4

Review Buku Mimpi Kecil Tita (0)

Supadilah S.Si December 5, 2020

“Tidak ada yang perlu disesali dalam hidup kita, Nduk. Baik atau buruk, lebih atau kurang, bahagia dan juga derita harus kita terima dengan lapang dada.  Bersabar sambil sambil terus tekun bekerja akan jauh lebih baik ketimbang hanya mengeluh tanpa bikin apa-apa” kata Mbah Ti.

Tita kecil harus sudah merasakan ujian hidup.  Di saat Tita kelas 5 SD, bapaknya meninggal dalam kecelakaan sebagai risiko pekerjaan bapaknya. Memperhitungkan biaya hidup, Tita dan ibunya pindah dari Jakarta ke Kulon Progo, Jogjakarta di tempat Mbah Ti. Malang, kesedihan mendalam membuat ibunya menderita tekanan batin. Ibunya diteriaki gila oleh anak-anak sekolah saat berkeliaran di jalanan. Hal ini menimbulkan beban bagi Tita. Kondisi ibunya semakin membuat prihatin. Hidupnya tidak terawat, badannya kurus.

Di suatu pagi, setelah tertidur mal itu, ibunya tidak bangun-bangun lagi. Ibunya meninggal. Tita sedih, tapi tidak menangis. Kesedihan dengan sedikit air mata biasanya sakit dan kehilangan yang dirasa jauh lebih dalam (hlm 21). Sejak itu, Tita hidup bersama Mbah Ti.  Di sekolah yang baru, Tita harus bertemu teman sekelas yang membencinya karena dianggap sebagai saingan. Daya, dia anak guru di sekolah itu. Namun Tita juga bertemu dengan teman yang baik. Doni misalnya. Sosok yang lebih terasa sebagai kakak itu senasib dengannya; yatim piatu.

Merasa berhutang budi, Tita bermaksud membantu meringankan beban Mbah Ti. Apalagi, saat Mbah Ti mengungkapkan sebuah impian. Sejak itu, Tita berusaha mewujudkan impian sosok nenek sekaligus ibunya itu.

Namun Tita malah keliru langkah. Mulai dari menghilangkan uang yang seharusnya digunakan untuk membayar iuran kurban. Tita berbohong, memanfaatkan tindakan tidak terpuji Bu Rusdi, dengan mengatakan uangnya disalahgunakan oleh Bu Rusdi. Simbah yang melabrak guru Tidak, justru dilabrak balik oleh guru ketus itu. Belum lagi, Tita ketahuan mencuri buah melinjo yang membuat Mbah Ti dimarah dan direndahkan oleh pakde Pardi. Tidak tega Tita melihat Mbah Ti dimaki-maki.

Tita berusaha berubah. Dia sangat merasa bersalah. Mbah Ti menerima maaf Tita. “Wajar bila orang berbuat salah. Manusiawi. Asalkan kemudian berani meminta maaf. Tidak perlu malu, Nduk. Tidak usah menangis.” (hlm 79)

Tita bekerja keras untuk mewujudkan impian Mbah Ti. Tita lalu nggaduh kambing. Dia juga rajin mengumpulkan enceng gondok untuk dibuat kerajinan tangan yang lalu dijualnya. Dia rajin menabung, jarang sekali jajan. Makan pun seadanya.

Setelah belasan bulan, akhirnya kambing untuk Simbah Ti kurban sudah siap. Setelah setiap hari, Tita nggaduh. Sepulang sekolah membawa kambing ke tanah lapang atau kebun, mencarikan rumput. Malang, sore itu Tita membawa kambing ke rumput yang terkena sisa pestisida. Kambing yang sudah sekian lama diasuh dan dibesarkannya pun terkapar mati.

Tita pun menerima uang sekadarnya dari nggaduh kambing dari pakde Kardi. Dengan uang itu, ditambah tabungan yang ada di Doni, di malam hari mereka keliling kampung mencari kambing yang pas dengan uang yang mereka miliki. Setelah keliling kemana-mana bahkan ke kampung yang tidak pernah dilewatinya, kambing tidak juga ditemuinya.

Sampai pada akhirnya, dalam kesedihan yang memuncaknya, usai salat id Tita pergi menjauh dari keramaian di musola. Saat itulah Tita melihat seorang petani yang membawa kambing hendak dijualnya untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit.

 Membaca Mimpi Kecil Tita, kita dihadapkan realita kemiskinan yang melingkupi banyak orang di negeri ini. Potret orang-orang serba kekurangan, bertambah menderita dengan dihina. Novel ini penuh cerita kesedihan. Bukan hanya kesedihan yang dialami Tita, tapi juga pada nasib Simbah Ti dan Doni. Banyak pula nilai-nilai luhur kehidupan di dalamnya. Petuah-petuah bijak senantiasa hadir dalam liku ceritanya.

Mbah Ti dan Doni menjadi sosok baik yang menjaga Tita dari kemungkinan melakukan kesalahan dan kepolosan.

 Pesan kuatnya, sesulit apapun kita harus jalani dengan sabar, ikhlas, dan terus berada di jalan Tuhan. Kebencian Daya, Cintya, dan Bu Rusdi merupakan cobaan untuk Tita.  Bahwa niat baik pun harus dilakukan dengan cara yang baik.  Selalu ada yang tidak suka dengan kita. Bersikap sabar sangat dianjurkan.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar