7

Resep Praktis Menangani Anak yang Nakal (+5)

Kusnandar Putra February 26, 2013

Bismillah…
Semua hal ini dirangkum dari beberapa diskusi dengan teman dan guru-guru.

Guru harus membedakan keributan pada saat menerangkan dan mengerjakan soal. Apa maksudnya? Jika murid ribut di saat mengerjakan soal, berarti hal itu ada kemungkinan mereka sedang urung rembuk menggodok soal. Dalam artian berdiskusi. Sehingga, bisa dimaklumi, diskusi itu melibatkan suara, dan suara identik dengan keributan. Oleh karena itu, jangan memusingi di saat hal itu berlansung. Kecuali keributan itu pada saat menerangkan. Berarti siswa itu belum dewasa. Tidak bisa memilah mana perbuatan menghargai dan tidak. Mereka masih menyimpan masa kanak-kanak. Jika itu terjadi, ada beberapa alternatif, diantaranaya:

1.Jika guru menuliskan soal dan mereka cerita di belakang, lakukanlah ini: panggil siswa itu, suruh mengerjakan soal di atas papan tulis. Jika dia sudah naik, perhatikan jawaban, jika salah, katakan, “Kenapa demikian? Soal saja kamu tidak bisa kalahkan! Apalagi kamu mau macam-macam di belakang!”

2.Jika guru menjelaskan, murid berceramah juga di belakang, maka guru bisa mengambil tindakan menyuruh siswa tersebut untuk naik menjelaskan materi tadi. Tujuannya apa? Agar mereka memahami betapa sulitnya mengajar dan tidak enaknya jika tidak dihiraukan.

3.Jika semua tidak memberi efek jera, lakukanlah tindakan akhir, katakan pada mereka, “Tolong tutup pintu di luar!” Tapi bukan saja di situ. Kebanyakan guru akhir-akhir ini hanya memberikan arahan keluar, sementara guru tidak memahami apa yang akan mereka lakukan nantinya di sana. Apakah belajar atau malah mempertajam kenakalan. Oleh karena itu, tambahkan kata-kata seperti, “Tolong tutup pintu di luar! Dan menghadap kepada guru BP.”

4.Bagaimana jika tidak memberikan dampak lagi? Inilah pentingnya sosialisasi bersama keluarga siswa itu. Seharusnya guru menggunakan fisik untuk silaturrahmi ke rumah orang tuanya, membahas karakter siswa itu. Ada sebenarnya yang salah, selalu saja guru yang dipanggil ke sekolah, seolah-olah wacana kenalakan itu hanya diselesaikan di sekolah. Padalah peran rumah siswa juga sangat efektir, guru bisa bebas mendalami silsilah keluarganya. Apakah ada kasus tertentu sehingga berefek pada kelakuan siswa.

5.Jika guru ingin lagi menunjuk siswa, cobalah perintah siswa awal tadi yang menunjuk rekannya. Hal ini agar membentuk jiwa kepemimpinan, “Umar, siapa yang kamu mau tunjuk?” Jika Si Umar takut menunjuk, maka guru bisa mengatakan, “Kalau kamu tidak mau, maka kamu lagi yang naik!” Sehingga Si Umar dengan dalam keadaan terpaksa, ia sendiri harus berani mengambil keputusan menunjuk temannya.

6.Jika siswa meminta bantuan untuk menjawab soal, guru harus berkata, “Loh, kenapa saya yang bantu? Saya kan memberi soal! kalau saya yang bantu mengerjakan. Untuk apa saya periksa. Itu kan sama saja dengan tidak memberi soal!” Dengan demikian, siswa bisa membuka pikiran bahwa bantuan itu bukan dari pemberi soal. Melainkan pihak lain.

Wallohu a’lam

Comments (7)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar