6

Presentasi Dengan Kalender Bekas, Menyenangkan dan Bermakna (+2)

Pendidik Menulis β—‹ Abdul Muis May 12, 2015
DSCN4859

Hasil Karya Peserta Didik, dipajang di dinding kelas

SMA Negeri Yosowilangun adalah salah satu sekolah tingkat menengah atas milik dengan status sekolah Negeri, letaknya di daerah pinggiran dan bahkan perbatasan Kabupaten. Yosowilangun adalah Kecamatan ujung timur dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Di Kecamatn Yosowilangun ini terdapat banyak sekali lembaga pendidikan, dikatakan banyak karena lebih dari 3 lembaga pendidikan yang ada di Kecamatn Yosowilangun, utamanya lembaga pendidikan setingkat SMA. Namun sekolah dengan status Negeri hanya ada satu yakni SMA Negeri Yosowilangun, yang lain adalah sekolah dengan status swasta.

Deret Piala di sekolah ndeso SMAN Yosowilangun

Deret Piala di sekolah ndeso SMAN Yosowilangun

Namun, walaupun tergolong kedalam sekolah ndeso, prestasi serta semangat belajar anak-anak SMAYO (sebutan untuk SMAN Yosowilangun) bisa dikatakan mampu bersaing dengan sekolah di Kabupaten, prestasi yang ditorehkan anak-anak SMAYO pun tak kalah dengan sekolah-sekolah di kota yang notabene memiliki sarana penunjang pendidikan dan fasilitas yang lengkap dan memadai. Tengoklah misalnya pada 2013, saat 10 orang peserta didik SMAN Yosowilangun yang tergabung dalam grup hadrah Al-Banjari, mengikuti kompetisi Festival Hadrah Al-Banjari, yang dilaksanakan oleh STAIN Jember (saat ini IAIN Jember) mereka bersaing dengan 120 grup hadrah tingkat pelajar se Eks-keresidenan Besuki, Probolinggo dan Lumajang, anak-anak SMAYO berhasil meraih juara harapan 2. Prestasi yang cukup membanggakan untuk sekolah ndeso seperti SMAYO. Di kabupaten Lumajang sendiri, untuk seni hadrah Al-Bajari, SMAYO bisa dikatakan tak ada duanya. Bukan hanya pada seni keislaman saja prestasi yang di torehkan oleh generasi emas masa depan ini, di cabang olahraga, basket dan futsal misalnya, anak-anak SMAYO pun menorehkan prestasi yang luar biasa, mereka mampu berbicara banyak, mampu bersaing dan bahkan mampu membawa pulang piala untuk dipersembahkan kepada sekolah tercinta.

Dalam kegiatan pembelajaran, SMAN Yosowilangun bisa di bilang sekolah dengan fasilitas yang jauh dari kata lengkap, tengoklah misalnya LCD proyektor, alat ini hanya terdapat di ruang multimedia, ruangan yang biasa digunakan untuk kegiatan praktik yang berkaitan dengan TIK. Berbicara masalah LCD Proyektor, maka penulis mempunyai cerita dan pengalaman menggelikan sekaligus tak terlupakan, tentunya dalam kegiatan pembelajaran. Saat penulis menyampaikan materi tentang Al-Quran sebagai Pedoman Hidup, maka saat itulah dibutuhkan penjelasan panjang dan mendalam agar peserta didik memahami akan materi serta tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai. Dengan semangat menggebu dan penuh degan keyakinan, penulis menyiapkan bahan untuk dipresentasikan esok hari, bahan yang disiapkan adalah Power Point yang berisi penjelasan tentang materi yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Keesokan harinya, penulis bersama-sama dengan peserta didik dalam satu kelas, bermaksud menggunakan ruang multimedia sebagai ruang kelas yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Mengingat hanya di ruang multimedia lah terdapat LCD Proyektor, maka hemat penulis, tempat ini adalah tempat yang pas untuk menyampaikan materi yang dimaksud, disisi lain penulis pun telah menyiapkan bahan presentasi Power Point untuk disampaikan kepada peserta didik. Singkat cerita, penulis bersama peserta didik kemudian tiba di depan ruang multimedia, ruang yang didalamnya dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan (AC), LCD Proyektor, tata ruang menyerupai studio serta deretan meja dan kursi yang berbeda dengan yang terdapat di ruang kelas. Sebelum penulis bersama peserta didik masuk ke ruang multimedia, terlihat didepan pintu masuk berjejer dengan rapi sepatu, nampaknya barisan sepatu ini adalah milik peserta didik. Tak lama kemdian keluarlah dari dalam ruangan, seorang peserta didik yang menyampaikan bahwa ruang multimedia sedang digunakan untuk kegiatan praktik TIK, apa mau dikata, penulis bersama peserta didik kecewa dan balik kanan menuju kelas, didalam kelas banyak sekali ide muncul, terutama ide-ide konyol yang berasal dari peserta didik sendiri.

Diskusi dan Mengamati

Diskusi dan Mengamati

Ide konyol yang dimaksud salah satunya adalah ada peserta didik yang mengusulkan untuk menjelaskan materi dengan cara presentasi langsung menggunaka buku teks, pesrta didik diminta berkumpul pada satu titik dan merapat, menyimak apa yang dijelaskan oleh guru dengan cara memperhatikan langsung teks yang di pegang, persis sama dengan ketika melihat teks di LCD Proyektor, namun bedanya adalah tulisan atau huruf yang lebih kecil karena langsung diambil dari buku. Ide ini diterima oleh beberapa orang peserta didik, namun sebagian yang lain menolak dengan alasan sia-sia dan sama saja tak akan dapat menampung seluruh peserta didik dalam satu kelas karena jumlahnya banyak sedangkan buku teks yang disajikan untuk presentasi hurufnya kecil, otomatis peserta didik yang berada di barisan belakang tak akan dapat melihat dengan jelas teks yang dimaksud.

Singkat cerita kemudia penulis teringat akan perbincangan bersama seorang rekan pendidik di kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Kabupaten. Dalam obrolan itu tercetus ide untuk memanfaatkan kalender bekas untuk kegiatan pembelajaran, cara ini dibilang cukup berhasil dan tidak memakan banyak biaya alias hemat, disamping itu juga dianggap ramah lingkungan karena sifatnya reuse, kalender yang sudah kadaluarsa masih dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan akan bertahan lama jika dipelihara dan dijaga dengan baik. Alur memanfaatkan kalender bekas untuk kegiatan pembelajaran ini telah penulis jelaskan dalam posting sebelumnya (klik disini untuk melihat detail langkah pemanfaatn kalender bekas dalam kegiatan pembelajaran).

Diskusi dan Mengamati

Diskusi dan Mengamati

Akhirnya penulis menyampaikan ide ini kepada peserta didik dalam satu kelas, mereka nampak antusias dengan ide ini, namun sebagian yang lain masih nampak kebingungan bagaiman cara menggunakannya dalam kegaiatan pembelajaran, khususnya memanfaatkan sebagai alat presentasi. Penulis bersama-sama dengan peserta didik dalam satu kelas kemudian membagi kelas kedalam beberapa kelompok, kepada masing-masing kelompok diberikan materi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh guru (dalam hal ini adalah penulis sendiri). Selain materi, guru juga membagikan gambar dalam bentuk printout, setiap kelompok mendapatkan gambar yang berbeda, pada masing-masing kelompok terdapat sedikitnya empat sampai dengan lima gambar, gambar yang dimaksud erat kaitannya dengan materi pada masing-masing kelompok.

Rangkaian materi beserta gambar ini kemudian didiskusikan, hasil diskusi inilah yang dituangkan kedalam bentuk tulisan menyerupai tulisan yang dituangkan dalam media Power Point, artinya peserta didik hanya menuliskan ringkasan materi hasil diskusi saja pada kalender masing-masing kelompok. Spidol whiteboard dipilih sebagai alat untuk menulis, besar font pun disesuaikan dengan keinginan masing-masing, agar ketika presentasi, tulisan dapat terbaca walau dari jarak yang cukup jauh.

Menulis Hasil Diskusi di Kalender Bekas untuk Dipresentasikan

Menulis Hasil Diskusi di Kalender Bekas untuk Dipresentasikan

Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan diskusi dan menuangkan hasil diskusi kelompok ke dalam tulisan di atas kalender bekas, maka kini saatnya eksekusi, setiap kelompok sesuai dengan materi dan urutan kelompoknya, menyampaikan hasil diskusi di depan kelas dengan membawa kalender, secara berurutan presentasi di sampaikan oleh satu kelompok sedangkan kelompok yang lain menyimaknya. Dalam satu kelompok, tugas masing-masing peserta didik ketika presentasi ini pun telah ditetapkan, misalnya ada yang bertugas menjadi tiang penyangga tempat dimana kalender akan diletakkan, tentunya karena tiang penyangganya adalah peserta didik, maka tempatnya pun fleksibel da sesuai dengan keinginan. Adapula yang bertugas untuk membuka slide presentasi dengan cara membalikkan kalender sesuai dengan urutan, serta yang lain bertugas sebagai penyaji. Presentasi ini dilakukan bergantian oleh masing-masing kelompok, dan guru (dalam hal ini penulis sendiri) bertindak sebagai fasilitator, mediator dan moderator yang memimpin jalannya presentasi pada masing-masing kelompok. Diakhir presentasi seluruh kelompok, guru memberikan kesimpulan materi yang disampaikan pada pertemuan kali ini, serta tak lupa memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di rumah.

Menggunakan kalender bekas untuk kegiatan presentasi, sebagai pengganti Power Point dirasa cukup berhasil dalam kegiatan pembelajaran, disamping itu peserta didik juga dituntut untuk kreatif dan mandiri membuat slide tradisional dan manual menggunakan kalender bekas, dengan demikian kreatifitas dan tingkat daya saing antar kelompok dan antar peserta didik pun menjadi lebih tinggi yang pada akhirnya secara otomatis prestasi belajar pun akan semakin meningkat. Untuk sekolah ndeso seperti SMAN Yosowilangun, cara seperti ini (presentasi dengan memanfaatkan kalender bekas) adalah cara menyenangkan dan bisa jadi akan terkenang di hati masing-masing peserta didik, memanfaatkan kalender bekas pun bisa menjadi cara sederhana namun menyenangkan, memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai lagi untuk kegiatan pembelajaran pun menjadikan lingkungan bersih dan lebih ramah serta pastinya hemat dan tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Cara ini pun sebenarnya patut dicoba oleh sekolah-sekolah lain, walau fasilitas yang dimiliki sekolah dapat dikatakan lengkap, maka menggunakan kalender bekas untuk kegiatan presentasi dapat memupuk dan membangun kreatifitas dan semangat bekerja sama antar peserta didik, selamat mencoba.

Β Baner-Guraru2o

Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar