Kami terkadang merasa iba dan prihatin, mengapak si anak ini bisa demikian adanya. Akhirnya banyak bermunculan pikiran negatif di antara kami.

Memang butuh waktu agak lama untuk saya mencerna perihal ini semua. Dan pada akhirnya saya sampai pada sebuah pandangan dimana pandangan ini saya juga sampaikan kepada kawan-kawan guru di sekolah dan setiap murid yang sering berbagi curahan hati kepada saya. Melalui pandangan ini, saya berharap agar saya dan teman teman guru tetap mendapatkan semangat positif selama menjalani profesi sebagai pendidik.

Bahwa, melalui kabar-kabar kurang baik tersebut setidaknya mendatangkan banyak hikmah pada saya. Pertama, saya harus memohon ampun pada-Nya atas segala metode didikan yang saya terapkan. Bisa jadi saya keliru mendidik anak tersebut dahulu. Atau bahkan saya telah berkontribusi terhadap pemahaman yang keliru yang ada padanya. Hanya kepada-Nya lah saya memohon ampun dan meinta petunjuk.

Kedua, semakin memotivasi saya agar lebih berhati-hati dalam mendidik dan lebih bersemangat untuk menambah ilmu tentang bagaimana mendidik yang tepat untuk mereka.

Ketiga adalah, bahwa saya tidak boleh merasa sombong.

Setiap kehidupan anak manusia, Allah SWT-lah yang memegang. Mungkin ia saat ini sedang terjatuh, tapi nanti pada akhirnya kita tidak tahu. Saya juga tidak boleh munafik, bahwa mungkin kenakalan-kenakalan yang murid saya lakukan itu adalah apa yang telah menjadi masa lalu bagi saya dahulu ketika seusia mereka.

Untuk itulah saya hanya bisa mengedepankan doa agar saya dan murid saya itu diberikan akhir yang bahagia dan dalam rangka menuju kebaikan. Bukankah Allah SWT mengingatkan kita agar kita memperhatikan kehidupan di akhir hayat kita? Agar kita mati dalam keimanan yang benar kepada-Nya. Maka syurga untuk kita. In syaa Allah

Sekali lagi saya hanya berdoa.

Akirnya…

Saya memiliki sebuah pikiran positif yang membuat saya tidak putus harapan dan bersemangat kembali untuk mengetuk pintu tiap-tiap kelas di mana anak-anak telah menunggu di baliknya dengan senyum khas mereka.

 

Saat mereka memberikan rasa kecewa. Saat itu pula saya berusaha memberika doa kepada mereka. In syaa Allah.

 

Semoga menjadi share yang bermanfaat…

 

 

 

 

 

 

Tagged with: , , , ,

Comments (3)

  1. Bagaimanapun,manusia itu ‘isna’.Ada dua sifat di dalam dirinya,sifat malaikat dan sifat iblis.Kalau mau baik, silakan tiru sifat malaikat, kalau mau buruk tirulah sifat iblis. Keduanya disediakan include oleh yang Kuasa,dan kita tinggal memilih.Tugas kita memberikan wawasan itu kepada anak-anak, dan bagaimanapun “Anakmu bukanlah anakmu” kata Kahlil Gibran 😀 Salam!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar