1

Rasanya Guru Daring & Jadi Guru New Normal (0)

Imam Subechi October 16, 2020

Assalamualaikum…

Jika Anda menjadi guru, tentu tidak akan jauh pengalaman mengajar saat daring dan ketika new normal. Situasi sekarang ini sangat mempengaruhi guru dan murid. Tentu kita tahu Indonesia mulai diberlakukan pembelajaran daring mulai bulan Februari 2020. Meskipun tidak serentak semua dinas pendidikan memberlakukan pembelajaran jarak jauh.

Kami sebagai guru ketika mendengar terjadinya wabah Corona di Jakarta, sudah merasa khawatir. Karena tiap negara yang terserang wabah ini tentunya akan mengubah metode pembelajaran. Dari metode belajar tatap muka menuju metode jarak jauh.

Kami para guru yang ada di Aceh hanya menunggu keputusan dari dinas pendidikan, bagaimana kelanjutannya. Apakah tetap belajar tatap muka atau belajar jarak jauh. Ternyata wabah ini ketika sampai ke Aceh, akhirnya metode pembelajaran harus melalui jaringan internet.

Mengajar Selama daring…

Ketika sekolah kami sudah mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh, tentu ini menjadi pertama kalinya. Kami bersama siswa melaksanakan pembelajaran yang bukan seperti biasanya. Hal ini tentu sedikit banyaknya terjadi perubahan perilaku pada anak didik kami.

Jam mulai belajar tak menentu

Ketika santri kami sudah mulai berada di depan handphone masing-masing, ada saja kendalanya. Baik dari awal masuk classroom maupun konsentrasi belajarnya. Kedisiplinan siswa masuk classroom online tidaklah sama pada saat belajar sebelum daring. Mereka sekarang berada dalam dunia lain, bukan di wilayah kita. Tentunya mereka lebih banyak diawasi langsung oleh kedua orangtuanya.

Siswa masuk classroom terlambat

Tujuan sebagian pendidikan adalah membentuk karakter siswa. Namun melalui daring ini, banyak tujuan yang menjadi terbengkalai. Diantaranya siswa tidak tepat waktu masuk kelas online. Meskipun sudah diadakan kerjasama antara guru, wali kelas dan orang tua. Namun sebagian tetap saja begitu, belum ada perubahan. Apalagi peserta didik lebih pandai memainkan handphone daripada orang tuanya.

Kendala ketika belajar daring…

Ketika kami mengawali pembelajaran jarak jauh ini, ada saja kendala yang kami hadapi. Diantaranya sinyal internet yang tidak stabil. Sehingga membuat kami para guru kewalahan menanganinya. Karena kestabilan sinyal ini awal pintu kami masuk classroom online. Di samping itu juga kuota yang harus kami sediakan untuk masuk ke classroom.

Kendala lainnya, siswa tidak kunjung masuk kelas hingga setengah jam. Bahkan ada yang tidak masuk sama sekali tanpa ada pemberitahuan. Apakah rusak HPnya atau lemah sinyal internet. Bisa dibilang ,pembelajaran jarak jauh ini belum begitu efektif karena semuanya belum diatur dengan sistem yang baik. Kondisi pandemi ini, membuat para guru menghadapi banyak kendala di lapangan. Berbeda dengan sekolah-sekolah yang lama sudah tersambung dengan internet sebelum masa pandemi. Tentunya ini akan sangat berbeda jauh dengan sekolah yang mendadak menerapkan pembelajaran jarak jauh, seperti di sekolah kami.

Semua unsur sekolah belum siap

Coba bayangkan saja, ketika menghadapi masa pandemi ini kami hanya dibekali pembelajaran lewat google classroom. Menurut hemat kami, fasilitas ini hanya bisa digunakan untuk sekolah yang tingkat kedisiplinan siswanya tinggi. Fasilitas ini digunakan karena disesuaikan dengan dana yang masuk. Apalagi sekolah kami masih memakai akun yang gratisan dari google. Sehingga apalah kemampuan guru sangat dibatasi dengan akun gratisan ini. Dengan jumlah materi yang akan diberikan tidak sesuai dengan kapasitas gratisan. Google hanya memberikan 15 GB untuk tiap akun. Di sekolah kami hanya dikelola oleh satu akun untuk tingkat menengah pertama (SMP). Sehingga ketika banyak pemakaian, maka tiap materi yang butuh file besar atau tugas siswa akan terjadi eror. Sehingga kita pun para guru diminta sekolah segera mendownload tugas-tugas para siswa.

Dana sekolah ngedat

Akun gratisan yang dikelola oleh satu orang, tidaklah cukup menampung kapasitas file-file dari para guru. Sekolah kami belum menggunakan akun google perbayar. Sehingga kami mesti mengakali materi hanya dengan coretan tangan di classroom ini. Karena tiap kali, ingin meng-upload video materi akan menghadapi kendala keterbatasan penyimpanan. Kami merasa sedih dengan kondisi ini, karena tidak bisa maksimal menjelaskan materi untuk anak didik. Pada akhirnya, kami harus mencari link-link yang ada you tube yang pembahasannya mirip dengan bab masing-masing.

Tiga bulan bayar sendiri kuota

Sejak diputuskan pembelajaran jarak jauh, kami hanya dibekali cara memberi materi, memberi tugas, membuat soal dan lainnya yang difasilitasi oleh google classroom. Dua hari kemudian, kami baru memulai menerapkan jarak jauhnya. Dengan modal apa adanya dari seorang guru, kami tidak bisa berbuat banyak ketimbang mengajar tatap muka. Sungguh ini kami rasakan sangatlah berbeda jauh dari biasanya. Kami tidak ada kemampuan mengontrol penuh untuk siswa yang tipenya harus diawasi perilakunya secara langsung.

Bermodal sendiri

Gaji yang pas-pasan untuk biaya makan sebulan dan yang seringnya tidak kunjung habis bulan sudah habis juga gajinya. Ini juga jadi pengalaman kami ketika mengajar jarak jauh. Apalah kemampuan yang hanya sebatas bisa memberikan materi saja tanpa membuat video yang bisa mencerahkan siswa kami. Terlepas dari keterbatasan finansial kami sebagai guru, kami masih semangat mengajar meskipun tertatih tatih. Kami mengajar di sekolah swasta yang notabennya hanya mengandalkan pemasukan dari dalam agar bisa fokus mengajar.

Pasrah kepada Allah.

Tiga bulan sangat terasa bagi kami sebagai guru swasta. Untuk melanjutkan cara kami mengajar di tempat sekolah ini, kami harus juga meluangkan waktu sedikit untuk berjualan di luar. Tentunya kami memilih waktu yang tepat. Terkadang secara terpaksa kami harus tinggalkan google classroom untuk hanya bisa mencari nafkah untuk keluarga. Hingga akhirnya pembelajaran ini sangat tidak efektif lagi. Di google classroom ini kami tidak bisa memastikan, siapa saja yang hadir dan stanby di google classroom.

Tidak gunakan aplikasi zoom

Seiring berjalannya waktu, tentuk kami para guru berfikir jauh ke depan untuk mendapatkan maslahat besar. Namun apalah daya, kami hanya bisa bergerak sebatas pemakaian google classroom. kami hanya bisa memberi materi dan tugas tanpa mengawasi penuh seperti halnya jika memakai perangkat zoom ini. Sungguh hal yang sangat kurang bagi kami yang biasa mengawasi siswa kelas offline. Tentu ini sangat jauh berbeda dari cita-cita dan tujuan semua guru untuk mencerdaskan anak bangsa.

1 Bulan berjalan..

Sekitar 1 bulan KBM online, para guru dapat pulsa 100.000 dari pihak sekolah , alhamdulillaah. Tentunya juga tidak dihabiskan begitu saja dalam waktu seminggu. Tetap saja dengan modal segitu hanya bisa terpaut dengan google classroom. Kami tidak banyak memakai media sosial lainnya karena pengiriman tugas file video banyak menyita kuota kami. Oleh karenanya, kami harus berjuang bagaimanapun kuota tidak habis dalam dua minggu. Karena kuota inilah awal kami melakukan pembelajaran jarak jauh.

Asyiknya mengajar online

Meskipun banyak kendala dan rintangan yang kami hadapi. Tentu saja ada asyiknya mengajar jarak jauh. Kami para guru yang baru tahu situasi pembelajaran jarak jauh. Kami baru tahu, bahwa resiko pembelajaran jarak jauh untuk pendidikan mental dan akhlak tidak terkontrol. Kita hanya bisa menilai bagian terkecil dari sikap dan perbuatan siswa saat hadir di kelas online. Mereka terbilang santai sekali, dalam menangkap pengetahuan baru yang disuguhkan. Terkesan acuh tak acuh, meskipun tidak paham. Bahkan ada sebagian guru yang banyak menulis penjelasan di classroom ini, tidak satupun direspon bobot materinya. Apakah mudah dipahami atau sulit dimengerti. Itu yang kami para guru tidak tahu yang sebenarnya jika belajar melalui classroom ini. Situasi inilah yang membuat kami hanya tersenyum sendiri. Bagaimana mau menegur santri, saat ditanya saja tidak ada respon sama sekali. Itu ada dua makna, apakah siswa hanya melototin saja atau siswa meninggalkan classroom.

Kejenuhan guru dan siswa

Media sekolah online kami hanya dipilih classroom ini yang dari google. Satu bulan, dua bulan berjalan, siswa mulai mengalami titik kejenuhan. Karena mereka belum siap sama sekali menghadapi situasi seperti ini. Banyak tugas yang tidak terkumpul akibat dari kurangnya kesungguhan siswa dalam mengerjakan. Sebab lainnya juga, banyaknya tugas yang menumpuk. Mereka jenuh dengan banyak tugas selalu dalam sehari sampai 3 mata pelajaran. Satu pelajaran belum selesai dikerjakan, datang mapel berikutnya. Guru juga mengalami hal yang sama, banyak tugas siswa dan ulangam yang harus dikoreksi satu persatu. Dengan modal 100.000,.kami para guru mensiasati cara pengumpulan tugasnya. Tiap kali ingin melihat hasil tugas siswa, kami mesti mendownload terlebih dahulu file nya. Belum lagi ada siswa yang belum mengumpulkan tugas. Akhirnya waktu kami tersisa untuk melakukan penagihan.

Orang Tua Jenuh

Masalah tak kunjung usai, kali ini problem datangnya dari orang tua sendiri. Sebagian dari mereka mengeluhkan banyaknya tugas yang diemban oleh siswa. Hingga ada yang komplain agar menimalisir tugas dalam perharinya. Situasi begini menjadi pertimbangan kami dalam memberikan tugas. Padahal jika ditimbang-timbang ketika tatap muka, tugas mereka lebih dari itu. Situasi yang tidak memungkinkan untuk diteruskan pembelajaran jarak jauh. Dengan merasakan kejenuhan terhadap, para orang tua menginginkan agar belajar tatap muka kembali seperti biasa.

Kendala lain untuk orang tua ialah mereka tidak mampu menjelaskan tiap materi. Meskipun ada sebagian bisa dipahami, namun kebanyakan orang tua tidak mengerti, terutama pada program bahasa. Baik bahasa arab atau bahasa inggris. Situasi begini menjadi pertimbangan kami sebagai guru yang hanya mampu memberi materi lewat coretan saja. Lantara kami tidak bisa berbuat banyak karena kendala kapasitas yang boleh diupload.

Belajar Normal..

Setelah beberapa pertimbangan di atas dan lainnya, maka sekolah ini memutuskan untuk belajar dengan tatap muka. Hal ini juga bersamaan dengan penerapan new normal yang digerakkan oleh pemerintah. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh. Sekembali mereka di sekolah, tidaklah sama halnya ketika belajar sebelum pandemi. Perubahan drastis pada diri mereka setelah lama berada di rumah sekitar tiga bulan. Raut wajah mereka yang berubah dari semangat belajar berakhir pada kemalasan.

Belajar saat New Normal

Bukanlah hal yang mudah mengendalikan semangat mereka setelah tiga bulan tidak bersama gurunya. Situasi yang tidak menentu ini, menyebabkan goncangan pembelajaran secara tatap muka. Sangat sulit rasanya menghadapi pandemi ini dalam proses pembelajaran. Tidak adanya persiapan yang matang, membuat kami kwalahan menghadapinya. Awal tahun ajaran 2020-2021 sekolah kami memulai kembali belajar tatap muka.

Kembali belajar daring

New normal bagi kami adalah sebuah tantangan menghadapi lemahnya siswa belajar. Belum lama kami menggerakkan kesemangatan para siswa untuk belajar tekun. Namun…kondisi sekolah kami mengalami goncangan oleh pandemi ini. Situasi yang secara mendadak harus memulangkan para siswa ke tempat asal. Hingga kebanyakan orang tua mereka bertanya-tanya. Ada apa gerangan, apakah ada yang terkena covid ?? Pertanyaan ini banyak dilontarkan oleh sebagian ortu mereka.

Untuk belajar jarak jauh ini, alhamdulillaah awal minggu sudah diberi bekal untuk kuota. Dan bisa dipakai untuk sebulan, kami sangat berterima kasih kepada sekolah. Pembelajaran jarak jauh yang dirasakan untuk kali ini lebih ringan ketimbang pada awal-awal pandemi. Meskipun demikian adanya, siswa masih bimbang bertanya perihal yang sukar. Nah.. begitulah kondisi yang kami rasakan mengajar jarak jauh bersama siswa yang masih butuh pengawasan maksimal. Jika ortu hanya mempercayakan penuh kepada anaknya ketika bersama handphonenya, anak tetap tidak bisa belajar efektif. Salam perjuangan..selamat untuk Anda sebagai pendidik. 🙂🙂

WritingCompetition dan #NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar