0

Peta Konsep dalam Pembelajaran (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 12, 2021

Peta konsep atau peta pikiran, ini adalah dua istilah yang berbeda. Pada kali ini saya akan sedikit memberikan tulisan tentang seperti apa sih peta konsep. Apakah peta konsep sama dengan peta pikiran? Mungkin ada yang mengenal mind map dan concept map. Yang terkadang ada yang terbolak balik pemakaian istilah tersebut. Yang seharusnya disebut peta pikiran /mind map disebut peta konsep /concept map.

Mari kita pelajari dulu apakah itu peta konsep.

Peta konsep merupakan kumpulan konsep-konsep yang tergambar dan dihubungkan dengan proposisi-proposisi. Peta konsep merupakan alat untuk membantu pembelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan atau konsep baru, dengan mengorganisasikan bahan-bahan atau konsep yang sudah ada. Menurut Ausubel (Ratna Wilis Dahar, 1988: 149) bahwa “faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal) “, jadi supaya belajar menjadi bermakna, maka konsep-konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum dapat menjelaskan alat atau cara yang sesuai digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa.

Novak dan Gowin (1985:15)  “concept maps are intended to represent meaningful relationship between concepts in the form of propotitions” bahwa  cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan peta konsep”. Struktur peta konsep merupakan simbol adanya konsep prasyarat yang harus ada.

Peta konsep merupkan suatu alternatif selain out lining dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks.  Novak (1985:15) menyatakan “ peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubngkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantic”. Sedangkan menurut George posner dan Alan Rudnitsky dalam Nur (2001: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip dengan peta jalan, namun peta konsep memberikan perhatian pada hubungan anta ride-ide, bukan hubungan antar tempat”.

Peta konsep tidak hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antar konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo ( 2002: 26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.

Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarkis, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas maka Ratna Wilis Dahar ( 1989 : 125 – 126 ) mengemukakan ciri-ciri peta konsep yaitu : Peta Konsep ( pemetaan konsep ) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna. Ciri yang kedua, suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep. Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain. 4). Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu peta konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahannya. “Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru” (Arends, 1997: 251). Peta konsep merupakan penyederhanaan suatu konsep, jika ditulis menggunakan teks mungkin sangat banyak.

Cara menyusun peta konsep menurut Ratna Wilis Dahar (1989: 126)  peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep. Langkah 1: Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep . Langkah 2 : Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama. Langkah 3: Menempatkan ide utama ditengah atau dipuncak peta tersebut. Langkah 4: Mengelompokkan ide-ide sekunder disekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984: 107-110)  menawarkan skema penilaian peta konsep yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif. Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. Perbedaan progresif , menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif , menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. “Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep” (Dahar, 1989: 162)

Selanjutnya Novak dan Gowin (1984: 107-110)  memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu. Skoring didasarkan atas preposisi yang valid. Untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat. Crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif. Siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukkan oleh label konsep.

Penilaian terhadap peta konsep menurut Vargas dan Alvarez  dalam Pizinni (1991: 64) menyatakan tingkatan dari peta konsep dapat dinilai dengan banyaknya cabang, kaitan silang dengan penilaian sebagai berikut : Hirarkis , jumlah dari tingkatan yang ada dengan penilaian perlevel satu poin. Hubungan antar konsep, hubungan antar konsep dinilai dengan satu poin setiap hubungan. Cabang, dalam setiap cabang terbentuk konsep baru dengan penilaian setiap percabangan dinilai dengan 1 poin ditambah dengan jumlah tingkat atau level. Kaitan silang, kaitan silang menghubungkan hubungan antar konsep yang berbeda hirarkis, dinilai dengan setiap kaitan silang satu poin. Dalam pembelajaran dapat digunakan untuk menilai peta konsep siswa yang paling baik dalam kegiatan presentasi peta konsep dalam penelitian ini. Gambaran tentang peta konsep cukup jelas tergambar dalam peta konsep dalam situs resmi tentang peta konsep yaitu Institute for Human and Machine Cognition (www.cmap.ihmc.us). Penjelasan tentang peta konsep diuraikan dalam gambar 2.3 dengan penjabaran sebagai berikut : Peta konsep merupakan organisasi pengetahuan yang tergantung dari konteksnya. Penggunaan organisasi pengetahuan efektif untuk pembelajaran dan pengajaran, dan dapat untuk melatih ketrampilan berpikir anak. Peta konsep terdiri dari konsep, preposisi, kaitan antar konsep. Preposisi berguna untuk mengkombinasikan antar konsep secara hirarkis dan memerlukan kraetivitas dalam membuat hubungan antar konsep. Bentuk hubungan antar konsep yang berupa preposisi mungkin berupa kaitan silang (cross link). Kaitan silang dapat menghubungkan dengan peta konsep yang lain.

Gambar Peta Konsep

Referensi

Wahidi Agus, 2010, Pembelajaran Kimia Model Quantum Learning dengan Media Peta Konsep dan Riil Lingkungan Ditinjau dari Kreativitas dan Kemampuan Memori Siswa. Tesis. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Canas, A.J. Novak, J.D, 2006,A Collaborative Concept Mapping in Education : major Research Trends, Proceeding of the Second International Conference on Concept Mapping, San Jose, Costarica

Canas A.J. Novak J.D, 2008,A Comparative Analysis on The Use Of Concept Maps As an Instructional Resource for the Grasping of Meanings of Key Concept of Quantum Mechanics Based on the Double Slit Experiment, Proceeding of the Third International Conference on Concept Mapping, Helsinki,Finland

Ratna Wilis Dahar, 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta. Erlangga

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar