1

PJJ, LATIH ETIKA KESOPANAN MILLENIAL (0)

Karima Zakiyulfani October 17, 2020

Mari kita sebut saja kondisi pandemi Covid-19 ini adalah kondisi yang tidak ideal, dalam arti tidak normal seperti kondisi tanpa pandemi. Segala aspek kehidupan kita terpengaruh dengan adanya pandemi, kita dituntut untuk dapat dengan cepat menyesuaikan segala aktfitas dengan semua protokoler kesehatan yang diatur oleh pemerintah. Di sisi lain, kita tetap harus beraktifitas seperti biasanya dengan kebijakan WFH (Work From Home) untuk para pekerja dan  BDR (Belajar Dari Rumah) untuk para pelajar.

Kebijakan BDR mengharuskan kita sebagai guru untuk melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dengan memanfaatkan segala akses teknologi yang telah tersedia di era millenial ini. Mulai dari aplikasi Whatsapp, Instagram, Telegram, Email, Quizizz, Google Classroom, Google Form, Zoom, dll. Bagi sebagian siswa beberapa aplikasi tersebut sangat mudah untuk diakses, tetapi bagi sebagian yang lain juga membutuhkan effort lebih untuk mengaksesnya karena berbagai hal. Oleh karena itu, bapak/ibu guru harus pandai dalam memilih aplikasi apa yang mudah diakses oleh semua siswanya tanpa mengesampingkan tujuan dan nilai dari pembelajaran tersebut.

Selama PJJ ini, saya menggunakan beberapa aplikasi dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing kondisi mayoritas siswa saya. Yang paling mudah dan sering saya gunakan adalah whatsapp, alasannya hampir semua siswa sudah memiliki smartphone dan memiliki akun whatsapp (WA) dan semua kelas pasti memiliki grup WA kelas. Sehingga hal ini memudahkan untuk menyampaikan semua pengumuman dan tugas-tugas selama PJJ. Selain itu, penggunaan data internet untuk aplikasi ini juga relativ terjangkau. Namun, apapun aplikasi yang digunakan selama PJJ sudah tentu memiliki sisi positif dan negatif masing-masing. Tinggal bagaimana strategi kita dalam menjalankannya agar tidak memberatkan siswa dan diri kita sebagai pengajar dengan jumlah kelas yang diampu tidak sedikit.

Di sini saya tidak akan membahas apa saja sisi negatifnya, karena menurut saya dengan berjalannya waktu PJJ kita sudah menemukan berbagai cara untuk meminimalisir atau mengatasi sisi negatif tersebut. Sebaliknya saya ingin sedikit membahas tentang secuil sisi positif PJJ yang mungkin sering terlupakan namun menurut saya ini sangat penting dan bisa memberikan nilai pembelajaran lebih pada siswa, baik di masa sekarang maupun masa depannya kelak. Sisi positif tersebut adalah tentang belajar sebuah etika kesopanan.

Menurut K. Bertens (dalam Kurniawan, 2020), etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur perilaku. Saat ini, etika di kalangan millenial atau usia siswa-siswi kita mulia mengalami kemunduran, terutama etika kesopanan. Terkadang saking dekatnya siswa dengan guru, siswa menganggap guru seperti teman sendiri, hal ini bisa diamati dari cara mereka berkomunikasi dengan bapak/ibu guru. Apalagi di masa PJJ ini mereka harus berkomunikasi secara virtual, jadi menurut saya hal ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana konsistensi etika kesopanan mereka dalam berkomunikasi.

Kita mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Sebagian besar siswa sudah mengawali komunikasinya via WA dengan mengucapkan salam kemudian menyampaikan identitas dirinya baru menyampaikan tujuannya, entah ingin menanyakan sesuatu kepada guru atau mengumpulkan tugas. Namun, tak sedikit pula siswa yang masih belum melakukan hal ini, tanpa ada pengantar salam dan perkenalan diri tiba-tiba langsung mengirimkan foto yang berisi hasil mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Selanjutnya adalah kata “terima kasih”, ada sebagian siswa yang mengucapkan “terima kasih” setelah pesan dibalas oleh guru atau setelah mereka paham dengan penjelasan yang diberikan guru ketika mereka bertanya sesuatu. Dan yang terakhir adalah kata “maaf”, ada beberapa siswa yang mengucapkan kata “maaf” kepada guru, entah karena ia terlambat mengumpulkan atau karena kurang teliti dalam membaca petunjuk guru. Hal semacam ini sepertinya sepele, namun menurut saya dapat kita gunakan untuk menilai karakter siswa dengan bijak dan patut diapresiasi.

Bukan berarti kita sebagai guru ingin dihormati dengan kata-kata tersebut, namun alangkah bahagianya jika siswa-siswi kita tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan memiliki etika yang baik, dalam hal ini berkomunikasi secara virtual. Saya pun tidak bermaksud menghakimi siswa-siswi yang belum bisa berkomunikasi dengan baik, justru inilah momen refleksi diri bahwa kita sebagai guru berkewajiban meluruskan dan membimbing mereka, mulai dari hal sekecil ini. Bisa dengan memberikan contoh tindakan ataupun memberikan pegetahuan dasar kepada mereka bagaimana cara berkomunikasi virtual yang baik dengan bapak/ibu guru atau orang yang lebih tua di lingkungan sekitar.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Sumber: Kurniawan, Aris. 2020. Pengertian Etika. www.gurupendidikan.co.id

Comments (1)

  1. Selamat Siang 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar