2

Psikologi Pendidikan: Kepribadian, Sikap dan Prasangka (0)

Alfina Nurcahyani March 31, 2021

Kepribadian, Sikap dan Prasangka

  1. Kepribadian
  2. Definisi Kepribadian
  3. Definisi Kepribadian Secara Umum

Kepribadian dalam bahasa Inggris berarti personality, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial- kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial. Disamping itu kepribadian sering diartikan sebagai ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.

  • Definisi Kepribadian Menurut Para Ahli
  • Gordon W. Allport: Menurutnya, pengertian kepribadian adalah organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. 
  • M.A.W. Brower: Pengertian kepribadian menurut M.A.W. Brower adalah corak tingkah laku sosial yang terdiri dari corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang. 
  • Theodore M. Newcomb: Menurut Theodore M. Newcom bahwa pengertian kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang pemiliknya. 
  • John F. Cuber: Menurut John F. Cuber, kepribadian adalah keseluruhan sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang. 
  • J. Milton Yinger: Kepribadian adalah keseluruhan perilaku seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu dengan berinteraksi dengan serangkaian situasi.
  • Ciri-ciri Kepribadian

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

Kepribadian yang sehat

  • Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
  • Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
  • Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
  • Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
  • Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
  • Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
  • Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
  • Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
  • Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
  • Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
  • Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

Kepribadian yang tidak sehat

  • Mudah marah (tersinggung)
  • Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
  • Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
  • Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
  • Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
  • Kebiasaan berbohong
  • Hiperaktif
  • Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
  • Senang mengkritik/mencemooh orang lain
  • Sulit tidur
  • Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  • Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  • Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  • Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  • Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
  • Unsur Kepribadian

Menurut Koentjaraningrat (1986) unsur-unsur dari kepribadian meliputi: pengetahuan, perasaan dan dorongan hati.
a.Pengetahuan
Pengetahuan sebagai salah satu unsur kepribadian memiliki aspek-aspek sebagai berikut: penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi yang berada di alam sadar manusia. Walaupun demikian, diakui bahwa banyak pengetahuan atau bagian dari seluruh himpunan pengetahuan yang ditimbun oleh seorang individu selama hidupnya itu, seringkali hilang dari alam akalnya yang sadar, atau dalam “kesadarannya,” karena berbagai macam sebab. Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa unsur-unsur pengetahuan tadi sebenarnya tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk saja ke dalam bagian dari jiwa manusia yang dalam ilmu psikologi disebut alam “bawah-sadar” (sub-conscious). Pengetahuan individu di alam bawah sadar larut dan terpecahpecah menjadi bagian -bagian yang seringkali tercampur satu sama lain dengan tidak teratur. Proses itu terjadi karena tidak ada lagi akal sadar dari individu bersangkutan yang menyusun dan menatanya dengan rapi walaupun terdesak ke alam bawah sadar, namun kadang-kadang bagian bagian pengetahuan tadi mungkin muncul lagi di alam kesadaran dari jiwa individu tersebut. Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Ada bermacammacam hal yang dialami melalui penerimaan pancainderanya serta alat penerima atau reseptor organismanya yang lain, sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal (panas-dingin) dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagian-bagian tertentu dari otaknya Di sana berbagai macam proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran dan tekanan tadi diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi. Seluruh proses akal manusia yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut “persepsi

b.Perasaan
Koentjaraningrat (1986) menyatakan bahwa perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif atau negatif. Suatu perasaan yang selalu bersifat subyektif karena adanya unsur penilaian, yang biasanya menimbulkan suatu kehendak dalam kesadaran seorang individu. Kehendak itu bisa juga positif, artinya individu tersebut ingin mendapatkan hal yang dirasakannya sebagai suatu hal yang akan memberikan kenikmatan kepadanya, atau bisa juga negatif, artinya ia hendak menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak nikmat kepadanya. Alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. Kalau orang pada suatu hari yang luar biasa panasnya melihat papan gambar reklame minuman es kelapa muda berwarna merah muda yang tampak segar dan nikmat, maka persepsi itu menyebabkan seolaholah terbayang di mukanya suatu penggambaran segelas es kelapa muda yang dingin, manis, dan menyegarkan pada waktu hari sedang panas-panasnya, yang seakan-akan demikian realistiknya sehingga keluarlah air liurnya. Apersepsi seorang individu yang menggambarkan diri sendiri sedang menikmati segelas es kelapa muda tadi menimbulkan

dalam kesadarannya suatu “perasaan” yang positif, yaitu perasaan nikmat, dan perasaan nikmat itu sampai nyata mengeluarkan air liur. Sebaliknya, kita dapat juga menggambarkan adanya seorang individu yang melihat sesuatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, mencium bau busuk dan sebagainya. Dugaan-dugaan atau persepsi seperti itu dapat menimbulkan kesadaran akan perasaan yang negatif, karena dalam kesadaran terkenang lagi misalnya bagaimana kita menjadi muak karena sepotong ikan yang sudah busuk yang kita alami di masa yang lampau. Apersepsi tersebut mungkin dapat menyebabkan kita menjadi benar-benar merasa muak apabila kita mencium lagi bau ikan busuk. Suatu perasaan bisa berwujud menjadi kehendak, suatu kehendak juga dapat menjadi sangat keras, dan hal itu sering terjadi apabila hal yang dikehendaki itu tidak mudah diperoleh, atau sebaliknya. Suatu kehendak yang kuat/keras disebut dengan keinginan. Suatu keinginan juga bisa menjadi sangat besar, dan bila hal ini terjadi maka disebut denganemosi.

c.DoronganNaluri
Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung
berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah terkandung dalam organismanya, dan khususnya dalam gen-nya (dirinya) sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia tersebut, disebut dorongan (drive). Naluri yang terkandung dalam diri manusia sangat beragam (Koentjaraningrat, 1986), beberapa ahli memiliki perbedaan, namun mereka sepakat bahwa ada paling sedikit tujuh macam dorongan naluri, yaitu:
(1) dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini memang merupakan suatu
     kekuatan biologi yang juga ada pada semua makhluk di dunia ini dan yang menyebabkan
     bahwa semua jenis makhluk mampu mempertahankan hidupnya di muka bumi ini;

(2) dorongan hubungan antara manusia. Dorongan ini malahan telah menarik perhatian banyak
      ahli psikologi, dan berbagai teori telah dikembangkan sekitar soal ini. Suatu hal yang jelas
      adalah bahwa dorongan ini timbul pada tiap individu yang normal tanpa terkena
      pengaruh pengetahuan, dan memang dorongan ini mempunyai landasan biologi yang
      mendorong makhluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan
      jenisnya (regenerasi);

(3) dorongan untuk usaha mencari makan. Dorongan ini tidak perlu dipelajari, dan sejak bayi
      pun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makan, yaitu dengan mencari
      susu ibunya atau botol susunya, tanpa dipengaruhi oleh pengetahuan tentang adanya hal-hal\
      itu tadi;

 (4) dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini
       memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai
       makhluk kolektif;

(5) dorongan untuk meniru tingkah-laku sesamanya. Dorongan ini merupakan sumber dari
      adanya beraneka warna kebudayaan di antara manusia, karena adanya dorongan ini \
      manusia mengembangkan adat yang memaksanya berbuat konform dengan manusia sekitarnya;

(6) dorongan untuk berbakti. Dorongan ini mungkin ada dalam naluri manusia, karena
     manusia merupakan makhluk, yang hidup kolektif, sehingga untuk dapat hidup bersama
     dengan manusia lain secara serasi ia perlu mempunyai suatu landasan biologi untuk
     mengem bangkan rasa altruistik, rasa simpati, rasa cinta dan sebagainya, yang
     memungkinkannya hidup bersama itu. Kalau dorongan untuk berbagai hal itu diekstensikan
    dari sesama manusianya kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaanya dianggap berada di
    luar akalnya, maka akan timbul religi; dan

(7) doronganakan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak.

  • Aspek-aspek Kepribadian

Aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin (2003) yang mengemukakan mengenai aspek-apek kerpibadian yaitu sebagai berikut:

  • Karakter, adalah konsekuen tidaknya mematuhi etika perilaku konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. 
  • Temperamen, adalah disposisi rekatif seorang, atau cepat lambatnya mengenai mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan  akan yang datang dari lingkungannya. 
  • Sikap, ialah sambutan terhadap objek yang sifatnya positif, negatif atau ambivalen. 
  • Stabilitas emosi, yaitu ukuran kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan lingkungannya, Misalnya mudah tidak tersinggung, marah, putus asah atau sedih. 
  • Responsibilitas (tanggung jawab), yaitu kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Misalnya mau menerima risiko yang wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi. 
  • Sosiabilitas , adalah disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Misalnya, sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
  • Tipe Kepribadian

Lebih dari 400 tahun sebelum Masehi Hippocrates, seorang tabib dan ahli filsafat yang sangat pandai dari Yunani, mengemukakan suatu teori kepribadian yang mengatakan bahwa pada dasarnya ada empat tipe temperamen. Sebenarnya, ada beberapa teori mengenai macam-macam kepribadian. Teori yang paling popular dan terus dikembangkan adalah teori Hipocrates-Galenus. Yang merupakan pengembangan dari teori Empedokretus. Berdasarkan pemikirannya, ia mengatakan bahwa keempat tipe temperamen dasar itu adalah akibat dari empat macam cairan tubuh yang sangat penting di dalam tubuh manusia :

  1. Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning)
  2. Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam)
  3. Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir)
  4. Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah)

Kemudian teori Hippocrates di sempurnakan kembali oleh Galenus yang mengatakan bahwa keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dalam proporsi tertentu, dimana jika salah satu cairan lebih dominan dari cairan yang lain, maka cairan tersebut dapat membentuk kepribadian seseorang.

Berpuluh tahun lamanya tipologi yunani yang bersifat filosofis ini berpengaruh luas sekali. Bahkan psikologi modern telah mengemukakan banyak saran baru mengenai penggolongan temperamen, tetapi tidak ada yang dapat menemukan penggolongan yang lebih bisa diterima seperti yang dikemukakan oleh Hippocrates dan Galenus. Untuk memperoleh gambaran mengenai berbagai sifat temperamen yang melekat dalam setiap cairan, berikut adalah gambaran dari penggolongan manusia berdasarkan keempat bentuk cairan tersebut. Sekarang kita bahas satu-satu tipe kepribadian tersebut:

  1. Melankolis

Cairan yang dominan pada individu melankolis adalah melanchole (empedu hitam). Pribadi melankolis disebut sebagai pribadi yang perfeksionis. Berikut ini kelebihan dan kelemahan pribadi melankolis:

  • Kelebihan:
  • Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
  • Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
  • Artistik, musikal, kreatif (filsafat dan puitis)
  • Sensitif
  • Mau mengorbankan diri dan idealis
  • Standar tinggi dan perfeksionis
  • Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
  • Hemat
  • Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
  • Kalau sudah mulai, dituntaskan
  • Berteman dengan hati-hati
  • Puas di belakang layar, menghindari perhatian
  • Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
  • Sangat memperhatikan orang lain
  • Kelemahan:
  • Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
  • Mengingat yang negatif dan pendendam
  • Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
  • Lebih mementingkan sebuah proses daripada hasil
  • Tertekan pada situasi yang tidak sempurna dan berubah-ubah
  • Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan
  • Memiliki standar yang terlalu tinggi sehingga sulit untuk disenangkan
  • Hidup berdasarkan definisi
  • Sulit bersosialisasi
  • Suka mengkritik, tapi sensitif terhadap kritik/yang tidak menyukainya
  • Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
  • Rasa curiga yang besar (skeptis terhadap pujian)
  • Memerlukan persetujuan
  • Korelis

Cairan yang dominan pada individu korelis adalah chole (empedu kuning). Pribadi melankolis disebut sebagai pribadi yang kuat. Berikut ini kelebihan dan kelemahan pribadi korelis:

  • Kelebihan:
  • Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
  • Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
  • Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/target
  • Bebas dan mandiri
  • Berani menghadapi tantangan dan masalah
  • Selalu mencoba untuk menjadi lebih baik
  • Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
  • Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
  • Membuat dan menentukan tujuan
  • Terdorong oleh tantangan dan tantangan
  • Tidak begitu memerlukan teman
  • Mau memimpin dan mengorganisasi
  • Biasanya benar dan mempunyai visi ke depan
  • Unggul dalam keadaan darurat
  • Kelemahan:
  • Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
  • Senang memerintah
  • Terlalu bersemangat dan sulit untuk bersantai
  • Menyukai kontroversi dan pertengkaran
  • Terlalu kaku dan kuat/keras
  • Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
  • Tidak suka hal-hal yang sepel dan bertele-tele/terlalu rinci
  • Sering membuat keputusan tergesa-gesa
  • Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
  • Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
  • Workaholic (kerja adalah “Tuhannya”)
  • Sangat sulit mengaku salah dan meminta maaf
  • Mungkin selalu benar tapi tidak populer
  • Sanguis

Cairan yang dominan adalah sangui (darah). Berikut kelebihan dan kelemahan pribadi sanguis:

  • Kelebihan:

Suka berbicara

Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif

Antusias dan ekspresif

Ceria dan penuh rasa ingin tahu

Hidup di masa sekarang

Mudah berubah (banyak kegiatan/keinginan)

Berhati tulus dan kekanak-kanakan

Senang berkumpul dengan orang lain (untuk berbincang/bercerita)

Mudah berteman dan menyukai orang lain

Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian

Pribadi menyenangkan sehingga membuat oarng lain merasa iri

Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)

Mengambil inisiatif / menghindar dari hal-hal yang membosankan

Menyukai hal-hal yang spontan

  • Kelemahan:
  • Membesar-besarkan suatu kejadian
  • Susah untuk diam
  • Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain
  • Seringkali meminta persetujuan untuk hal-hal yang sepele
  • Rentang konsentrasi pendek
  • Dalam bekerja lebih suka berbicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
  • Mudah berubah-ubah
  • Seringkali tidak tepat waktu
  • Prioritas pekerjaan kacau
  • Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan hingga tuntas
  • Sering ikut campur dalam permasalahan orang lain, seolah-olah permasalahannya sendiri
  • Egoistis
  • Seringkali berdalih dan mengulang-ulang cerita
  • Phlegmatis

Cairan yang dominan adalah phlegma (lendir). Plegmatis dikenal sebagai individu pecinta damai. Berikut kelebihan dan kelemahan individu phlegmatis:

  • Kelebihan:
  • Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
  • Sabar, seimbang dan pendengar yang baik
  • Tidak banyak bicara tapi cenderung bijaksana
  • Simpatik dan baik hati (seringkali menyembunyikan emosi)
  • Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
  • Penengah masalah yang baik
  • Cenderung berusaha menemukan cara termudah
  • Tidak mudah terpengaruh oleh tekanan
  • Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
  • Rasa humor yang tajam
  • Senang melihat dan mengawasi
  • Berbelas-kasihan dan peduli
  • Mudah dijak rukun dan damai
  • Kelemahan:
  • Kurang antusias terutama terhadap kegiatan/hal baru
  • Takut dan khawatir
  • Menghindari konflik dan tanggung-jawab
  • Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
  • Terlalu pemalu dan pendiam
  • Humor kering dan terlalu mengejek (sarkastik)
  • Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
  • Kurang berorientasi pada tujuan
  • Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
  • Tidak senang didesak
  • Menunda-nunda / menggantungkan masalah
  • Faktor Pembentuk Kepribadian

Terbentuknya kepribadian setiap individu dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, dan pengalaman-pengalaman. Faktor biologis dapat berupa keadaan jasmani ibu selama mengandung bayi dan faktor warisan biologis. Berbagai faktor itu membentuk kebiasaan, sikap, dan sifat yang khas pada setiap orang. Kepribadian seseorang selalu berkembang sejalan dengan berbagai pengaruh yang ia peroleh melalui proses sosialisasi dan interaksi dengan orang lain.

Faktor Prakelahiran (Prenatal)

Sebelum dilahirkan, seorang anak manusia berada dalam kandungan selama kira-kira sembilan bulan sepuluh hari. Selama masa itu, terdapat beberapa hal yang dapat memengaruhi perkembangan calon individu. Penyakit yang diderita ibunya, seperti sipilis, diabetes, dan kanker dapat memengaruhi pertumbuhan mental, penglihatan, dan pendengaran bayi dalam kandungan. Keadaan kandungan ibu juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak yang akan dilahirkan. Kondisi daerah pinggul ibu dapat memengaruhi pertumbuhan bayi selama dalam kandungan. Akibat kondisi yang tidak menguntungkan, dapat menyebabkan bayi lahir cacat atau kidal. Keterkejutan keras (shock), saat lahir dapat pula mengakibatkan bayi itu memiliki kelambanan dalam berpikir. Semua itu dapat memengaruhi pembentukan kepribadian.

Faktor Keturunan (Heredity)

Warisan biologis berpengaruh penting dalam membentuk beberapa ciri kepribadian seseorang, namun tidak menentukan semua ciri kepribadian orang tersebut. Warisan biologis akan berkembang secara optimal bila mendapat pengaruh positif dari lingkungan. Warisan biologis antara lain intelegensi, temperamen, watak, cara berbicara, tinggi badan, warna kulit, jenis rambut, dan sebagainya. Sifat seseorang yang dipengaruhi faktor keturunan adalah keramah-tamahan, perilaku kompulsif (perilaku terpaksa), dan kemudahan dalam pergaulan sosial. Berikut ini akan dijelaskan tiga faktor keturunan yang paling menonjol.

  • Ciri Fisik-Biologis. Secara biologis, setiap manusia memiliki ciri-ciri fisik berbeda yang diwarisi dari orang tuanya. Ada orang yang berbadan tinggi dan gagah, namun ada pula yang kecil dan pendek. Perbedaan fisik-biologis seperti itu dapat memengaruhi ciri kepribadiannya. Orang bertubuh kecil dan pendek mungkin memiliki sifat rendah diri, atau paling tidak merasa tidak seberuntung orang yang berbadan tinggi dan gagah. Demikianlah cara berpengaruhnya faktor biologis terhadap kepribadian seseorang. Tentu saja tidak selalu seperti gambaran tersebut. Ada juga orang yang bertubuh kecil dan pendek, tetapi memiliki rasa percaya diri yang besar, terutama apabila sejak kecil lingkungan mengajarinya menjadi orang yang percaya diri.
  • Ciri Psikologis. Sebagian dari sifat dasar yang diwariskan orang tua adalah faktor kejiwaan (psikologis). Unsur-unsur kejiwaan terdiri dari temperamen, emosi, nafsu, dan kemampuan belajar. Temperamen adalah perangai, sifat, atau watak yang ditandai dengan mudah atau tidaknya seseorang terpancing amarahnya. Ada orang yang dikenal dengan temperamen tinggi atau mudah marah. Emosi berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, dan sedih atau gembira. Orang emosional tidak selalu berarti orang yang cepat atau suka marah. Orang yang mudah terharu melihat adegan sedih dalam film juga termasuk orang yang emosional. Nafsu adalah keinginan kuat ke arah suatu tujuan. Nafsu ada yang mengarah pada tujuan positif, seperti nafsu makan, nafsu menjadi orang sukses, dan lain-lain. Namun ada pula nafsu ke arah tujuan negatif, misalnya nafsu serakah dan keinginan untuk menang sendiri.
  • Tingkat Kecerdasan. Salah satu bagian kepribadian yang diwarisi dari orang tua adalah kemampuan belajar atau tingkat kecerdasan. Menurut hasil suatu penelitian, kecerdasan seorang anak mirip atau hampir sama dengan tingkat kecerdasan orang tua kandungnya. Apabila seorang anak diasuh oleh orang tua angkat, tingkat kecerdasan orang tua angkat tidaklah berpengaruh. Setiap orang memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Para ahli ilmu jiwa menggolongkan tingkatan-tingkatan itu menjadi idiot, debil, embisil, moron, normal, pandai, supernormal, dan genius. Rata-rata orang memiliki kecerdasan normal, hanya sedikit orang yang memiliki tingkat kecerdasan di atas normal (genius) atau di bawah normal (idiot).

Faktor Lingkungan (Environment)

Ciri-ciri kepribadian seseorang dalam hal ketekunan, ambisi, kejujuran, kriminalitas, dan kelainan merupakan hasil pengaruh lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik keadaan fisik, sosial, maupun kebudayaan. Dengan demikian, ada tiga faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Namun, pengaruh ketiganya tidak berdiri sendiri.

  • Lingkungan Fisik. Lingkungan fisik meliputi keadaan iklim, tipografi, dan sumber daya alam. Ketiganya dapat memengaruhi perilaku masyarakat yang tinggal di dalamnya. Keadaan iklim dan geografi suatu daerah memengaruhi perilaku seseorang. Tanah yang subur mampu mendukung kehidupan penduduk secara lebih baik. Kualitas hidup yang baik memengaruhi perilaku seseorang. Sementara itu, daerah yang tandus menyebabkan penduduknya miskin. Perilaku orang miskin jelas berbeda dengan perilaku orang berkecukupan. Keadaan lingkungan fisik juga berpengaruh terhadap karakter seseorang, misalnya kehidupan pada masyarakat pantai. Orang-orang yang tinggal di pantai berbicara dengan nada keras dan agak kasar. Hal tersebut akibat pengaruh suasana laut yang riuh oleh deburan gelombang. Mereka berbicara keras dan berwatak kasar karena dipengaruhi kehidupan yang keras di laut.
  • Lingkungan Sosial. Unsur-unsur pembentuk lingkungan sosial adalah kebudayaan, pengalamankelompok, pengalaman unik, sejarah, dan pengetahuan. Faktor lingkungansosial bersifat dinamis yang artinya faktor tersebut tidak bersifat permanen danakan terus mengalami perubahan. Unsur-unsur tersebut memberi pengaruhterhadap individu yang terlibat dalam lingkungan sosialnya. Pengaruh yangdiberikan kepada seorang individu. Hal seperti ini menyebabkan kepribadianyang muncul pada setiap individu juga berbeda-beda. Di samping itu, juga dapatdisebabkan oleh perbedaan cara yang dilakukan oleh setiap individu dalammembentuk kepribadiannya masing-masing. a) Unsur Kebudayaan Bentuk kebudayaan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anggota-anggotanya. Suatu kebudayaan tidak secara langsung memengaruhi suatu masyarakat, akan tetapi melalui proses pembiasaan yang terjadi terus-menerus. Dengan proses pembiasaan tersebut, anggota-anggota masyarakat akan mengalami perkembangan ke arah bentuk baru secara alamiah. Pengaruh ini dapat dilihat dengan jelas, apabila salah satu anggota masyarakat tersebut berada di luar kelompok budayanya dan bertemu dengan kelompok budaya lain. Misalnya A berasal dari Medan. Dalam kehidupan sehari-hari, dia terbiasa berbahasa dengan gaya bahasa yang keras. Ketika dia berada di daerah Keraton Yogyakarta yang berbudaya jawa halus dengan tutur kata yang sopan, dia merasa berbeda dengan orang-orang disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya orangMedan atau Batak telah memengaruhi kepribadian A. b) Unsur Pengalaman Kelompok. Tanpa pengalaman kelompok, kepribadian seseorang tidak berkembang. Sejak dilahirkan, seorang anak hidup dalam kelompok sosial, yaitu keluarga. Dari pengalaman bergaul dengan anggota keluarganya, secara bertahap anak menerima berbagai pengalaman hidup. Seiring dengan kematangan fisiknya, berbagai pengalaman sosialpun berakumulasi, sehingga membentuk suatu gambaran mengenai dirinya. Lama kelamaan, pengalaman yang dia peroleh semakin meluas. Dari pengalaman bergaul dengan kelompok bermain, teman sebaya, dan akhirnya dalam lingkungan kerja. Misalnya, apabila seorang anak kehilangan kasih sayang, biasanya dia gagal mengembangkan kepribadian yang wajar. Anak-anak seperti ini akan memiliki masalah dalam kepribadiannya. Mereka dapat tumbuh menjadi orang yang apatis, menarik diri dari pergaulan sosial, atau justru agresif. Seseorang membutuhkan pengalaman kelompok yang intim untuk dapat berkembang sebagai manusia dengan kepribadian normal, bukan manusia yang bermasalah. c) Unsur Pengalaman Unik, Walaupun anak-anak dibesarkan dalam satu keluarga yang sama, bukan berarti mereka selalu memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, anak pertama selalu akan memperoleh perhatian penuh sebagai anak satu-satunya sampai lahir adiknya kemudian. Pengalaman itu bersifat unik dan tidak dirasakan oleh adiknya. Hal seperti ini, terjadi dalam satu keluarga yang sama. Padahal kenyataannya, setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan anak-anaknya. Semua ini merupakan pengalaman yang unik. Setiap pengalaman hidup seseorang bersifat unik. Unik dalam pengertian bahwa tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang sama persis, dengan cara yang persis sama. Keunikan juga berarti tidak ada seorang pun yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama. Tidak ada pengalaman siapa pun yang secara sempurna dapat menyamainya. Mungkin saja pengalaman itu serupa, namun tidak akan benar-benar sama persis. Bahkan, apabila ada dua anak kembar yang diasuh oleh sebuah keluarga yang sama, kemudian diperlakuan secara sama, disekolahkan pada lembaga yang sama, dan memasuki kelompok permainan yang sama sekalipun, tidak akan menjamin kedua anak tersebut memperoleh pengalaman yang sama persis. Selanjutnya, pengalaman yang diterima seorang anak tidak sekadar bertambah, tetapi juga menyatu. Arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung kepada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya. Ini berarti bahwa pengalaman setiap orang merupakan suatu jaringan yang luar biasa rumitnya. Jaringan itu terbentuk oleh jutaan peristiwa yang masing-masing memperoleh arti dan pengaruh dari semua pengalaman yang telah mendahuluinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau kepribadian seseorang bersifat rumit. d) Unsur Sejarah. Sejarah yang dimiliki kelompok masyarakat merupakan bagian yang tidak dapat pisahkan dari kelompok masyarakat tersebut. Nilai yang dikandung dalam sejarahnya secara turun-temurun akan dijadikan semangat dan pegangan dalam bertindak. Sebagai perbandingan, rasa nasionalisme suatu negara yang mengalami penjajahan. Misalnya, orang Surabaya bangga dengan sejarah kepahlawanannya sehingga disebut Kota Pahlawan. Orang Sumatera Barat bangga dengan sejarah yang dibuat oleh Imam Bonjol. Sejarah-sejarah tersebut secara tidak langsung memengaruhi kepribadian anggota-anggota masyarakatnya dalam dalam proses interaksi dan bersosialisasi dengan anggota-anggota masyarakat lain. e) Unsur Pengetahuan. Secara teoritik, semakin tinggi tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin baik pula kepribadiannya. Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi biasanya dijadikan panutan dan teladan bagi anggota masyarakat lainnya. Hal ini menyebabkan, seseorang yang menjadi panutan merasa bahwa dia harus bertindak dan bertingkah laku sebagimana yang diharapkan masyarakat yang meneladaninya. Selain itu, pengetahuan yang dimilikinya berpengaruh terhadap pola pikir yang lebih arif dan bijaksana sehingga kepribadiannya seseorang akan berkembang secara positif.

Faktor Kejiwaan

Faktor kejiwaan tidak bersumber pada faktor biologis tetapi bersumber pada proses interaksi dan sosialisasi dengan masyarakat. Sebagai hasil dari proses sosial, faktor kejiwaan yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang adalah terdiri atas motivasi dan kebutuhan untuk berprestasi atau need for achievement yang disingkat n ach.

  • Motivasi. Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang melakukan tingkah laku tertentu. Motivasi ada yang berasal dari dalam diri seseorang (intrinsik) dan ada pula yang berasal dari luar (ekstrinsik). Setiap manusia memiliki dorongan untuk berusaha memenuhi kebutuhan dasarnya. Misalnya, kebutuhan untuk bergaul, kebutuhan berprestasi, kebutuhan untuk bebas dari rasa takut, dan  lain-lain. Apabila motivasi itu muncul dengan sendirinya, berarti termasuk dorongan intrinsik. Akan tetapi, bila motivasi itu dibangkitkan oleh orang lain, maka disebut dorongan ekstrinsik. Motivasi mengarahkan perilaku seseorang. Misalnya, orang yang bermotivasi tinggi untuk berprestasi, perilakunya terarah pada usaha pencapaian prestasi. Dengan demikian hal-hal yang dipikirkannya pun mengarah ke cara-cara memperoleh prestasi. Motivasi juga membuatnya pantang menyerah walaupun mungkin beberapa kali mengalami kegagalan. Berbagai risiko yang merintangi tidak menyurutkan kegigihannya. Dengan demikian, motivasi telah membentuk pola tindakan, pola berpikir, dan semangat kerja seseorang. Itu semua merupakan bagian dari kepribadian.

N ach. N ach adalah kebutuhan yang dimliki oleh setiap orang untuk berprestasi dalam lingkungan sosialnya. Bentuk-bentuk prestasi berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Bagi pelajar, bentuk n ach adalah berprestasi dalam bidang akademik, misalnya naik kelas atau lulus ujian. N ach muncul dari proses interaksi yang berkembang dan kompetitif. Bagi seseorang yang memiliki n ach akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Keinginan untuk terus berpretasi memunculkan kepribadian positif seperti tekun, pantang menyerah, optimis, dan sebagainya.

  • Sifat Kepribadian Utama yang Memengaruhi Perilaku Organisasi

Evaluasi inti diri

Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas lingkungan mereka. Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama: harga diri dan lokus kendali. Harga diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang manusia.

Machiavellianisme

Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses. Karakteristik kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis pada abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.

Narsisisme

Narsisisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri.[1] Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk.[1] Individu narsisis seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka sehingga individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang mengancam mereka.[1] Individu narsisis juga cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya[1].

Pemantauan diri

Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional eksternal.[10] Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional eksternal[10]. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat pemantauan diri yang rendah.[10]

Kepribadian tipe A

Kepribadian tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain.[11] Dalam kultur Amerika Utara, karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang material yang berhasil.[11] Karakteristik tipe A adalah:[11]

  • selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat;
  • merasa tidak sabaran;
  • berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;
  • tidak dapat menikmati waktu luang;
  • terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh.

Kepribadian proaktif

Kepribadian proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan

  • Sikap
  • Pengertian dan Komponen-Komponen Sikap

Sikap merupakan komponen penting dalam psikologi yang selalu menarik untuk dipelajari. Sikap menentukan kecendurang berperilaku seseorang. Alex Sobur dalam bukunya Psikologi Umum menyampaikan sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi lebih merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek. Objek sikap bisa berupa orang, benda, tempat, gagasan, situasi, atau kelompok (Alex Sobur, 2011:361).

Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah dikondisikan (Azwar, dalam Alex Sobur, 2011:358).

Jadi, pengertian sikap adalah respon dari emosi yang dirasakan, kemudian terjadinya reaksi untuk berpikir, bertindak, dan berpersepsi dari rangsangan yang telah dikondisikan dalam lingkungannya.

Sikap memiliki tiga komponen dasar yaitu kognitif (keyakinan), afektif (perasaan), dan konatif (tindakan). Komponen kognitif mencakup kepercayaan seseorang mengenai suatu hal yang diyakini sebagai dasar apakah objek tersebut benar atau salah untuk menentukan sikap. Sekali kepercayaan dan keyakinan itu terbentuk, maka akan menentukan sikap seseorang kedepannya terhadap objek yang telah diyakininya. Sedangkan komponen afektif mencakup emosi seseorang secara subyektif mengenai suatu objek. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan pribadi terhadap sesuatu. Dan terakhir komponen konatif (perilaku) meliputi perilaku yang tampak sebagai tindakan ataupun perilaku yang tidak tampak seperti pernyataan atau perkataan yang dilakukan seseorang. Dalam hal ini, sikap memiliki hubungan yang erat dengan kepercayaan, perasaan, dan perilaku.

  • Pembentukan dan Perubahan Sikap

Sikap pada manusia terbentuk melalui proses yang tidak singkat. Pembentukan sikap melalui proses interaksi dengan sesama manusia sehingga terdapat hubungan saling mempengaruhi dan saling menolak. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang, yaitu :

  1. Adanya persamaan pengalaman dengan pihak lain, karena persamaan pengalaman ini seseorang dapat memiliki sikap yang sama dalam memandang suatu hal. Pandangan orang lain dan pandangan dirinya terhadap suatu hal yang sama dapat membetuk sikap baru.
  2. Pengamatan terhadap sikap lain yang berbeda. Melihat dan memahami sikap orang lain yang berbeda menjadikan seseorang itu memiliki pandangan apakah dirinya setuju atau tidak dengan sikap orang lain yang berbeda. Secara sederhana dapat menjadi referensi pemikiran untuk dirinya sendiri sebagai pembanding.
  3. Memiliki pengalaman baik atau buruk yang sulit dilupakan. Dengan pengalaman yang sulit dilupakan menjadikan seseorang bersikap dewasa dalam menentukan sikap atau malah menjadikan seseorang memiliki sikap trauma terhadap suatu hal.
  4. Hasil peniruan terhadap terhadap sikap pihak lain. Peniruan sikap terhadap pihak lain terjadi karena seringnya interaksi antara dirinya dengan pihak lain atau menjadikan pihak lain itu sebagai orang yang ia kagumi tindakannya.
  5. Adanya faktor intern dari dalam diri manusia, faktor untuk menerima dan mengolah pengaruh dari luar.

Pembentukan sikap tidak terjadi secara sembarangan. Faktor dalam dan faktor luar saling mempengaruhi sehingga terbentuklah sikap dalam diri manusia. Faktor paling dalam adalah faktor intern dimana memiliki kuasa penuh untuk menyaring, menerima, atau menolak pengaruh dari pihak luar.

Terdapat pembentukan sikap, juga terdapat perubahan sikap. Perubahan sikap pun ada yang terjadi dengan mudah atau sukar, tergantung pada kesiapan dan kekuatan individu masing-masing. Perubahan sikap bisa disebabkan oleh perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dan terjadinya pergeseran norma dalam masyarakat.

Menurut pandangan beberapa tokoh yaitu Krech, Crutchfield, dan Ballachey, keterubahan suatu sikap bergantung pada karakteristik sistem sikap, kepribadian individu, dan afiliasi individu terhadap kelompok yang dapat mempengaruhi perubahan sikap.

  • Karakteristik Sistem Sikap
  • Sikap ektrem, yaitu sikap yang sulit diubah baik secara kongruen maupun inkongruen. Perubahan kongruen yaitu perubahan yang searah dari sikap semula. Perubahan inkongruen yaitu perubahan sikap kearah yang berlawanan dari sikap semula.
  • Multiefeksitas, yaitu suatu sikap yang mudah diubah secara kongruen tetapi sulit diubah secara inkongruen atau sebaliknya.
  • Konsistensi, yaitu sikap yang stabil karena adanya komponen yang saling mendukung. Sikap ini mudah dirubah secara kongruen, sedangkan sikap yang tidak stabil lebih mudah diubah secara inkongruen.
  • Interconnectedness, yaitu keterikatan suatu sikap dengan sikap lain yang saling berhubungan. Contohnya cara dia memperlakukan baik teman-temannya dikaitkan dengan sikap patuh dan menghormati kedua orang tuanya. Sikap ini sulit diubah secara inkongruen.
  • Kepribadian Individu
  • Intelegensi, yaitu tingkat pemahaman seseorang dalam memahami suatu informasi.
  • General persuasibility, yaitu kesiapan seseorang untuk menerima pengaruh social tanpa memandang komunikatornya, topik, media, dan komunikasinya.
  • Self defensiveness, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikapnya demi mempertahankan harga dirinya.
  • Afisiliasi Kelompok

Yaitu Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan kelompok terhadap dirinya. Seseorang yang telah memegang teguh norma kelompoknya akan sulit diubah sikapnya secara inkongruen tetapi lebih mudah dirubah secara kongruen dengan cara diberi arahan dan pengetahuan atau pengalaman oleh kelompoknya.

  1. Fungsi dan Sumber Sikap

Sikap memiliki fungsi yang berbeda-beda bagi setiap individu. Rita L. Atkison dan kawan-kawan menjabarkan lima fungsi sikap pada manusia, yaitu

  1. Fungsi Intrumental, yaitu sikap yang manusia pegang memiliki alasan untuk mendapatkan manfaat seperti untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman.
  2. Fungsi Nilai Ekspresif, yaitu sikap yang mencerminkan atau mengekspresikan diri manusia terhadap suatu objek.
  3. Fungsi Perubahan Ego, yaitu sikap yang melindungi diri manusia dari kecemasan atau ancaman bagi harga diri masing-masing individu.
  4. Fungsi Penyesuaian Sosial, yaitu sikap yang manusia bangun untuk menyesuaikan dengan lingkungan sosial supaya diterima didalamnya.
  5. Fungsi Pengetahuan, yaitu sikap yang membantu manusia memahami dunia, baik perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, budaya, dan interaksi lingkungan, yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang ahli psikologi sosial Calhoun & Acocella (dalam Alex Sobur, 2011) menyatakan terdapat tiga sumber sikap yang utama. Pertama, pengalaman pribadi. Pengalaman menyenangkan atau menyakitkan dapat menjadi faktor terbentuknya sikap terhadap suatu objek dalam diri individu. Kedua, pemindahan sikap yang menyakitkan. Pemindahan adalah secara tidak sadar mengalihkan perasaan yang menyakitkan dari objek yang bersangkutan. Ketiga, pengaruh sosial. Pengaruh sosial memiliki peluang besar yang menjadi sumber utama sikap seorang individu.

  • Prasangka
  • Definisi Prasangka
  • Definisi Prasangka Secara Umum

Prasangka berasal dari kata “Pra” yang berarti sebelum, dan “sangka” yang berarti dugaan. Prasangka merupakan anggapan dasar tanpa membuktikan kebenarannya terlebih dahulu. Prasangka bisa menjurus ke pemikiran positif atau negatif. Namun prasangka yang berkembang di masyarakat selalu memiliki konotasi negatif.

  • Definisi Prasangka Menurut Para Ahli
  • Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000) pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka atau prejudice merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi tentang kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial.
  • Menurut Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yangmemiliki nilai positif atau negatif, tetapi biasanya lebih bersifat negatif. Sedangkan menurut Brehm dan Kassin (1993), prasangka sosial adalah perasaan negatif terhadap seseorang semata-mata berdasar pada keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu.
  • Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki kualitas suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut.
  • Selanjutnya Kartono, (1981) menguraikan bahwa prasangka merupakan penilaian yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifatnya berat sebelah dan dibarengi tindakan yang menyederhanakan suatu realitas.
  • Prasangka sosial menurut Papalia dan Sally, (1985) adalah sikap negatif yang ditujukan pada orang lain yang berbeda dengan kelompoknya tanpa adanya alas an yang mendasar pada pribadi orang tersebut. Lebih lanjut diuraikan bahwa prasangka sosial berasal dari adanya persaingan yang secara berlebihan antar 2 individu atau kelompok. Selain itu proses belajar juga berperan dalam pembentukan prasangka sosial dan kesemuanya ini akan terintegrasi dalam kepribadian seseorang.
  • Allport, (dalam Zanden, 1984) menguraikan bahwa prasangka social merupakan suatu sikap yang membenci kelompok lain tanpa adanya alasan yang objektif untuk membenci kelompok tersebut. Selanjutnya Kossen, (1986) menguraikan bahwa prasangka sosial merupakan gejala yang interen yang meminta tindakan pra hukum, atau membuat keputusan-keputusan berdasarkan bukti yang tidak cukup. Dengan demikian bila seseorang berupaya memahami orang lain dengan baik maka tindakan prasangka sosial tidak perlu terjadi.
  • Menurut Sears individu yang berprasangka pada umumnya memiliki sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang diprasangkai. Prasangka cenderung tidak didasarkan pada fakta-fakta objektif, tetapi didasarkan pada fakta-fakta yang minim yang diinterpretasi secara subjektif. Jadi, dalam hal ini prasangka melibatkan penilaian apriori karena memperlakukan objek sasaran prasangka (target prasangka) tidak berdasarkan karakteristik unik atau khusus dari individu, tetapi melekatkan karakteristik kelompoknya yang menonjol.
  • Komponen Prasangka

Prasangka melibatkan tiga komponen, yaitu afeksi (emosi), kognisi dan perilaku.

  • Komponen Afeksi

Terwujud pada perasaan tidak suka terhadap objek prasangka

  • Komponen Kognisi

Terwujud pada penilaian yang negatif terhadap objek prasangka

  • Komponen Perilaku

Terwujud pada predisposisiuntuk bereaksi atau berperilaku negatif terhadap objek prasangka

  • Penyebab Timbulnya Prasangka

Sama halnya dengan sikap, prasangka terbentuk karena melalui proses interaksi dengan sesama manusia dan lingkungan. Orang tua menjadi faktor utama pembentukan prasangka pada seorang individu sejak kecil. Interaksi dengan teman menjadi faktor pembentukan pransangka pada seorang individu saat berada pada masa-masa sekolah. Dan lingkungan menjadi faktor pembentukan prasangka pada seorang individu saat ia dewasa dan tua.

Gordon W. Allport dalam bukunya The Nature of Prejudice merinci lima perspektif sebab-sebab terjadinya prasangka. Kelima tersebut ialah :

  1. Perspektif historis. Perspektif ini didasarkan pada pertentangan kelas. Kelas atas dianggap memiliki hak untuk menyalahkan kelas bawah. Contohnya prasangka terhadap orang yang berkulit putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berawal dari sejarah perbudakan orang-orang negro padasekitar 300 tahun yang lalu. Walupun sekarang orang-orang negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap orangt negro sebagai manusia yang kedudukannya lebih rendah daripada orang berkulit putih.
  2. Perspektif sosiokultural dan situasional. Pespektif ini menekankan kondisi saat ini sebagai faktor timbulnya prasangka.
  3. Perspektif kepribadian. Prasangka lebih disebabkan adanya tipe kepribadian yang berbeda-beda tiap individu.
  4. Perspektif fenomologis. Persepsi ini menekankan pada cara pandang individu untuk memersepsikan lingkungannya sehingga persepsilah yang menimbulkan prasangka.
  5. Perspektif Naive

Perpsektif ini menyatakan prasangka dari sudut pandang masing-masing individu terhadap pihak lain yang menjadi lawannya.

  • Teori-teori yang Berkaitan dengan Prasangka
  • Teori Konflik Realistik

Teori ini menyatakan apabila dua kelompok saling bersaing memperebutkan sumber daya yang langka, mereka akan saling mengancam. Hal ini akan menimbulkan permusuhan dan munculnya penilaian negatif yang bersifat timbal-balik. Individu/kelompok yang paling merasa terancam akan menjadi individu/kelompok yang paling besar prasangkanya. Misalnya: di Amerika, banyak tindak kriminal yang dilakukan oleh orang berkulit hitam, oleh karena itu, banyak orang yang berkulit putih yang merasa terancam oleh orang berkulit hitam dan berprasangka negatif pada orang berkulit hitam.

  • Teori Belajar Sosial

Memandang prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari dengan cara yang sama seperti seseorang belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka disebar-luaskan dari satu orang ke orang yang lain sebagai bagian dari sejumlah norma. Prasangka diperoleh anak melalui proses sosialisasi. Anak akan mempelajari sikap berprasangka agar diterima oleh orang lain.

  • Teori Psikodinamika

Prasangka dianggap sebagai ekspresi dari kondisi-kondisi yang tidak disadari, yang bersumber dari konflik internal, kekerasan, frustasi dan tekanan lingkungan yang kemudian dialihkan kepada kelompok yang tidak bersalah atau minoritas. Teori ini juga menganggap prasangka sebagai ganggguan kepribadian seperti halnya phobia dan neurotis.

  • Bentuk-bentuk Prasangka
  • Antikolisis

Berupa gosip atau humor yang bermaksud mengejek atau menyindir orang-orang yang menjadi subjek prasangka.

  • Avoidance

Jika prasangka lebih intens maka individu yang berprasangka akan menghindari objek prasangka. Misalnya: menghindari objek prasangka. Dalam hal ini avoidance tidak membahayakan objek prasangka, namun hanya merasa tidak nyaman apabila berhubungan dengan objek prasangka.

  • Diskriminasi

Individu yang berprasangka membuat perbedaan yang tegas dalam memperlakuakan kelompok orang-orang yang disukainya ataupun orang-orang yang tidak disukainya dalam komunitas tertentu. Misalnya: pekerjaan, perumahan, sekolah dan komunitas lain yang hanya untuk ingrup-nya saja.

  • Serangan Fisik

Dalam kondisi emosi yang sangat tinggi, orang-orang yang memiliki prasangka dapat melakukan serangan atau kekerasan fisik baik langsung maupun tidak langsung.

  • Pembantaian

Jika prasangka sudah mencapai tingkat yang paling tinggi maka muncullah dorongan untuk melakukan pembantaian terhadap anggota outgrup. Misalnya: konflik agama di maluku.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar