9

Permen Gratis (+5)

Surya Darma May 8, 2015

Bel pulang sudah berdentang beberapa menit yang lalu. Sebagian besar murid-muridku sudah turun dari kelas kami yang saat itu memang berada di lantai tiga. Posisi kelas yang sangat cocok bagi mereka yang ingin menjalani program diet.

Setelah membereskan meja dan menutup pintu kelas, aku pun menyusul turun.

Kakiku baru akan melangkah menuju kantor guru di gedung A, ketika seorang murid mendatangiku.

“Bu, Bu, si A dan B mencuri permen di kantin Ami?”

Aku tertegun.

“Mencuri?”

“Iya, Bu.”

“Oh, gitu. Terimakasih informasinya, ya. Sekarang, tolong panggilkan dua temanmu itu!” Pintaku.

Muridku itu pun berlari menemui si A dan si B. Tak lama, ia pun kembali bersama keduanya.

“Saya nggak nyuri kok, Bu!” Ujar si B, tanpa ditanya.

“Iyaaa, kamu nyuri! Saya lihat sendiri kok, Bu!” Tegas murid yang melapor tadi. Aku memberi isyarat padanya untuk diam.

Si B masih terus berusaha membela diri. Sementara si A hanya diam.

Aku pun berpaling pada si A.

“Bisa kamu ceritain ke Ibu gimana kejadiannya tadi?”

Si A melirik lirik si B.

Si A dan si B ini bersahabat. Bagiku mereka unik. Saling melengkapi satu sama lain. Si A belajar lebih berani dari si B, sementara si B belajar berperilaku lurus dari si A. Intinya, aku suka dengan persahabatan mereka. Aku berharap mereka bisa menjadi sekutu dalam kebaikan. Tapi tidak demikian dalam kemungkaran. Termasuk mencuri, apabila benar itu mereka lakukan.

“Tadi itu kan, kami berdiri dekat kantin Ami…”

“Terus?”

“Terus… Ada adek kelas yang bisikin kami, itu permen jualan Ami boleh diambil.”

“Ngambil tanpa bayar, maksudnya?”

“Iya…”

“Kalian udah nanya langsung ke Ami kalau permennya boleh diambil tanpa bayar?”

“Belum…”

“Jadi?”

“Ya, kami ambil ambil aja, orang kata adek itu boleh ngambil.”

Aku menghela nafas. Sekilas, kutatap si B yang mulai salah tingkah.

“Kalau ngambil barang milik orang tanpa sepengetahuan pemiliknya apa namanya?”

Si A dan si B tertunduk.

“Ikut ibu ke kantin Ami!”

Wajah si A tampak pasrah, sementara si B terlihat tegang dan siap membantah.

“Nggak mau, Bu! Orang saya nggak nyuri, kok!”

“Kalau memang nggak nyuri, ayo kita ke Ami!”

“Nggak mau!”

Hmm, aku suka sikap tegasnya, andai dipakai pada tempatnya.

Pandanganku lurus menatap si B. Kutatap saja. Tanpa kata kata. Sengaja, biar makin salah tingkah, hehehe… Sebenarnya, rasa bersalah dan menyesal itu sudah tertangkap di matanya. Sayang, ia terlalu takut untuk mengakui kesalahannya.

Aku berpaling pada si A dan memberi isyarat padanya untuk mengikutiku ke kantin Ami. Meninggalkan si B, yang sedang berkelahi dengan nuraninya sendiri.

Setibanya di kantin Ami, aku langsung mendekati toples berisi permen bubuk di dalam kemasan berbentuk pipet.

“Maaf, Mi, mau tanya. Apa benar permen ini gratis?”

“Wah, Bu, ini jualan saya. Nggak ada yang gratis,” jawab Ami kantin.

“Oh, gitu….” Saya mengangguk angguk, seraya melirik si A yang tertunduk.

“Ini, Mi. Murid saya mau minta maaf. Tadi dia ngambil permen Ami satu, karena dikiranya gratis.”

Si A mengulurkan tangan untuk menyalami Ami.

“Maaf ya, Mi. Besok insya Allah saya bayar permennya.”

Ami kantin tersenyum.

“Iya, nggak papa,” jawabnya.

“Berapa harga permennya, Mi?” Tanya saya.

“Cuma lima ratus kok, Bu.”

Saya merogoh saku dan mengeluarkan uang sejumlah dua ribu.

“Saya beli tiga ya, Mi. sisanya untuk bayar permen yang diambil murid saya.”

Kemudian, saya berpaling pada si A yang tampak tersipu.

“Nah, Nak. Terimakasih kamu sudah mau jujur. Ibu senang sekali. Terimakasih juga sudah bertanggungjawab dengan cara minta maaf dan berjanji membayar permennya ke Ami. Ini, hadiah dari ibu buat kamu,” ujarku, seraya menyodorkan tiga permen pada muridku itu.

Dengan wajah terkejut sekaligus senang, si A menerima permen pemberianku.

“Terimakasih ya, Bu.”

Si A berlari mendahuluiku. Mungkin, ia akan menemui si B, atau teman temannya yang lain. Lalu bercerita tentang tiga permen yang ia terima berkat kejujuran dan sikap tanggung jawabnya. Ah, semoga bisa membuka hati temanmu si B, Nak, batinku.

Aku melangkah ringan menuju kantor. Si A sudah teratasi. Masih ada PR membuka hati si B. Tapi aku sudah menyiapkan kuncinya saat circle time besok pagi. Sebuah cerita tentang kejujuran, dan tanggung jawab.

 

Keterangan:

1. Ami : Kakak

2. Circle time : melingkar berdoa, evaluasi, murajaah. Dilakukan pagi setelah berbaris, dan sebelum pulang.

About Author

Surya Darma

Saya adalah seorang guru di SDIT Permata Bunda Bandarlampung. Selain mengajar, saya juga senang menulis, terutama dongeng anak. Beberapa tulisan saya pernah dimuat di beberapa majalah dan koran seperti Majalah Bobo, SoCa Sinar Harapan, Radar Bojonegoro, dan Lampung Post.

View all posts by Surya Darma →

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar