16

Pokoknya……………..tugassss! (+1)

Botaksakti September 8, 2013

Kurikulum 2013 membawa beberapa ‘angin segar’. Di antaranya adalah penekanan bahwa siswalah yang harus menjadi pusat pembelajaran. Guru tidak berfungsi sebagai pemberi tahu, melainkan hanya sebagai fasilitator agar siswa sendiri yang mencari tahu. Kalimat-kalimat yang ‘enak’ sekali kedengarannya. Masalahnya, bagaimana caranya agar semua itu terjadi?

“Ya, pokoknya siswa diberi tugas menemukan sesuatu dan biarkan mereka mencari sendiri jawabannya!”, demikian jawab seorang rekan ketika kami sedang asyik ngobrol soal itu.

“Betul, bukankah kurikulum baru ini memberikan porsi lebih untuk kegiatan penugasan?”, tukas seorang rekan yang lain.

Hemm…..jawaban yang lumayan. Minimal, mereka mulai mengerti bahwa ulangan bukan lagi satu-satunya instrumen evaluasi. Mengubah paradigma ini saja sulitnya setengah mati. Selama ini ulangan masih menjadi satu-satunya kepercayaan banyak rekan guru sebagai alat ukur kemajuan belajar siswa.

Meski cukup melegakan, tetapi jawaban di atas juga cukup meresahkan. Sepertinya ada salah tangkap atau salah paham terhadap kurikulum 2013 ini. Bahwa sejak mula munculnya kurikulum ini para guru sudah diiming-imingi dengan kemudahan tidak membuat silabus, melainkan hanya membuat RPP saja, kiranya turut berperan terhadap gejala tersebut. Mereka terlanjur menganggap mudah kurikulum 2013 ini. Esensi muatan kurikulum agaknya menjadi terabaikan.

Maka wajar bila kemudian muncul ‘jalan pintas’ yang berupa pemberian tugas. Dimata mereka, barangkali, tugas dipandang sebagai satu-satunya instrumen agar siswa bisa menemukan. Oleh karenanya, tugas demi tugas mengalir tiada henti. Dipadu dengan ketidakjelasan arah penugasan akhirnya justru malah membuat siswa kebanyakan tugas. Terbenam dalam tugas bertumpuk seolah menjadikan mereka kura-kura keberatan cangkang. Jangankan untuk bergerak, sedikit menjulurkan kepala saja mungkin akan kesulitan.

Sebenarnya, kalau saya tidak salah, tujuan kurikulum 2013 dengan pendekatan scientific-nya adalah untuk membiasakan siswa berpikir logis. Dalam kaitan ini, tentu pemberian tugas tentu bukan satu-satunya jalan. Bahkan dengan jalan dialog, diskusi, bahkan mengobrol sekali pun, guru bisa melatih mereka berpikir logis. Kuncinya adalah kemampuan guru dalam bertanya.

“Halah, tinggal bertanya saja kok repot!”, begitu mungkin sergahan yang muncul.

Nanti dulu, asal bertanya mungkin memang mudah, tetapi bertanya yang mampu membuat siswa berpikir tidaklah mudah. Butuh kemampuan membuat pertanyaan yang sifatnya ‘deep questions’ atau yang mampu menggali berbagai aspek berpikir. Pertanyaan tentang: Mengapa warna bendera negara kita Merah-Putih?, tentu lebih mendorong siswa berpikir daripada sekedar bertanya tentang: Apa warna bendera negara kita?

Nah, sebenarnya ada beberapa tips yang bisa kita ikuti agar bisa membuat pertanyaan yang baik, utamanya dalam membentuk kebiasaan berpikir bagi siswa-siswi kita. Tertarik? Silakan baca di sini!

 

Comments (16)

  1. Guru kreatif dan guru inovatiflah yang akan membuat anak kreatif dan inovatif juga. Jika kurikulum ini memang bermaksud melahirkan perserta didik yang kreatif dan inovatif maka pertanyaannya: sudahkah guru membuktikan bahwa dia kreatif dan inovatif juga? Salam sukses.

  2. Terimakasih pak Botaksakti atas sharingnya. Tips membuat pertanyaan yang baik, dan tentunya menantang ya pak Botaksakti sehingga siswa diajak untuk berpikir kritis dan logis. Hal inilah yang ditekankan pada awal pembelajaran (kegiatan pendahuluan).

    Dalam implementasi kurikulum 2013 tidak berpatokan pada tugas dan tugas saja. Guru harus memahami makna yang terkandung dalam Permendikbud No.65 tahun 2013 tentang standar proses dan Permendikbud No.66 tentang standar penilaian sehingga dapat mengimplementasikannya secara baik dan benar. Guru harus membaca.

    Salam hormat..,

  3. Saya vote dulu ahh artikel ini! Nahhh…info terkait Seni Bertanya Efektif inilah yang sedang saya cari-cari dan kebetulan saya pernah bertemu dgn sang penulis artikel (Asep Sapa’at) di Smart Ekselensia-Bogor dalam sebuah ajang kompetisi di sana. Ahh…jadi teringat memori kala bersua Pak Asep tsb. Ingin rasanya ngobrol lagi dgn beliau. Trims Mr.Botaksakti! 🙂

  4. Ehmm ya, kurikulum 2013 pembelajaran berpusat pada siswa dan silabusnya telah disiapkan. Saya juga sedang ikut aktif dalam pembelajaran di kelas X ini, khususnya kimia. Sebagian siswa ternyata awalnya sulit mengembangkan nalar untuk menganalisis data hingga merumuskan simpulan. Waktu yang diperlukan avak banyak, guru harus menahan diri tidak intervensi, bimbingan diberikan pada kelompok yang memerlukan. Bagaimanapun tugas harus jelas, pertanyaan harus dirancang lebih dahulu. Alhamdulillah, bulan September ini pembelajaran sudah lebih efektif. Kreativitas dan berpikir kritis mulai tampak dan bimbingan makin mudah. Insya Allah Guraru juga merasakan hal yang sama. Terima kasih sharingnya, salam perjuangan.

  5. Wah bagus sekali ya bu.

    Guraru, dalam setiap pertemuan pembelajaran tentunya guru harus mempersiapkan media belajar, alat-alat bantu belajar, instrumen dan rubrik penilaian. Penilaiannya tidak hanya pada hasil saja namun penilaiannya pada proses dan hasil.

    Sukses buat implementasi kurikulum 2013-nya.

    Salam perjuangan,

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar