3

Perpustakaan Nasional Sebagai Aset dan Penjaga Aset Budaya Bangsa (0)

Mahadir2519 October 22, 2020

Seorang penulis terkenal yang berasal dari Perancis, Milan Kundera, pernah berkata bahwa, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradabannya, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah”. Buku dan perpustakaan adalah dua hal yang tidak bisa terpisah satu sama lain. Sebab dengan buku, fungsi Perpustakaan Nasional sebagai penguat dalam menjaga dan mengembangkan peradaban sebuah bangsa bisa tetap terjaga.

Menghancurkan buku sama dengan menghancurkan perpustakaan. Menghancurkan perpustakaan atau membiarkan perpustakaan hancur merupakan salah satu penyebab kehancuran suatu bangsa. Sebab buku memberi kita pengetahuan dan referensi dalam melakukan kajian-kajian ilmiah, sehingga memungkinkan melahirkan ide atau pemikiran-pemikiran baru yang tentunya sangat diharapkan bisa digunakan untuk kemajuan bangsa Indonesia ke depannya.

Salah satu fungsi dan tugas Perpustakaan Nasional menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 adalah berkaitan dengan pemanfaatan berbagai karya cetak dan karya rekam sebagai khazanah intelektual bangsa, melalui layanan, pameran, membaca dan diskusi, pengemasan informasi dan penyediaan akses secara luas bagi masyarakat. Kenyataan tersebut, memberi indikasi bahwa Perpustakaan Nasional adalah aset sekaligus penjaga aset bagi kelestarian budaya bangsa Indonesia.

Perpustakaan sebagai aset bangsa

Sejak kelahirannya di tahun 1980, Perpustakaan Nasional telah mengalami beberapa perubahan penting. Salah satunya adalah berkaitan dengan perubahan status, seperti yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 1989. Melalui Keppres tersebut, Perpustakaan Nasional yang saat itu berada di bawah yuridiksi Direktortat Jenderal Kebudayaan, diubah statusnya menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Dengan semakin bertambahnya beban tugas dan sejalan dengan kiat Perpustakaan Nasional dalam menerapkan layanan prima kepada masyarakat, maka pada tanggal 29 Desember 1997 diterbitkan kembali Keppres Nomor 50 Tahun 1997. Keppres ini menyempurnakan susunan organisasi, tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional guna mengantisipasi era globalisasi informasi seperti yang terjadi saat ini. Perubahan status tersebut semakin menguatkan posisi Perpustakaan Nasional yang diharapkan benar-benar dapat menjadi salah satu aset bangsa yang memiliki kontribusi positif terhadap kemajuan bangsa. Sebagai aset bangsa, Perpustakaan Nasional harus senantiasa mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Perpustakaan sebagai penjaga aset budaya bangsa

Sebagai penjaga aset budaya bangsa, Perpustakaan Nasional harus mampu menambah, menjaga dan mempertahakan koleksi-koleksinya. Hal ini dimaksudkan agar nantinya siapapun bisa mengakses dan memanfaatkan koleksi-koleksi bernilai sejarah tersebut, baik untuk keperluan masa kini ataupun pada masa yang akan datang.

Melalui perpustakaan, gambaran umum perjalanan sejarah umat manusia melalui karya-karya yang dihasilkan dapat disaksikan. Melalui perpustakaan jugalah, perjalanan sebuah bangsa dari masa ke masa dapat diketahui. Perpustakaan juga dapat berfungsi sebagai penyimpan khasanah budaya bangsa. Dengan fungsi tersebut, perpustakaan diharapkan mampu meningkatkan nilai apresiasi budaya masyarakat.

Menurut catatan, hingga tahun 2019, Perpustakaan Nasional tercatat memiliki 12.031 koleksi naskah Nusantara. Sejumlah 3.466 naskah di antaranya telah dikaji dan diteliti. Ada 1.849 judul naskah telah dialihmediakan dalam bentuk digital. Selain itu, tercatat ada 1.849 manuskrip, 963 buku langka, 260 terbitan berkala, 1.552 peta serta 5.716 gambar dan foto bersejarah koleksi Perpustakaan Nasional sudah dialihmediakan ke dalam bentuk digital.

Catatan-catatan seperti ini tentu saja harus dimaknai positif. Paling tidak, Perpustakaan Nasional telah bertransformasi untuk senantiasa menjawab tantangan zaman akan kebutuhan informasi. Selain itu, catatan-catatan tersebut juga menasbihkan kembali fungsi lain perpustakaan, yakni fungsi kultural. Dalam fungsi kultural, perpustakaan memliki peran penting dalam merevitalisasi nilai-nilai budaya agar nantinya dapat dijadikan sebagai petunjuk sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sosial budaya serta menumbuhkan kembali tradisi yang terputus.

Melalui fungsi kultural tersebut, perpustakaan diharapkan bisa membangkitkan kenangan akan kejayaan pada masa lampau sehingga memunculkan kembali gagasan atau inspirasi yang berfungsi sebagai pijakan menuju masa depan. Kita tentu saja rindu dengan masa-masa kejayaan kita di masa lampau. Sebut saja kenangan akan kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang kekuasaan dan pengaruhnya sampai ke luar negeri. Kita adalah bangsa besar. Kita rindu untuk kembali menemukan kejayaan kita dan Perpustakaan Nasional merupakan salah satu wadah untuk membantu mengembalikan kejayaan itu melalui koleksi-koleksinya yang sarat akan nilai budaya.

Koleksi yang sarat akan nilai budaya di perpustakaan memiliki arti penting karena beberapa hal. Pertama, sebagai informasi yang bisa menunjukkan unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaan suatu bangsa. Kedua, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kebudayaan adalah hasil dari aktivitas cipta, karsa dan rasa manusia, sehingga muncul teknologi atau pengetahuan dari aktivitas tersebut yang bisa dimanfaatkan dan diperbarui. Ketiga, sebagai sumber kearifan atau nilai moral, kebudayaan memuat ajaran tentang bagaimana hubungan dengan orang lain itu seyogyanya dilakukan.

Kearifan lokal yang terkandung dalam naskah-naskah Nusantara ini, selain dapat menjadi referensi dan alternatif solusi yang relevan untuk menyelesaikan masalah interaksi sosial manusia masa kini, juga menuntun masyarakat Indonesia untuk bersikap toleran dan menghargai keberagaman, memiliki etika sopan santun serta etos kerja dan jiwa kepemimpinan yang mengutamakan asas gotong royong yang sesuai dengan karakter bangsa.

Budaya membaca orang Indonesia.

Transformasi Perpustakaan Nasional dari waktu ke waktu diharapkan mampu membawa dampak signifikan bagi kemajuan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan persoalan literasi. Sayangnya, harapan ini sepertinya masih membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Angka buta aksara Indonesia memang makin berkurang dari waktu ke waktu. Namun, keberhasilan tersebut tak sejalan dengan tumbuhnya budaya membaca. Sehingga tingkat literasi masyarakat masih dalam kategori rendah.

Berdasarkan indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), menunjukkan bahwa hanya sembilan provinsi yang masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi berkategori rendah, dan satu provinsi termasuk sangat rendah. Rata-rata indeks Alibaca nasional berada di titik 37,32% yang tergolong rendah. Kegiatan literasi dipengaruhi beberapa faktor. Mereka adalah kecakapan, akses, alternatif, dan budaya. Kategori Indeks Alibaca terbagi atas lima kategori, yakni sangat rendah (0-20,00), rendah (20,01-40,00), sedang (40,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100).

Kenyataan tersebut tentu saja harus mendapat perhatian khusus dan serius, tidak terkecuali oleh Perpustakaan Nasional. Sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang memiliki kewenangan dalam merumuskan kebijakan dibidang perpustakaan untuk mendukung pembangunan secara makro, menetapkan sistem informasi dibidang perpustakaan, merumuskan dan pelaksanaan kebijakan tertentu dibidang perpustakaan serta merumuskan dan pelaksanaan kebijakan pelestarian pustaka budaya bangsa dalam mewujudkan koleksi deposit nasional dan pemanfaatannya, Perpustakaan Nasional harus berupaya mengatasi persoalan tersebut.

Perpustakaan nasional harus menjadi role model bagi perpustakan perpustakaan yang ada di Indonesia. Negara, orang tua, atau siapapun, harus menjadikan perpustakaan sebagai “teman baik”. Tujuannya, tentu saja agar budaya baca kita dapat meningkat. Kita harus percaya jika perpustakaan adalah gerbang untuk menuju bangsa yang lebih beradab. Akan sangat disayangkan jika peringkat literasi kita tidak mengalami peningkatan dalam beberapa tahun ke depan, padahal saat ini gedung Perpustakaan Nasional adalah gedung perpustakaan tertinggi di dunia.

Daftar Rujukan:
Databoks.katadata.co.id. (2020, 20 Februari). Tingkat Literasi Indonesia Masih Rendah. Diakses pada 20 Juni 2020, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/27/tingkat-literasi-indonesia-masih-rendah.
Liputan6.com. (2020, 20 Mei). Perpustakaan Nasional Ikon Peradaban Bangsa. Diakses pada 20 Juni 2020 dari https://www.liputan6.com/regional/read/4256078/perpustakaan-nasional-ikon-peradaban-bangsa.
Perpusnas.go.id. Tugas, Fungsi dan Wewenang. Diakses pada 20 Juni 2020, dari https://www.perpusnas.go.id/tugas_fungsi_wewenang.php?lang=id.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar