9

Persimpangan Dilema dalam Kereta (0)

AfanZulkarnain December 21, 2020

Penulis : Moch Afan Zulkarnain, S.Pd

Gerbong tiga Kereta Mutiara Timur. Aku duduk di bangku deret kedua. Dihadapanku seorang ibu dan putrinya, sementara di sebelahku seorang nenek yang akan menuju Sidoarjo. Sementara aku, gadis berjilbab asal Banyuwangi yang berniat mengadu nasib di Surabaya.


Aku melihat keluar lewat jendela kereta. Pemandangan alam yang menakjubkan, pohon-pohon dan semua benda di luar kereta seperti bergerak. Hanya satu yang tidak terlihat bergerak, langit biru di atas sana. Tak ada awan satupun, dan seketika aku ingat sosoknya.

Ibu.

“Nduk, kamu yakin dengan keputusanmu?” aku teringat ucapan Ibu waktu aku mengatakan keinginanku untuk merantau.

“Iya,bu, ini kesempatan langka. Lamaranku diterima di Bank ternama. Tapi aku harus menjalani training dan penempatan di Surabaya”

“berarti Ibu sendirian?” tanya Ibu dengan nada sedih. 

Sebenarnya aku tak tega. Aku anak tunggal. Bapak telah meninggal saat aku masih kelas 5 SD. Bila aku pergi, otomatis Ibu akan sendiri. 

“Apa Ibu ikut aku ke Surabaya?” aku merajuk.

“Nduk, hati Ibu sudah menyatu dengan Banyuwangi, lagipula siapa yang menjaga rumah ini, juga jahitan Ibu masih banyak yang belum diselesaikan,” kata Ibu menenangkan.

“Maafin Nur ya,bu” Aku memeluk Ibu erat. Kepalanya bersandar di dadaku. Hangat. 

”Nur janji akan bahagiakan Ibu, Nur janji akan sukses,bu”

Janji klise khas anak muda tapi tak tahu harus memulai dari mana untuk melakukannya.

“Biarlah kita berjauhan, tapi do’a Ibu tak akan berhenti untukmu,nduk” itu pesan Ibu sebelum aku berangkat. Pesan yang sampai sekarang membuat aku bergetar mengingatnya.

Tak terasa air mata menetes ke pipi. Aku mencoba menghapusnya tapi semakin ku hapus ,semakin deras pula.

“Jangan menangis. kau harus sukses, kalau kau sukses, kalau kau kaya, Ibumu pasti bahagia,” tiba-tiba aku teringat ucapan Vita, teman baikku. Saat itu aku menelpon dia untuk curhat. Vita sudah bekerja di Bank yang sama sejak setahun yang lalu. 

“Kau tahu menjadi pegawai Bank itu menyenangkan, gajinya lumayan, bisa kau kirim sebagian ke Banyuwangi, untuk ibumu”, Vita berapi-api membujukku agar aku menerima pekerjaan itu.

  Tapi, tiba-tiba terngiang ucapan keras Ibu, “Ibu tak ingin kaya, Ibu hanya ingin terus bersama kamu,Nduk”. Aku ingat, saat itu Ibu memalingkan muka dariku. Seperti ada pisau yang menyayat kulitku. Sakit.

“Suasana kerja di sini nyaman. Orangnya baik-baik. Aku carikan tempat kost yang aman. Dekat masjid. Aku ajak kamu ikut pengajian setiap akhir pekan.” Kembali suara Vita mengisi pikiranku. 


“Tidak ada yang senyaman rumah sendiri. Itu yang kamu tulis di buku harian,kan Nduk?” Terputar suara parau Ibu. “Kita bisa memasak bersama, sarapan dan makan malam berdua, berkebun, menjahit, ikut pengajian Ustadz Ahmad. Kita lakukan bersama.”

   “Kamu mau kerja apa di Banyuwangi? Kamu lulusan terbaik, Nur. Cumlaude. Sayang kalau kamu tidak bekerja di tempat yang bagus.” desisan Vita kala itu muncul kembali.

  Aku juga merasa iri. Banyak rekan-rekan seangkatanku yang sudah bekerja. Tapi aku? Lulusan terbaik malah tidak tahu harus menggunakan ijazah untuk apa.


“Pondok pesantren milik teman Bapak butuh guru, Nduk. Kamu bisa mengabdi. Ilmu itu amalan yang tidak pernah putus. Ibu senang. Pasti almarhum Bapak juga senang. Kamu bisa menyampaikan betapa dahsyatnya ayat-ayat Al-Qur’an.” Kata Ibu saat aku curhat kepadanya tentang belum kunjungnya aku mendapatkan pekerjaan.


“Nur Sarjana Ekonomi, Bu. Bukan Sarjana Agama, bukan pula Sarjana Pendidikan.” Jawabku kala itu.


  “Allah tidak peduli kamu sarjana apa. Sarjana pendidikan kek, sarjana agama, sarjana ekonomi , bahkan tidak bersekolahpun wajib hukumnya menyampaikan ayat suci Al-Qur’an.”
             

 Bimbang. Di hadapanku seakan ada jalan bersimpang. Meskipun aku memutuskan untuk pergi, namun aku masih terjebak pada kekalutan hatiku sendiri. Apa tidak masalah aku meninggalkan Ibu? Ibu sudah tua,bagaimana kalau mendadak terjadi apa-apa? 


  Sejuta tanya semakin deras menyesaki kepala. Sederas air mata yang sedari tadi tak terbendung kini membasahi pipi.

  “Tissue, nak” . Suara pelan Nenek yang duduk di sebelah menyadarkanku dari lamunan. Ku raih tissue pemberiannya. Ku gunakan untuk menghapus air mata. 


  “Terima kasih,nek” bisikku.


  “Sama-sama. Kalau putriku masih hidup. Pasti dia sebesar kamu.” Katanya sambil menghela nafas panjang. Menerawang. “Dia putriku satu-satunya. Setelah dia meninggal karena kecelakaan, tinggalah aku sendirian. Sebatang kara.”


   Nenek itu menceritakan satu persatu kenangannya bersama mendiang sang putri yang ternyata penderita down syndrome. Ibu yang duduk di depanku dengan khidmat mencuri dengar percakapan kami. Demikian juga dengan aku. Larut dalam kenangannya bercampur dengan kenanganku sendiri bersama Ibu.

   “Andai aku tahu dia akan segera pergi. Pasti ku nikmati hari-hari terakhir bersama dia. Pasti aku akan lebih menyayangi dia dalam keterbatasannya.” Nenek itu menutup ceritanya. Dengan linangan air mata.             

  Kereta berhenti di Stasiun Jember. Aku bangkit dari tempat dudukku, berpamitan dengan sang nenek dan ibu yang duduk di depanku. Beranjak keluar dari kereta.

***
  Peron Stasiun Jember.

   Aku duduk menunggu kereta untuk membawaku pulang. Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menikmati waktu-waktuku dengan Ibu tersayang. Sebelum aku menyesal.          

    Angin lembut berhembus. Ku lihat langit biru tanpa satupun awan. Terbayang kembali wajah Ibu. Dan aku terbenam dalam rindu.

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar