1

Resensi buku kumpulan cerpen “Risalah” (0)

Darwis Kadir December 8, 2020

Resensi buku kumpulan cerpen “Risalah”

Identitas buku

C:\Users\Darwis Albarrui\Documents\foto buku badar.jpg

Judul Buku : Risalah

Penulis : Badaruddin Amir

Penerbit : Gora Pustaka Indonesia

Cetakan :  I / April 2019

Kota terbit : Makassar

Tebal buku : 164 halaman

Ukuran buku : 13 x 20,5 cm

Pemeriksa aksara : Sunarti Sain

Desain sampul : Muhary Wahyu Nurba

Layout : Desain Magrib

ISBN : 978-623-9047-50-4

Risalah merupakan kumpulan cerpen ke tiga dari Badaruddin Amir. Seorang penulis kelahiran Barru yang cukup produktif dalam menelorkan berbagai tulisan seperti kumpulan esai dan puisi yang kemudian dibukukan. Selain itu dia pernah menjadi wartawan di beberapa mingguan di Makassar dan Kalimantan. Sekarang masih aktif sebagai wartawan di media pendidikan. Dalam kumpulan cerpen ketiganya ini memuat 18 cerpen yang mengusung berbagai tema. Salah satu judul cerpennya Risalah kemudian menjadi judul dari buku kumpulan cerpen ini.

Menarik membaca kumpulan cerpen ini selain sarat dengan kritik sosial yang dikemas dalam bentuk permainan kata-kata. Buku ini juga menghadirkan kenyataan kepiawaian penulis dalam menyusun diksi yang tepat. Penulis cenderung menyukai pemberian judul yang mirip satu sama lainnya. Seperti dalam judul Laki-laki dalam sebuah lubang,laki-laki dalam sebuah sumur,laki-laki di kolong rumah dan laki-laki yang membenci bayangannya. Hampir serupa dengan kumpulan cerpen pertamanya berjudul “Latopajoko”. Di dalamnya ada cerpen  berjudul dia berenang terus dan dia memanjat terus.

Salah satu cerpen yang berjudul laki-laki dalam sebuah sumur mengisahkan tentang sumur dan sosok bernama laki-laki bernama Bardan yang menjadi pelaku dalam cerita ini. Musim kemarau menyebabkan sumur penduduk kering. Suatu hari warga dihebohkan karena pipa mereka tak mengalirkan air lagi. Sumur itu menjadi tumpuan warga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Disepakatilah bahwa sumur itu perlu ditambah kedalamannya agar tetap dapat mengalirkan air dalam pipa mereka. Bardan yang masih pengantin baru itu dengan sukarela menjadi relawan yang turun untuk menambah kedalaman sumur warisan Belanda tersebut. Tak disangka dalam tugasnya itu Bardan tiba-tiba menghilang setelah sebelumnya meminta tolong karena merasa sesak napas.  Warga berusaha menolong dengan berusaha mencari tangga namun suara Bardan tak terdengar lagi. Berita kehilangan Bardan di dalam sumur membuat istrinya histeris dan nyaris pula menceburkan dirinya ke dalam sumur.Ternyata dalam usaha penyelamatannya Bardan menemukan sebuah terowongan yang terhubung dengan Benteng tua. Seorang dukun kampung bernama wak Somad pun didatangkan untuk mereka-reka keberadaan Bardan. Yang kemudian melakukan ritual untuk mengembalikan Bardan yang menurutnya berada dalam alam gaib. Bardan yang menemukan terowongan yang penuh dengan burung-burung di dalamnya kemudian menyusurinya berharap dapat menemukan harta karung.Namun harapannya itu sia-sia,dia hanya sempat mengambil bongkahan tanah liat untuk dijadikan kenangan atas perjalanannya terperosok dalam terowongan. Ternyata bongkahan itu bukan tanah liat namun sarang burung walet. Bardan telah menemukan harta karung dan bertekad mendulangnya besok. Di lain tempat Wak Somad beserta istri Bardan menunggu dengan sia-sia di depan sumur.

Kelebihan kumpulan cerpen ini mengusung berbagai tema yang sarat dengan kritik atas kejadian yang ada di masyarakat. Kekuatan penulisnya mampu mengemas dalam penyusunan kata-kata yang tidak menohok langsung. Menghadirkan sisi kultural penulis dengan banyaknya istilah daerah Bugis dan Makassar dalam cerpen Adibah,laki-laki dalam lubang dan Vila di pinggir tebing.Menjadi bahan pembelajaran dalam konteks kekayaan ragam bahasa dan budaya tanah air. Beberapa penulis lain pun melakukan hal yang sama dalam karya-karyanya,misalnya Korry layun Rampan dengan budaya Dayaknya.

Disini penulis memiliki kemampuan bertutur dengan membangun alur yang panjang pada judul cerpen Risalah. Hampir sama dengan cerpen-cerpen yang termuat dalam cerpen Latopajoko.Kemampuan membangun alur yang panjang ini kemudian membuat penulis tak tertarik untuk mengirimkan cerpen pada media cetak karena keterbatasan halaman. Kisah laki-laki dalam sumur mengingatkan saya pada karya Korry Layun Rampan “Api awan asap” tentang lelaki pengantin baru yang berada dalam terowongan selama 20 tahun karena terjebak dalam pencarian sarang burung walet.Jika Badaruddin amir mengemasnya dalam cerpen, Korry Layun Rampan dalam bentuk novel. Saya kemudian melihat kebebasan berekspresi dalam cerita yang berjudul Pengadilan dalam narasi “ Tidak perlu wajar atau masuk akal,dunia cerita adalah dunia imajinasi.Adapun imajinasimu dapat kau wujudkan dalam bentuk cerita dan jangan ada orang-orang dari dunia nyata yang pernah mengadili dunia dalam cerita”.

Cerpen yang berjudul preman-preman dengan akhir cerita yang penuh dengan kejutan. Bagaimana seorang yang gila merasa membunuh preman dengan pistol mainan. Dan ternyata preman itu benar-benar meninggal karena serangan jantung bukan karena pistol mainan si gila. Cerpen-cerpen khas dengan kejutan di akhir biasanya dijumpai dalam cerpen Hamzad Rangkuti. Badaruddin Amir bisa saja terinspirasi dari karya-karyanya yang penuh kejutan.Disini kita melihat kewenangan penulis di akhir cerita preman-preman. 

Desain sampul dengan pemilihan warna putih dengan tulisan Risalah  berwarna merah cukup menantang dilihat. Dengan sentuhan gambar abstrak cukup menarik untuk segera membacanya. Pemilihan sampul laminasi doff dan kertas book paper menambah  kualitas eksklusif dari buku ini. Sebuah karya tak ada yang sempurna,Kekurangan dari buku ini ditemukan penggunaan istilah-istilah asing dan pengenalan tokoh yang terlalu panjang pada cerpen berjudul laki-laki di bawah kolong rumah. 

Setidaknya buku ini merupakan oase bagi dunia sastra.Banyak pembelajaran yang dapat dipetik dari kritik sosial yang diungkapkan secara tersirat Kepiawaian penulis berkata-kata menjadikan buku ini layak dibaca bagi kalangan remaja dan dewasa.

                                      

Oleh. Darwis Kadir,

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar