8

Plagiat di kalangan pendidik (+4)

Bu Etna @gurutematik October 5, 2013

Sejak sekolah dasar (SD) kita sudah belajar mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia. Ketika itu rasanya setiap anak berjuang untuk bisa menulis. Rasanya teman-teman sekelasku jujur semua. Ketika duduk di bangku SMP, perjuangan untuk bisa mengarang bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah mulai diajarkan, makin gigih. Karangan kami mulai ada yang mendapat pujian dan dapat diikutkan lomba. Di SMA makin banyak yang pandai mengarang, apalagi setelah melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Banyak karya tulis ilmiah yang hebat dan patut diteladani.

Namun ketika kami masuk ke dunia kerja, banyak sekali berita nan heboh yang amat mengejutkan, yaitu tentang hasil karya tulis ilmiah bangsa kita. Berita yang rasanya tak masuk akal, terutama di kalangan pendidik adalah mengenai plagiat karya tulis. Plagiat ini ditemukan pada karya tulis guru yang akan naik tingkat.

Lebih mengejutkan lagi ketika pada hari Kamis, 3 Oktober 2013, koran pagi Jawa Pos halaman 16 terbaca olehku:”Plagiat Marak di Kalangan Dosen.” Rekan Guraru, bayangkanlah diantara para pendidik di negeri kita ini masih saja melakukan hal-hal yang tak patut. Pendidik bertugas mendidik murid atau mahasiswanya, diantaranya membuat karya tulis. Kita meminta murid menulis, namun kita tidak mau atau tidak ingin menulis. Bahkan ketika harus menyerahkan tulisan untuk kenaikan tingkat, eh … tetap tidak menulis, namun mengambil jalan pintas, menjadi plagiator.

Silakan Guraru membacanya, saya tidak banyak mengungkapkannya disini. Dikatakan bahwa pelakunya adalah dari Guru Besar hingga Lektor Kepala. Telah diketemukan banyak kejanggalan, diantaranya ada suatu judul jurnal yang sama, penerbit dan tanggal terbitan sama, namun isinya berbeda. Tujuan dari kasus tersebut ternyata bukan jumlah uang kenaikan gajinya, namun untuk Prestise.

Rekan Guraru, marilah kita terus membaca, menulis, dan berbagi di website ini. Tujuan kita untuk meningkatkan kualitas sebagai pendidik yang amat diperlukan untuk melayani generasi penerus. Marilah kita terus menulis dengan kalimat sendiri. Kita hindari keinginan plagiat walaupun masih dalam hati. Insya Allah ke depan nanti tak ada lagi berita “Maraknya Plagiat ….” Amin.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (8)

  1. bismillah
    sy vote up dulu bunda, dan menikmati menjadi komentator yang pertama heeeeee …. kayak lomba aja …..
    ah jangan-jangan sy termasuk di dalamnya, …..
    mudah2an kami dilindungi dari plagiator …..
    terima kasih bunda sudah memberi pencerahan di pagi ini ….. selamat istirahat 🙂

  2. Terimakasih ibu Etna Rufiati atas sharingnya. Saya ikut prihatin dengan berita itu. Ini salah satu bukti bahwa budaya menulis memang belum muncul di kalangan dosen dan guru yang pada akhirnya mencari jalan pintas dengan melakukan plagiat. Semoga guraru sekalian tidak termasuk didalamnya.

    Ayo Guraru, kita budayakan menulis, menulis dengan kalimat sendiri.!

    KATAKAN TIDAK kepada “Plagiatisme”.

    Salam hormat,

  3. Terima kasih pak Subakri dan pak Sukani atas responnya. Insya Allah kita tidak termasuk plagiat. Let’s do the best in our life every moment. Remember, education is our life. So we should educate ourselves before we motivate others, both teachers and students.

  4. Iya pak Sofyanto, Insya Allah kita terhindar dari niatan tersebut. Oleh sebab itu, marilah kita terus membaca, belajar, dan menulis, termasuk menulis respon, agar kita terus dapat menjngkatkan kemampuan dan skill menulis. Bagaimanapun guru harus menulis, agar kita terlatih terus menggunakan kata-kata sendiri. Salam perjuangan. Ya pak Sukani, kita harus makin sip, karena untuk mendidik bangsa, kita didik diri sendiri dulu. Terima kasih Guraru atas responnya.

  5. Iya bu Resty, marilah kita didik keluarga dan anak didik kita rajin membaca dan menulis sedini mungkin. Selain itu, karena sekarang adalah bulan bahasa, maka sekaligus menulis dengan bahasa yang baik dan benar ya bu. Untuk itu, harus dimulai dari kita tentunya. Salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar