0

Persiapan Pembelajaran Tatap Muka yang Perlu Guru Ketahui (0)

Pengelola Guraru January 11, 2022

Seiring menurunnya kasus COVID-19 di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyetujui untuk diberlakukannya pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Artinya pihak sekolah hingga perguruan tinggi dapat melaksanakan proses belajar mengajar secara offline dengan pembatasan jumlah murid atau mahasiswa.

Keputusan PTM ini pun dilakukan secara bertahap. Misalnya saja 81 persen sekolah di provinsi Aceh telah mendapatkan izin melakukan sekolah offline terbatas. Sementara di Jakarta, pada Oktober 2021 ditargetkan sebanyak 10 ribu sekolah akan mendapatkan izin melakukan PTM.

Ya, walaupun Kemendikbud sudah mengeluarkan keputusan diberlakukannya PTM, satuan pendidikan harus memenuhi daftar periksa dan menyiapkan protokol kesehatan di tempat berlangsungnya belajar mengajar. 

Oleh karena itu, jika satuan pendidikan belum memenuhi semua daftar periksa, serta belum mendapatkan izin dari pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan/atau kantor Kementerian Agama kabupaten/kota, pihak sekolah tidak dapat melaksanakan PTM.

Kesiapan Sekolah Sesuai Anjuran Pemerintah

Bukanlah tanpa alasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bersama untuk memberlakukan pembelajaran tatap muka di penghujung akhir tahun 2021 ini.

Setelah para guru, murid, dan orang tua melaksanakan pembelajaran jarak jauh nyaris selama 1,5 tahun, ada saja kendala yang muncul. Tak hanya seberapa lama waktu yang dibutuhkan para stakeholder untuk beradaptasi mengandalkan teknologi saat belajar offline, tetapi mental para guru dan murid ikut terdampak.

Ya, salah satu yang menjadi alasan diberlakukannya sekolah tatap muka adalah akses internet yang tidak merata, gangguan psikologis guru dan murid, serta minimnya pengetahuan penggunaan teknologi.

Namun pemerintah juga memberi syarat untuk satuan sekolah jika ingin memberlakukan PTM. Apabila sekolah telah mendapatkan izin, pihak sekolah wajib mengetahui bahwa orang tua atau wali peserta didik tetap dapat memilih untuk melanjutkan belajar dari rumah bagi anaknya. 

Lalu apa saja syarat yang wajib dipenuhi pihak sekolah? Berikut ini daftarnya:

  • Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan; toilet bersih dan layak, air mengalir, hand sanitizer, dan desinfektan.
  • Mampu memfasilitasi pelayanan kesehatan.
  • Memiliki thermogun.
  • Membentuk satuan tugas penanganan COVID-19 di satuan pendidikan dan dapat melibatkan orang tua/wali peserta didik. 
  • Kecukupan ruang terbuka dan sirkulasi udara.
  • Melakukan pengaturan tata letak ruangan, dan sebagainya.

Baca juga: Kenapa Psikologi Pendidikan Itu Penting? Yuk Pahami!  

Persiapan Pembelajaran Tatap Muka Agar Berjalan Normal

Saat COVID-19 merebak di Indonesia pada tahun 2020 kemarin, satuan sekolah, siswa dan orang tua dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru, yakni belajar dari rumah. Sementara, di penghujung tahun 2021 ini stakeholder pendidikan kembali ditantang untuk kembali beradaptasi dengan pembelajaran tatap muka di era pandemi.

Sehingga, tak cuma murid dan orang tua saja yang ikut beradaptasi, tetapi para guru. Sebagai tombak pendidikan, guru yang sebelumnya telah terbiasa membuat proses belajar lebih efektif dan menyenangkan menggunakan teknologi, harus kembali mencari ide kreatif agar proses belajar tetap menyenangkan.

Jadi, tak heran jika menciptakan suasana belajar lebih fun tanpa harus tegang menjadi tujuan utama para guru. Untuk membantu guru, GURARU punya saran bagaimana mempersiapkan pembelajaran tatap muka tetap berjalan normal dan bebas stres.

Baca juga: Membangun Budaya Positif Melalui Penyusunan Kesepakatan Kelas 

1. Implementasikan Joyful Learning

Menurut Paulo Fraire, Joyful Learning adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik fisik maupun psikologis. Prinsip dasar metode belajar ini adalah siswa akan belajar secara efektif bila dalam kondisi fun dan nyaman. Manfaat dari joyful learning yaitu dapat meningkatkan potensi siswa dengan berbagai proses pembelajaran life skill.

Jadi guru tak melulu harus mengajar terlalu text book. Ada kalanya guru membuat sebuah pelajaran berbasis proyek. Misalnya, meningkatkan pengetahuan budaya pada murid. Caranya, guru dapat mendorong siswa untuk memahami latar belakang budaya teman sebangku. Tujuannya agar saling menghargai perbedaan. 

Jika murid sudah mengumpulkan data, tradisi apa saja yang masih dilakukan oleh keluarga teman sebangku, guru dapat menjadi fasilitator dan menunjuk salah satu murid untuk presentasi di depan kelas dan menjelaskan tradisi budaya Indonesia yang ia dapat dari teman sebangku.

2. Inovatif dengan Metode Blended Learning

Blended learning dapat meningkatkan partisipasi peserta didik saat proses belajar dimulai. Keaktifan siswa dapat dipancing dengan cara membuat sebuah diskusi dalam kelas. Topik diskusi yang bisa diangkat misalnya isu yang tengah trending di sosial media. Misalnya kasus selebgram yang tidak mengikuti protokol kesehatan.

Dari kasus tersebut, guru dapat memberikan arahan bagaimana murid membaca masalah dan apa yang harus dilakukan seseorang sebagai warga negara yang patuh dan taat hukum saat masa pandemi. 

Sehingga, siswa dapat mengungkapkan ide dan pendapat mereka. Cara ini pun cukup selaras dengan pembelajaran model blended learning yang dapat memfasilitasi siswa dalam menguasai materi yang dapat dipelajari secara mandiri maupun kolaboratif.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Kepada Murid 

3. Memiliki Simpati kepada Murid

Sejak dimulai pembelajaran tatap muka, sebaiknya guru tetap memberi perhatian kepada murid sama seperti saat sekolah online. Jadilah guru yang bisa menjadi teman para siswa. Tunjukan rasa simpati guru atas usaha siswa yang sedang melakukan penyesuaian terhadap kondisi belajar tatap muka, serta ketika mereka berusaha memahami materi pembelajaran.

Guru yang memiliki keterampilan mendengarkan dan meluangkan waktu untuk murid yang membutuhkannya adalah kriteria guru masa kini yang amat dibutuhkan. Dengan menjadi guru sekaligus sahabat bagi murid, para peserta didik setidaknya akan lebih terbuka kepada guru. 

Guru pun jadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan kepada murid yang mengalami penurunan dalam nilai akademiknya. Dengan kedekatan yang dibangun, murid tak akan segan bertanya kepada guru mengenai kesulitan yang ia alami ketika belajar.

4. Beri Waktu dan Pilihan

Setelah pembelajaran tatap muka resmi diperbolehkan secara terbatas, guru pasti sudah menyiapkan strategi belajar baru. Tetapi, perlu disadari bahwa murid juga perlu beradaptasi. Jadi, berilah waktu agar strategi yang akan diterapkan benar-benar memberi perubahan positif pada nilai akademiknya.

Selain itu, guru juga dapat memberi sebuah pilihan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Misalnya, membuat materi sesuai ketertarikan si murid. Caranya, guru dapat membuat teknik pembelajaran mind mapping. Teknik ini dapat membuat daya ingat murid lebih kuat dan semakin fokus pada topik atau pelajaran yang dijelaskan oleh guru.

Baca juga: Membangun Karakter Jujur Melalui Keteladanan

5. Evaluasi dengan Sebarkan Kuesioner

Metode pembelajaran baru yang diimplementasikan guru saat sekolah offline perlu dievaluasi. Caranya, setelah dua minggu metode pembelajaran diterapkan, guru dapat menyebarkan kuesioner menggunakan platform digital seperti Google Form agar lebih efisien. 

Tujuannya, agar guru dapat mengetahui respon dan pendapat siswa. Sehingga dari hasil informasi yang dikumpulkan, guru dapat membuat kesimpulan dan kembali menyusun strategi pembelajaran baru yang dinilai lebih efektif dan disukai para murid.

6. Menjadi Panutan untuk Terapkan Protokol Kesehatan

Menggunakan masker, cuci tangan, dan tidak berkerumun tak hanya dilakukan oleh para murid. Tapi juga para guru yang menjadi panutan para siswa. Dengan menunjukkan kepedulian guru terhadap kesehatan diri sendiri dan sekitar, murid akan segan dan mengikuti mematuhi protokol kesehatan. 

Misalnya tetap menggunakan masker saat belajar maupun di luar kelas, tegur sapa dengan salam namaste, cuci tangan dan langsung pulang ke rumah tanpa berkerumun alias tidak nongkrong di sekolah.

Keseriusan pihak sekolah pun akan jadi penilaian orang tua, apakah anaknya tetap aman mengikuti pembelajaran tatap muka atau tidak. Sebab, orang tua berhak untuk menentukan anak tetap mengikuti belajar mengajar dari rumah jika merasa tidak aman atau anak sedang kurang fit

Jika sudah begini, satuan sekolah harus berkaca apakah telah memenuhi syarat yang dianjurkan pemerintah, yakni mempunyai sirkulasi udara yang baik di kelas, sehingga memudahkan murid mendapatkan akses kesehatan. Dengan kebijakan ini, orang tua pun bisa melihat keseriusan sekolah melindungi murid dan guru agar tak terpapar COVID-19.

Dari persiapan di atas, guru pasti sudah siap beradaptasi dengan dimulainya pembelajaran tatap muka. Tetapi jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental, ya.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar