5

Ringan Dalam Pengucapan, Namun Begitu Berarti Dalam Pergaulan (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 7, 2020

“kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing….kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing..!!!!!”


Jam weaker ku kembali berbunyi untuk yang kesekian kalinya.
Tapi, belum jugaku bangun dari tidurku yang begitu nyaman. Maklum, semalaman seabrek tugas kuliah menemani malamku kali ini. System kebut semalam adalah hal yang biasa bagiku untuk mengerjakan tugas dari dosen killer ini. J

teelooleet….teelooleet…!!

Ponselku berbunyi, tangan ku mengais-ngais tempat tidur untuk mencari keberadaan ponselku. Dengan mata yang masih terpejam menahan kantuk yang begitu dalam, akhirnya ku temukan.

“apaaaa.???? Jeritku, mataku terbelalak melihat ini. Cepat-cepatku beranjak dari tempat tidurku, aku terlambat lagi.

***

Namaku jasmine, aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan alhamdulillah aku berada didekapan orang-orang yang shaleh. Tempat tinggalku berada dilingkungan pesantren dan sangat memahami agama, inilah yang membuatku rindu akan kampungku. J

Kehidupan baruku dikampus membuatku jauh dan lupa kepada sang pencipta, sangat berbeda ketika dikampungku dulu. Berubah seratus delapan puluh derajat. Dari pakaian yang ku gunanakan bermula sangat longgar dan nyaman, lama-lama menjadi semakin menyempit, kerudung yang ku pakai lama-lama semakin mengecil.

Bermula, saat aku mulai memasuki dunia kampus. Saat itu aku merasa aneh, temanku mengatakan,

 “ wooooooooooy, ambilin buku itu dong…!!!” Teriak syafa, teman sekelasku kepadaku.
“ iya syafa” jawabku sambil mengangguk tanda setuju.
Aku sangat senang membantu orang lain, walau terasa aneh ditelingaku mendengar perkataannya tadi.
“ ini syafa bukunya” kataku sambilku sunggingkan senyuman tanda pertemanan.
“emm, iya taruh saja disitu” jawab syafa tampa ragu.

Hatiku sangat miris ketika itu, kata-kata yang seharusnya aku dengar benar-benar hilang disini, saat ini, dikehidupan baruku.

***

Saatku mulai menjajaki dunia luar, aku ikut terjebur di dalam nya. Seperti yang ku katakan tadi, perubahan yang sangat signifikan dalam hidupku. Dari pakaian, berbicara, dan masih banyak lagi.
Sepertinya, aku memang telah dirasuki oleh gaya hidup baru.

Waktu semakin cepat, hari demi hari ku lewati kehidupan ini, di kampusku tercinta. Memang tak bisa ku pungkiri lagi, rasanya aku tak bisa mengelak lagi dari keadaan yang seharusnya aku tak masuk didalamnya.
Aku benar-benar sudah terbiasa dengan lingkungan baruku, di fikirankupun aku merasa ini wajar-wajar saja dan memang sudah jamannya berubah. Hmm….

“jasmine… Jasmiiiiine…!!! Teriak temanku balqis, dari depan pintu kosanku.
“ iyaaaaaaaaaaaaaaa, tunggu sebentar lagi”!! Teriak ku juga dari dalam kosan…

***

Hari demi hari ku lewati semua ini, tampa menyadari sikap dan perilakuku yang jauh dari hukum islam.
Benar-benar, sudah jauh dari tata krama islam, dan akupun sudah tak menyadarinya lagi.

Akhir semester pun mulai datang, mulaiku tata baju-baju yang harus ku bawa pulang.

“ ini saat yang gue tunggu-tunggu, liburan semester” kataku kegirangan.

Maklum, ini liburan pertama buatku pulang kerumah. Rasa rindu yang membuncah pada ayah, ibu serta kakak-kakak ku tercinta dikampung halaman.

“teeeeelooooolet…… Teeloooleeet……!!!!

Ponselku berbunyi. Aku pun lekas mengambil ponselku.

“pasti dari ayah” fikirku.
Cepat-cepat ku tekan tombol terima dari ponselku.

“ halooo, ayah ya,??” Tanyaku girang.

“ aslamualaikum, hmm…… Lupa ya dengan salam.,??? Kata ayahku diseberang sana.

Akupun terdiam, sedikit menusuk hatiku. Tapi, akupun kembali melanjutkan percakapan ini. Rasanya tak mau dilanjutkan lagi pembahasan sebelumnyaa, akhirnya akupun memulai percakapan dengan bahasan baru.

“ayah, kapan ayah jemput jasmine.???” Rengekku.

“ iya, ayah sudah sampai dikampusmu. Tapi ayah tak tau dimana kosan mu jasmine.” Terang ayahku.

“ oke akan jasmine jemput ayah disana. Tunggu sebentar iya yah.” Jawabku senang.

Akhirnya akupun pulang bersama ayahku,

“benar-benar tak sabar lagi ingin makan masakan ibu,” hatiku bernyanyi riang.
Sesampai dikampung halamaanku, dengan melewati berbagai pepohonan yang sangat indah dan sejuk. Hatiku gemetar, saat aku melewati para santri yang berpakaian rapi dan anggun itu.
Entah maalaikat apa yang merasuki ku, hingga aku malu pada diriku sendiri karna perubahan yang ku dapat di negri orang.

“ ibuuuuuuuuuuu” panggilku dan berlari masuk rumah tanpa mengucap salam.

“ aslamualaikum jasmine, kenapa lupa dengan salam mu” papar ibu dengan lembut.

“maaf ibu, aku sangat rindu pada ibu. Makanya aku lupa mengucap salam” elakku pada ibu.

“salam adalah ucapan do’a kepada sesama muslim, itu harus kamu tanamkan disini maupun diluar” nasihat ibuku.

“ iya ibu” J

Setelah beberapa jam dirumah rasanya berbeda, akupun mulai berfikir keras. Apa yang selama ini aku lakukan salah, aku benar-benar sudah terbiasa dengan lingkungan yang mungkin terlupakan juga oleh mereka. Sore hari, akupun ingin mengelilingi kampong halaman ku. Dengan berjalan kaki sambil tegur sapa pada tetangga-tetanggaku, yang memang notabennya adalah masih keluargaku juga.

“assalamualaikum” sapa temanku lisa.
“ wa…wa… Waalaikumsalam” jawabku dengan sedikit gugup.
Ya…salam adalah hal biasa dikampungku, ketika berjalan bertemu siapapun harus mengucap salam.
Ketika baerkendaraan, bertemu sesama muslim pun mengucapkan salam. Aku sangat sedih melihat aku yang sekarang, tak pernah mengucap salam. Masuk kosan teman, memanggil dengan nada dan teriakan yang sangat keras. Berbeda sekali disini, aku menyesal.


“subhanallaah, kapan pulang jasmine.??? Aku sangat rindu padamu, pasti banyak cerita yang kau dapat disana. Ceritakan lah padaku, agar aku juga bisa tau pendidikan yang kau pelajari. Ajarkan lah padaku jasmine” kata lisa membuyarkan lamunanku.

Lisa adalah sosok wanita sholehah yang amat anggun dan sangat baik hatinya. Dia adalah sahabatku sejak kecil dan hingga kini. Parasnya yang cantik dan lembut tutur katanya, terkadang membuatku iri padanya.

“lisa, mari kerumahku akan ku ceritakan semua pengalamanku padamu” jawabku dengan rasa rindu.
“jazakillah, jasmine.”
Lisa pun tersenyum, akupun membalas senyuman itu. J

Akupun kini menyadari, aku lupa kata-kata yang seharusnya aku ucapkan. Terima kasih, tolong, maaf, asalamualaikum, dan masih banyak lagi. Maafkan aku ya rabb, aku benar-benar khilaf atas apa yang ku lakukan.

Hal yang sangat kecil dan sepele pengucapannya, tapi sangat besar pengaruh nya pada kehidupan.
Zaman cepat berubah dan semakin maju, komunikasi semakin lancar hingga jarakpun sekarang sudah tidak menjadi masalah dalam berkomunikasi. Tetapi di zaman modern seperti sekarang ini dalam berkomunikasi sudah banyak orang yang sudah mulai melupakan  kata ajaib itu, padahal kata ajaib ini mampu menjadi jembatan penghubung dan membuka jalur komunikasi yang telah tertutup selama ini.

Akupun mengerti, mulai kutata kembali jiwaku. Hingga aku harus merubah pakaian, perkataan, dan jiwaku kembali, yang mungkin sudah hilang.

“terimakasi ya rabb, engkau memberi hikmah atas apa yang aku alami saat ini. Dan kini aku mengerti.



“ringan dalam pengucapan, namun begitu berarti dalam pergaulan”~ keep istiqomah kawan, dan jangan lupa pada kata-kata ajaib yang sangat berpengaruh pada kehidupan kita ~

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar