4

Profesionalisme Guru dalam Pendidikan Holistik (0)

oloan December 9, 2020

Hakikat manusia adalah tubuh, jiwa dan roh, yang dalam bahasaa filsafat kita kenal sebagai body, mind, and soul. Jadi, seharusnya setiap praktisi pendidikan harus memperhatikan hakikat dasariah tersebut. Praktisi pendidikan yang memperlakukan peserta didik sebagai tubuh, jiwa, dan roh itulah yang kita sebut pendidikan holistic.

Setiap program pendidikan (mulai dari TK hingga PT) harusnya memperhatikan perkembangan seluruh aspek “ke-diri-an” subjek didik, yakni perkembangan fisik (tubuh), perkembangan aspek psikis (cognitive, afektif, moral, sosial), dan sekaligus aspek spiritual (ke-Roh-anian)nya. Ketiga aspek ini diperhatikan secara integrative dan menyeluruh, karena merupakan satu kesatuan utuh (holistic) dan tak dapat dipisahkan.

Artinya, dalam setiap kegiatan belajar-mengajar, ketiga aspek dasariah itu perlu diperhatikan oleh guru. Ketika guru mengajar pelajaran bidang studi apa saja, ketiga aspek kedirian manusia itu mesti ikut dikembangkan secara proporsional. Inilah yang kita sebut pendidikan yang holistic. Contoh, guru TIK mengajarkan konsep-konsep K3 di Lab Komputer. Selama mengajar, guru memperhatikan cara duduk dan cara menulis peserta-didiknya- bila ada yang mengetik tubuh condong ke depan, mata hampir menyentuh layar monitor, membungkuk, ini tentu harus diperbaiki oleh guru yang professional. Jangan sampai hal ini menjadi kebiasaan.

Sementara olah pikiran berlangsung ketika guru menjelaskan konsep TIK abstrak – hingga guru yakin bahwa setiap peserta didik benar-benar telah memahami konsep abstrak tersebut dengan baik. Ini olah psikis (jiwa). Dalam kerja kelompok, kerjasama, guru senantiasa mempromosikan kepada setiap anak didiknya bagaimana sikap baik, cara bicara yang simpatik, dan cara memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan. Ini termasuk promosi aspek psikis (jiwa) khususnya afektif, sosial, dan moral.

Kemudian, ketika guru melihat kesempatan untuk bersyukur, senantiasa mengajak peserta-didiknya untuk memikirkan yang Transenden (Pencipta) yang menyebabkan kita mampu memikirkan semua konsep TIK dan sekaligus akan menggunakan konsep ini untuk membantu sesama dalam hidup kita sehari-hari. Ini sudah masuk pada dimensi spiritual (transedental – universal). Tentu saja, bila setiap guru mengajar dengan penuh semangat seperti itu – dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah “gerak bersama” (total action), maka sekolah menjadi tempat mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan diri secara utuh dan menyeluruh (holistic). Di sini, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan (aspek mind), melainkan juga tempat berlatih mengolah: emosi, afeksi, hidup sosial, dan kerohanian. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tapi seorang pendidik professional yang mendidik dengan hati.

Agar mampu berperan sebagai agen pendidik holistic, guru perlu menjadi professional. Artinya, guru benar-benar menguasai materi yang diajarkannya, serta tahu menerangkannya dengan cara yang sederhana kepada setiap peserta-didik – pun peserta-didik yang pemahamannya terbatas harus mampu mengerti akan apa yang disampaikan oleh guru. Guru mampu menjelaskan kepada peserta didik, bagaimana penerapan setiap konsep yang diterangkannya itu pada dunia nyata. Untuk itu, setiap kali guru menerangkan suatu konsep abstrak, dia menyediakan dua atau tiga contoh dalam hidup sehari-hari bagaimana konsep itu diaplikasikan nantinya.

Maka, pengajaran guru professional seperti ini pasti akan selalu menarik. Untuk itu, guru perlu berlatih, banyak membaca, terus membaharui diri, dan mencoba mengaplikasikan ilmu yang diajarkannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga guru member keterangan teori yang telah didukung dengan contoh dan fakta-fakta dari pengalaman lapangan yang dapat dirasakan dalam hidup sehari-hari.

Mendidik dengan hati, menggandaikan kesediaan berbagi dan mau membuat orang lain benar-benar memahami apa yang kita jelaskan. Dalam pendidikan holistic itu, guru memperhatikan perasaan dan keadaan setiap peserta didiknya. Ketika ada wajah yang lesu, guru tahu ada sesuatu yang terjadi pada peserta didiknya. Ketika wajah siswanya bingung, guru tahu bahwa keterangan atau penjelasnnya masih perlu diulangi lagi, atau perlu bimbingan individual bagi siswa tersebut.

Ketika seorang anak menjadi diam di kelas, dan diejek anak-anak lain, guru langsung memberikan beberapa tips tentang menghargai orang lain dan berlaku baik kepada teman. Guru menjelaskan bahwa dalam diri tiap orang ada Roh (Citra Dia yang menciptakan setiap orang) yang perlu dihargai tanpa syarat.

Bisa dibayangkan, bagaimana kita berada di ruang kelas dimana setiap guru mengajar secara professional. Bila situasi seperti di atas dialami anak selama bertahun-tahun, maka isi bawah sadar anak-anak ini berisi kualitas positif: nilai-nilai moral, sosial, etika, kerohanian yang sangat luar biasa. Bila hal ini terjadi di setiap sekolah kita, secara serentak di semua sekolah di Indonesia, apa yang sedang kita siapkan? Sebuah generasi pemimpin 20-30 tahun mendatang yang tangguh dan akan mampu menjadi garam dan terang dunia, mampu menjawab tantangan. Inilah harapan terang kebahagiaan (Gaudium et Spes) yang sedang kita nantikan.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar