0

Ruqyah Jarak Jauh Tidak Ada (0)

Dedi Natadiningrat April 24, 2022

Bismillah wal Hamdulillah. Sebelum kita menanggapi mengenai hukum ruqyah jarak jauh, kita harus memahami makna ruqyah dengan baik, agar kita tidak salah persepsi atau salah paham. Ruqyah menurut bahasa adalah bacaan, mantra atau ilmu nujum. Makna ruqyah dalam bahasa ini ada 2 macam. Khususnya ruqyah syar’ iyah (Islami) serta ruqyah syirkiyah (nama pena yang tidak islami bernuansa syirik). Karena ada bacaan atau konsep yang signifikansinya tetap sesuai dengan syariat Islam, ada pula yang kontradiktif.

Adapun ruqyah menurut ketentuan syariat Islam adalah “Memeriksa yang terdiri dari orang-orang yang berilmu Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang shahih, memohon kesembuhan kepada Allah dari gangguan yang ada, atau memohon kepada-Nya keselamatan dari kejahatan yang terjadi. datang atau sedang stres.” Inilah pengertian ruqyah menurut syariat Islam atau jenis amalan ruqyah yang diperbolehkan oleh Nabi. Ruqyah dalam arti bahasa sebenarnya sudah ada mengingat zaman dahulu, sebelum Muhammad diutus sebagai nabi sekaligus rasul, ada juga yang menyatakan bahwa keberadaan ruqyah sejalan dengan keberadaan manusia. di bumi ini.

Ruqyah dan juga Do’a

Ruqyah jika secara syar’ iyah mengandung makna seperti shalat. karena dengan membaca ruqyah, peruqyah berdoa atau memohon kesembuhan untuk masalah kesehatannya sendiri atau masalah kesehatan orang lain, kesembuhan akan datang dari Allah. Padahal jika dilihat dari pelaksanaannya dan juga tenaganya, ruqyah jauh lebih pasti daripada doa. karena petisi jauh lebih mendasar dan lebih komprehensif definisinya daripada petisi.

Maka dalam publikasinya, Syekh Ibnu Taimiyah rahimahullah mengemukakan bahwa ruqyah lebih pasti dari shalat: “Ruqyah berarti meminta keamanan. Al Istirqa ‘ adalah meminta dirinya untuk diruqyah. Ruqyah adalah bagian dari shalat.” (Publikasi Majmu’ul Fatawa: 10/195).

Syekh Nashiruddin al-Albani rahimahullah menetapkan Ruqyah sebagai berikut: “Ruqyah adalah permohonan yang diperiksa untuk meminta pemulihan yang berisi Al-Qur’an serta hadits otentik Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. diperiksa oleh seseorang yang mengandung kata-kata yang berima atau kalimat yang tidak mengandung unsur kufur dan syirik, setelah itu termasuk dalam ruqyah yang diharamkan.” (Kitab Dhaif Sunan Tirmidzi: 231).

Jadi jika ruqyah dianalisa secara ekstra luas itu menunjukkan doa. Seperti halnya dalam mendoakan orang, kita bisa mendoakan mereka dari jauh atau dari kejauhan. Juga sholat jarak jauh yang tidak diketahui orang yang kita doakan jauh lebih efektif atau jauh lebih efektif, karena termasuk dalam sholat ‘an zhohril yang tidak terdeteksi seperti yang dinyatakan Nabi dalam haditsnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang kekurangan (tanpa sepengetahuannya, pena.) mengambil, di atas kepalanya ada malaikat. Setiap kali dia mendoakan saudaranya dengan manfaat, malaikat itu yang dikirim klaim: ‘Amin, dan tampaknya Anda (seperti orang yang diharap, pena.).” (SDM. Muslim).

Namun aktivitas meruqyah jauh lebih pasti daripada aktivitas mengharap, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Taimiyah, rahmatahullah. Sehingga perawatan untuk penerapannya juga memiliki perbedaan selain memiliki banyak kemiripan juga. Di antara perbedaannya adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan terapi ruqyah lintas negara, atau tidak berinteraksi langsung dengan orang yang melakukan ruqyah.

Metode Nabi Meruqyah

Bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meruqyah berbagai individu lain, apakah itu anggota keluarganya atau teman baiknya yang bersangkutan untuk meminta ruqyah? Dia meruqyah mereka dengan interaksi langsung, memuaskan dan secara pribadi, secara pribadi. Dalam beberapa kasus dia bahkan berdampak pada orang yang ruqyah atau memukulnya. Jika kita melakukan ruqyah lintas negara, tentunya latihan kita tidak bisa mengikuti apa yang telah beliau ungkapkan. Lalu apakah kita mematuhi ruqyah jika kita tidak mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Mari kita pertimbangkan beberapa yang mengikuti sejarah. Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata, “Pembawa Allah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika ada anggota keluarga yang sakit, ia berimbas dengan membaca al-Mu’ awwidzat (surat jaminan). As begitu juga ketika dia sendiri sakit pada saat kematiannya, maka akulah yang meruqyah. Lalu aku meniupnya tepat ke tangannya, dan memijatnya di sekujur tubuhnya, karena tangannya lebih diberkati daripada tanganku. .muslim).

Dalam sebuah riwayat asli, diceritakan: Ketika seorang temannya bernama ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallohu’anh, yang sebenarnya dia tugaskan sebagai Da’i (pengkhotbah) di daerah Thoif, melibatkan Medina, dia heran dan bertanya. tentang kedatangannya. Dia bertanya, “Kamu adalah Ibn Abil ‘Ash?’ Saya menjawab, ‘Ya, wahai Pembawa Allah!’

Dia bertanya sekali lagi, ‘Apa yang membawamu ke bawah?’ Saya menjawab, ‘O CaDemi Allah, aku mengalami gangguan dalam shalatku, sehingga aku tidak mengetahui analisis shalatku’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itulah musuh, mendekatlah ke bawah’. Jadi saya mendekatinya, dan saya juga beristirahat di telapak kaki saya. Dia memukul tubuh bagian atasku dengan tangannya, dan juga pertengkaran di mulutku sambil berkata, ‘Keluarlah, wahai lawan Allah!’ Dia mengulanginya 3 kali. (Ibn Majah, no. 3538).

Selama itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Utsman wadah Abil ‘Ash sebagai juru dakwah ke Taif, serta jarak Madinah ke Taif ada hubungannya dengan 500 Kilometer. Ketika Utsman dalam kondisi setan, ia tidak hanya menulis surat kepada Nabi dan juga meminta diruqyah yang jauh, tetapi ia terlibat memuaskan Nabi di Madinah. Sesaat sebelum Rasulullah, dia diminta oleh Rasulullah untuk lebih dekat, untuk memastikan bahwa tangan Nabi dapat menyentuh bagian atas tubuhnya untuk memastikan bahwa ia dapat memukulnya.

Itulah teknik Rasulullah ketika meruqyah para sahabatnya.Demikian pula pendekatan Nabi ketika meruqyah anggota keluarganya, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah dalam hadits di atas. Kedudukan Rasulullah dengan orang yang ruqyah sangat dekat, agar bisa meledakkan rumah tangganya yang sedang ruqyah, tidak berjarak beberapa meter di antara keduanya, apalagi jauh. Dan Aisyah juga melakukan hal yang sama ketika meruqyah Rasulullah, jaraknya dekat, juga sangat dekat, sehingga dia bisa meniup tangannya dan kemudian menggosokkannya ke tubuhnya sendiri.Ruqyah Lintas NegaraMeskipun saat ini banyak peruqyah yang sebenarnya telah melakukan ruqyah jarak jauh, baik melalui telepon, skipe, jaringan 3G, telekonferensi, telepati, menggunakan gambar, melalui pakaian orang, melalui rambut, atau melalui teknologi maupun media magis semacamnya.

Alasan mereka biasanya untuk memanfaatkan fasilitas teknologi yang ada. Atau karena keterpaksaan serta ketidaklayakan untuk bertemu klien secara individu. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dengan metode ruqyah lintas negara, banyak klien mereka yang dikatakan sudah benar-benar sembuh.

Saudara-saudara yang dimuliakan Tuhan, kesembuhan bukanlah kewenangan kita melainkan kewenangan Tuhan. Kita tidak perlu menjadikan penyembuhan pasien sebagai legalitas yang diperbolehkan (baca; halal) dari teknik kita dalam merawat pasien. Karena jika itu kriterianya, maka suatu peraturan pasti akan rusak dan parameternya menjadi kabur.

Lihat, beberapa individu dukun pulih, banyak klien paranormal yang sukses, beberapa koruptor kaya. Yang kita lihat bukanlah hasil, melainkan alat dari pekerjaan kita dalam melakukan terapi (meruqyah).

Apakah berdasarkan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sehingga ruqyah kita terdiri dari ruqyah syar’ iyah.Sepengetahuan penulis, tidak ada satu-satunya perbedaan pendapat–baik dari Al-Qur’an maupun al-Hadits– yang memungkinkan terapi ruqyah jauh. Karena tidak ada ruqyah yang diperagakan Rasulullah dari jarak jauh. Di sisi lain, ruqyah yang ditunjukkan Nabi adalah jarak dekat atau interaksi lurus. Sehingga dapat diketahui kondisi pasien.

Jika kita perlu untuk meniup, kita meniup. Jika mereka perlu ditepuk punggungnya, kami akan menepuknya. Jika perlu untuk mendorong komponen sarang si jahat, kami akan mendorongnya. Kalau perlu ditiup atau dicipratkan, kita tiup. Atau aktivitas lain yang sebenarnya pernah dilakukan Rasulullah saat meruqyah.

Pemikiran Akhir Perundang-undangan Ruqyah Lintas NegaraJika kita mempertimbangkan argumen di atas. Kita dapat mengakhiri bahwa ruqyah jarak jauh tidak memiliki contoh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain situasi darurat sebagai pertolongan pertama, karena hasilnya kurang ideal.

Seharusnya kita tidak mampu melakukannya, jika kita mengaku ruqyah kita adalah ruqyah syar’iyah. Padahal, yang biasa memberikan contoh ruqyah (baca; terapi) jarak jauh adalah para tabib, paranormal yang sebenarnya jauh lebih dipahami sebagai antek-antek setan. Jin (jahat) yang akhirnya menjadi penengah di antara terapis dan juga individu yang jauh terpisah. Wallohu a’lam.

Referensi : Benefits Ruqyah In Islam, Ruqyah Jarak Jauh

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar