3

Relevankah Skripsi yang tidak wajib akibat Ijazah Palsu ? (+3)

Recky Aprialmi May 25, 2015

Mendengar kata Skripsi maka erat hubungannya dengan mahasiswa dan gelar kesarjanaan seseorang setelah menyelesaikan studinya. Menurut Prof Surharsmi Arikunto, skripsi adalah jenis karya tulis ilmiah yang berasal dari hasil penelitian kesarjanaan yang membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku. Pemberlakuan pembuatan skripsi ini sesuai kaidah keilmuan dengan tujuan mahasiwa mampu menyusun dan menulis suatu karya tulis ilmiah sesuai bidang ilmu yang menjadi salah satu rangkaian tugas akhir dari proses studi mahasiswa khususnya jenjang studi S1 (Strata satu). Bagi kebanyakan mahasiswa penyusunan skripsi menjadi hal yang tersulit dalam proses akhir kuliah dan bahkan menjadi “hantu” yang menakutkan bagi mahasiswa, maka tak jarang fenomena plagiat skripsi dan jual beli skripsi terjadi di dunia kampus terutama di Indonesia, plagiat dan jual beli skripsi menurut hemat penulis adalah embrio dari jual beli ijazah kesarjanaan yang sering terjadi di Negeri ini sehingga melahirkan para sarjana-sarjana dengan gelar kesarjanaan palsu.
Menyikapi fenomena tersebut maka baru-baru ini Kementerian Riset dan Teknologi yang memayungi pendidikan tinggi bapak Prof.,M.,Nasir melempar wacana yang sebenarnya tidak mengejutkan tapi cukup membuat terhenyak bagi kalangan “oknum penjual jasa skripsi dan jasa penjual gelar” yaitu skripsi tidak menjadi persyaratan kelulusan seseorang diperguruan tinggi dan hanya menjadi alternatif pilihan bagi mahasiswa. Peraturan yang menjelaskan skripsi sebagai tugas akhir studi mahasiswa yang bersifat pilihan ini sudah ada di Peraturan Menteri yang dikeluarkan pada tahun 2000 dan contoh perguruan tinggi negeri yang telah menerapkannya adalah Universitas Indonesia. Wacana ini dimunculkan ke publik bertujuan meminimalisir kecurangan-kecurangan akademik terkait dengan jual beli skripsi sampai jual beli ijazah yang berimbas dengan gelar kesarjanaan palsu. Tapi yang perlu di cermati lebih lanjut adalah menganalisis secara mendalam sebab-akibat kenapa sampai terjadi kecurangan-kecurangan akademik di kampus Indonesia. Disini penulis memandang pembuatan skripsi yang tidak diharuskan tersebut bukanlah bagian dari solusi bahkan akan menjadi masalah baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Ada beberapa pandangan penulis terhadap skripsi perlu atau tidak pada studi mahasiswa, antara lain :

a. Karena Skripsi merupakan bagian proses berpikir llmiah mahasiswa

Mau tidak mau Perguruan Tinggi di Indonesia jauh tertinggal dari Negara lain, hal ini dapat dibuktikan dari Lembaga peringkat perguruan tinggi independent yang bernama Academic Ranking of World Universities (ARWU), Negara bagian Asian Tenggara yang masuk hanyalah Malaysia ini pun masuk kelompok top 400. Indikator peringkat top Perguruan tinggi oleh lembaga ARWU tidaklah main-main karena salah satu indikator yang dilihat adalah jumlah publikasi ilmiah dari mahasiswa dan dosen yang ada di perguruan tinggi tersebut, apa hubungannya dengan skripsi ? menurut penulis tentu ada hubungannya yaitu pada tahun 2012 Dirjen Dikti pernah mengeluarkan peraturan mahasiswa S1 wajib mempublikasi karya tulis ilmiahnya di jurnal ilmiah yang terakreditasi, karya tulis yang dimaksud dapat berupa skripsi yang dirubah dalam bentuk jurnal kemudian dipublikasikan, tentu jurnal yang dipublikasikan adalah hasil penelitian yang bermutu, namun langkah ini tidak berjalan mulus. Jika langkah publikasi ilmiah ini saja tidak mulus maka bisa dibayangkan jika skripsi menjadi tidak wajib bagi mahasiswa. Perlu dipahami secara seksama bahwa adanya skripsi maka mahasiswa belajar untuk melakukan generalisasi masalah dan mencari solusi yang tepat untuk memecahkan masalah, proses memecahkan masalah tersebut dilakukan melalui proses berpikir secara ilmiah kemudian mengkomunikasikannya dengan pembimbing, dalam proses ini saja mahasiswa dituntut belajar untuk mempertanggungjawabkan dan mempertahankan ide keilmuanya. Proses ilmiah ini tidak bisa didapat dalam proses pengajaran di kelas maupun pengabdian di lapangan, proses ilmiah ini akan berjalan jika mahasiswa tersebut rajin membaca, mengkaji literatur dan mengkomunikasikannya lewat skripsi yang akan menjadi karya tulis mahasiswa tersebut. Jika Skripsi menjadi bagian proses berpikir ilmiah mahasiswa maka seharusnya Skripsi tidak menjadi “hantu” yang menakutkan bagi mahasiswa sehingga praktek jual beli skripsi dan plagiat tidak akan terjadi.

b. Karena rasio mahasiswa dengan dosen tidak ideal dalam hal bimbingan.

Permasalahan rasio mahasiswa dengan dosen tidak dapat terbantahkan lagi, apalagi saat ini semua universitas berlomba-lomba untuk menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya, dulu proses seleksi penerimaan mahasiswa masih menggunakan satu ujian saja yaitu seleksi masuk perguruan tinggi yang dilakukan secara serentak secara Nasional, jadi memang betul-betul menyeleksi mahasiswa dengan melihat nilai kognitifnya namun saat ini berbagai seleksi gencar dilakukan oleh perguruan tinggi dengan berbagai macam nama dengan satu tujuan yaitu meningkatkan jumlah mahasiswa. Meningkatnya jumlah mahasiwa berarti meningkatnya proses bimbingan dosen pembimbing terhadap mahasiswa yang memasuki semester akhir. Beban dosen dalam melakukan bimbingan terhadap penulisan skripsi mahasiswa pada sistem sks (sistem kredit semester) memang tidak terlihat tapi akan terlihat jika 1 dosen membimbing lebih dari 40 mahasiswa, apalagi jika dosen tersebut memilki jam tambahan di perguruan tinggi lain yang mengakibatkan dosen tersebut akan kewalahan. Hal ini memperbesar peluang “plagiat” dan proses jual beli skripsi kepada jasa pembuat skripsi, proses ini sulit terlihat jika mahasiswa bimbingan terlalu banyak karena save controling lemah dan akhirnya lahirlah skripsi-skripsi palsu. Oleh karena itu solusi yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi adalah menambah dosen yang berkualitas, dosen yang berkualitas disini bukan hanya berkualifikasi S2 (Magister) maupun S3 (Doktor) tapi dosen yang berpengalaman dalam mempublikasikan karya tulis ilmiahnya di media yang terkreditasi. Penambahan dosen yang berkualitas akan memperkecil rasio dosen dengan mahasiswa sehingga proses bimbingan tidak terkendala dengan jumlah dan waktu sehingga dapat membimbing mahasiswa untuk melahirkan skripsi yang bagus dengan dosen yang berpengalaman serta berkualitas.

c. Dalam hal mengambil kebijakan maka perlu pemetaan kualitas sumber daya pendukung.

Jika wacana Menteri riset, teknologi dan pendidikan tinggi ini benar-benar diterapkan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia, maka Kementerian terkait harus melakukan pemetaan potensi di setiap daerah di Indonesia, pemetaan dapat dilakukan dengan riset yang komprehensif dengan melihat berbagai indikator. Ada 2 indikator mendasar, pertama : melihat indeks membaca seluruh lapisan masyarakat termasuk mahasiswa. Kenapa dengan membaca perlu dihubungkan dengan skripsi atau karya tulis lainnya. Sekilas hubungannya tidak telihat tapi memiliki hirearki yang absolut dalam keilmuan bahwa membuat dan menyusun berbagai bentuk karya tulis ilmiah baik itu skripsi harus dimulai dari proses membaca (read), menganalisis (analysis) kemudian melakukan proses men”create”. Proses ini dalam khasanah taxonomi adalah proses berpikir tingkat tinggi (higher order thingking skills) yang dapat disingkat dengan “HOTS”, kemampuan HOTS ini perlu bagi mahasiswa untuk mengembangkan intelektualitasnya di perguruan tinggi. Bisa jadi indeks membaca masyarakat maupun mahasiswa di pulau Jawa tinggi karena ekosistem belajar nya sudah bagus sehingga kebijakan skripsi menjadi opsional bagi mahasiswa dapat dilakukan, namun bagaimana di daerah lain dengan daya dukung yang rendah tentu hal ini tidak dapat dilakukan. Merujuk hasil riset UNESCO terhadap indeks membaca masyarakat Indonesia sangat rendah yakni 0,001 yang artinya hanya 1 orang dalam 1000 manusia Indonesia yang sungguh-sunguh dalam membaca. Kedua ; perubahan manajemen kurikulum pada bidang studi setiap fakultas, maksudnya adalah harus dilakukan konstruksi ulang potensi, arah, kebijakan tujuan berdirinya sebuah Program studi dalam Fakultas disetiap perguruan tinggi. Maka tidak serta merta semua perguruan tinggi mengikuti kebijakan Skripsi tidak wajib dalam suatu studi. Contoh sederhana nya adalah Fakultas yang berorientasi melahirkan guru, apakah perlu fakultas keguruan menghapus skripsi menjadi suatu yang tidak wajib ?. Perlu jadi bahan pertimbangan bahwa salah satu faktor dominan guru untuk meningkatkan kinerja dan kenaikan pangkat rendah karena dominan para guru mengalami kesulitan dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah seperti penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan bentuk lain dari Skripsi itu sendiri, hal ini terjadi pada mayoritas guru-guru saat fase mahasiswanya melalui jenjang pendidikan dengan jalur skripsi, ini adalah fakta yang mengejutkan. Maka bisa dibayangkan jika skripsi benar-benar menjadi tidak wajib bagi mahasiswa.

Semua pandangan diatas kembali merujuk kepada tujuan awal penyematan gelar kesarjanaan, sebab tingkat sarjana lebih kepada cara berpikir dengan pengembangan intelektual seseorang. Skripsi diharapkan menjadi bukti intelektualitas seseorang dalam menuangkan ide gagasan pemecahan masalah yang telah dipertahankan di depan dewan penguji, sehingga mahasiswa memperoleh gelar kesarjanaan nya telah melewati siklus keilmuan dengan penguasaan yang tinggi terhadap berbagai tugas belajar sesuai kurikulum perguruan tinggi, sebab dikatakan intelektualitas seseorang adalah kemampuan seseorang baik lisan maupun tertulis yang dapat mempengaruhi orang lain, bukan keilmuan yang palsu dengan gelar sarjana yang palsu sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan adanya skripsi, minimal seseorang sarjana telah membuktikan tingkat intelektualitas di depan dewan penguji yang berpengalaman sehingga membuktikan bahwa gelar sarjana dengan membuat skripsi menunjukkan aktualitas seseorang pantas atau tidaknya mendapatkan gelar sarjana tersebut dengan tidak hanya sekedar mengandalkan ijazah secara formalitas.

About Author

Recky Aprialmi

kata orang orang dekat,saya kocak,tpi selalu serius,putih,pesek,tpi cukup bersaing lah dengan tom cruise,tidak kaya tpi cukup untk keluarga dan 7 keturunan,tidak pintar tpi cukup bersaing dgn albert einstein,blak-blakan tp jujur lah

View all posts by Recky Aprialmi →

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar