4

Refleksi Diri dari Sebuah Karya Seni (+3)

Nur Sri May 26, 2015

“ayo kita melukis bareng” seruku pada anak-anak di asrama
“ayo ustadzah, kita lomba ya” sahut mereka.
Satu persatu keluar dari kamar mengeluarkan sekotak cat air beserta perlengkapannya ke aula. Sebagian ada yang melukis di kamarnya. Tapi aku lebih memilih untuk melukis di kamarku. Mencari sejuta inspirasi yang akan aku tuangkan dalam kanvas putihku.
“haha… wajah ustadzah lucu. banyak catnya” kata anak-anak saat aku keluar dengan sebuah lukisan pertamaku. Sontak aku ikutan ketawa meski agak sedikit kesal melihat pemandangan asrama yang dalam waktu sekilas nampak seperti kapal perang.
Beberapa anak langsung menunjukkanya lukisannya padaku. Beberapa lagi langsung tertuju kearahku, melihat dan mengambil lukisanku untuk dilihatkannya pada teman-temannya.
Aku tertegun dengan lukisanku sendiri. Sebuah lukisan yang kubuat dalam waktu yang cukup singkat. lukisan pertamaku, sebagai bagian dari terwujudnya salah satu mimpiku. Melukis dengan cat minyak diatas kanvas.
Namun bukan, bukan itu. Bukan karena itu adalah bagian dari mimpiku. Tetapi lukisan itu mengingatkanku akan sebuah catatan dalam buku harian yang aku tulis beberapa pekan yang lalu.
“mendidik, maka mendidiklah dengan sepenuh hati dan cita. Cinta yang akan membawa pada keridhoan-Nya. Mendidik, maka mendidiklah dengan penuh kelembutan. Buang jauh-jauh segala ego dan watak keras. Pilihlah cara terlebut yang disukainya. Jauhi kata-kata kasar yang akan membuat mereka semakin keras. Karena mendidik itu ibarat membuat sebuah karya seni. Ia membutuhkan kesabaran dan keuletan. Semakin sabar untuk membuatnya maka hasilnya akan semakin indah. Ketulusan dan cinta akan membuat karya seni itu tak sekedar indah dan memikat siapapun yang melihatnya. Akan tetapi ia memberikan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Sehingga ia akan bernilai tinggi bahkan melebihi apa yang diperkirakan orang lain”
“huft!” desahku
Kutarik nafasku dalam-dalam. Sebuah refleksi dari mata pelajaran seni budaya. Yang membuatku harus instrospeksi diri. Darinya aku belajar kesabaran. darinya aku belajar memadukan warna, berimajinasi, dan belajar mencintai karyaku itu. Sehingga aku berharap, kelak aku bisa mengajar mereka layaknya aku membuat karya seni ini. Sebuah lukisan yang sengaja aku buat dengan penuh kelembutan dan cinta.
Waallahu a’lam bishshowab

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar