2

Rekan Seperjuanganku, Agus (0)

AfanZulkarnain February 23, 2021

Artikel ini saya tujukan untuk seorang rekan seperjuangan, Agus. Usianya beberapa tahun dibawahku, tapi kami seangkatan saat kuliah di fakultas pendidikan matematika sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Aku telat masuk kuliah, kawan. Tak heran ketika kuliah aku sekelas dengan mahasiswa yang usianya jauh di bawahku. Bahkan kaprodiku sendiri adalah teman seangkatan waktu SMP. Dosenku malah adik kelas waktu SMA. Tapi aku tak malu, bukankah belajar tak peduli usiamu berapa?

Kembali ke Agus.

Agus berhasil mengajar di sebuah SMP bernuansa islami sebelum kami wisuda. Ia begitu bersemangat saat menceritakan pengalamannya mengajar di sana. Di angkatan kami, ia tergolong cepat menemukan sekolah untuk mengajar. Sementara aku masih disibukkan dengan aktivitas sebagai penyiar dan guru les. Saat itu aku juga masih iktiar “menjajakan” ijazah ke beberapa sekolah. Alhamdulillah, selang beberapa bulan, aku diterima di sebuah SMP Katolik.

Aku dan Agus memiliki satu impian yang sama. Kami ingin mencetak juara olimpiade matematika. Maka hal yang kami lakukan adalah belajar bersama. Setiap selasa malam, saat saya libur siaran, kami berdiskusi dan berlatih mengerjakan soal-soal tipe olimpiade dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Lokasi latihan kami selalu berpindah-pindah. Kadang kami berdiskusi di perpustakaan daerah, di sekitar taman makam pahlawan, bahkan di sebuah kafe sambil jajan.

Kami juga saling bertukar informasi jika ada penyelenggaraan olimpiade. Selalu ada rasa bahagia saat bertemu dengannya bersama delegasinya di setiap perlombaan. Ia bersama anak didiknya, saya pun juga.

Selain itu, kami juga rutin mengikuti kegiatan pelatihan yang diadakan oleh MGMP. Kami selalu berangkat bersama. Berboncengan. Bahkan saat MGMP terbagi menjadi beberapa zona, kami sangat aktif mengikuti setiap kegiatan. Dia dan aku berperan sebagai sekretaris di zona 1. Terakhir, kami terlibat kegiatan try out UN yang diselenggarakan untuk mempersiapkan siswa-siswa kelas 9 hadapi UN. Kalau tidak salah tahun 2019. Pesertanya adalah siswa-siswi kelas sembilan di SMP-SMP dalam naungan zona kami. Alhamdulillah, acara tersebut berlangsung sukses.

Aku dan Agus juga kerap berkolaborasi. Kami mengadakan pembelajaran olimpiade untuk siswa sekolah kami masing-masing. Lokasinya terkadang di sekolahnya, terkadang di sekolahku. Bergantian. Aku dan Agus sebagai pembina mereka dalam mengerjakan soal-soal olimpiade. Ada beberapa alasan kami adakan kegiatan ini. Pertama, karena kami memiliki satu impian, yaitu mencetak juara olimpiade matematika. Kedua, kami berpikir dengan berlatih dengan sekolah lain, pengetahuan anak-anak akan bertambah. Ketiga, kami ingin melatih mental anak-anak agar tidak jago kandang.

Awal mengadakan kegiatan ini adalah beberapa minggu sebelum diadakan OSN tingkat kabupaten. Kami bersepakat untuk berlatih bersama dua sekolah. Lokasinya di sekolah Agus. Aku ingat betul, hari Selasa pulang sekolah. Aku mengajak seorang siswa yang aku gadang-gadang sebagai delegasi sekolahku dalam hadapi OSK. Namanya Felicia. Aku membonceng Felicia menuju sekolah tempat Agus mengajar.

Kehadiran kami di sekolah tersebut sempat menarik perhatian beberapa orang. Wajar, sekolah tersebut sangat kental dengan nuansa islami. Bertolak belakang dengan penampilan Felicia yang tak berhijab, karena memang kami dari sekolah nonmuslim. Feli sempat berbisik bahwa dia sedikit canggung. Tapi aku memberinya semangat, bahwa kehadirannya disini untuk belajar, untuk menimba ilmu pengetahuan, dan untuk itu harus hilangkan segala kecanggungan.

Kami disambut baik oleh pihak sekolah tersebut. Agus menyilahkan kami menuju kelas yang telah dipersiapkan. Di sana sudah menunggu beberapa siswi sekolah tersebut yang juga mengikuti kegiatan ini. Alhamdulillah, Feli dapat berbaur dengan mereka.

Begitulah, dua sekolah berbeda, berlatih mengerjakan soal olimpiade matematika bersama. Yang satu dari sekolah dengan nuansa Islami yang kental, sedangkan yang lain dari sekolah Katolik. Namun, bukankah dalam belajar tidak mengenal perbedaan? Yang jelas, baik Feli maupun siswa dari sekolah tersebut dapat saling bertukar pikiran. Pengetahuan mereka bertambah. Kesiapan mereka dalam menghadapi lomba juga meningkat. Alhamdulillah ,kegiatan berjalan lancar.

Terkadang, sekarang aku sangat merindukan momen-momen seperti ini. Kegiatan yang tak bisa kami lakukan lagi semenjak aku harus pindah keluar kota. Agus masih mengajar di sekolah tersebut. Kadang kami masih berdiskusi tentang pembahasan soal-soal matematika. Diskusi jarak jauh menggunakan WA.

Untuk rekan seperjuanganku, Agus. Semoga tetap bersemangat dalam meraih impian itu. Mencetak juara olimpiade matematika. Impian yang kata orang sangat tak mungkin. Tapi sangat mungkin bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dalam mewujudkannya.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar