4

Perjuangan Seorang Santri (0)

Supadilah S.Si December 5, 2020

Sudah empat tahun, Ainur Ridho meninggalkan Lampung untuk belajar di pesantren Darul Galah, Cirebon.  Selama itu pula, tidak pernah dia pulang sejenak untuk sekadar silaturahmi. Bahkan di waktu lebaran pun dia tidak pulang. Mengapa ia berbuat begitu? Tidak lain karena pesan Kakek Jirun, kakek yang menyuruhnya nyantri di pesantren itu. Kakek Jirun mengirim Ridho untuk menjadi khadim di kediaman Kyai Nawir. “… manusia jika tidak berani merantau untuk mencari ilmu maka dia tidak akan meraih kegemilangannya” (hlm 66)

Selama itu pula Ridho menjadi pelayan bagi keluarga Kyai Nawir. Berbagai hal dia lakukan dengan penuh antusias. Apapun perintah sang kyai dilakukannya. Kepatuhan itu ditunjukkan juga kepada keluarga kyai.

Sang kyai sangat perhatian pada Ridho. Apalagi, dengan berbagai kepatuhan dan kemampuan yang ditunjukkan. Termasuk saat menjaga sang kyai dari gangguan bromocorah yang terang-terangan meneguk minuman keras di hadapan Kyai Nawir yang sedang memberikan pengajian. Untuk itu, Ridho bahkan mempertaruhkan nyawanya melawan preman yang selama ini meresahkan masyarakat namun tidak ada yang berani menghadapi.

Kepatuhan pula yang membuatnya mendadak pulang, sehari setelah Kyai Nawir menyuruhnya pulang. “Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini, jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang” (hlm 61).

Meskipun berat dan masih betah, Kyai Nawir memaksanya pulang. Dia pulang, meskipun saat itu tidak punya bekal sedikit pun. Namun dia yakin saja dengan perintah sang kyai. Ridho pulang ke Lampung bersama Diana, putri sang kyai yang hendak kuliah di Unila.

Kakek Jirun telah dua bulan tidak bergerak. Terkena strok. Telah diobati dan menghabiskan banyak biaya. Habis-habisan. Syifa, anak perempuan kecil yang menjadi tulang punggung keluarga itu. Menjual pisang goreng atau air mineral. Berkeliling atau ke tempat-tempat ramai. Saat usai berjualan di pasar malam, sebuah rencana jahat mengintainya. Beruntung, dalam pertemuan tak terduga, Ridho menyelamatkannya.

Sepulang dari pesantren, Ridho tak lantas menemukan kesuksesan. Gagal membuka beberapa usaha. Modalnya semakin habis. Bahkan dia meminjam kepada kyai Shobron. Ridho hendak memperjuangkan hak warisan Syifa dan Lukman, sepupunya. Mereka yatim, sebagaimana Ridho. Dalam wasiat ayah mereka, ada hak untuk mereka berdua.

Mereka menemui Bu Rosma sang ibu tiri. Namun Bu Rosma mengusirnya. Sita hendak dibungkam dengan lima puluh juta dengan syarat tidak aakan mengungkit warisan lagi. Bahkan, Fredi pacarnya Sita akan menggunakan kekerasan untuk membungkam Ridho. Begitupun piutang tiga puluh juta yang ditinggalkan ibu mereka, sulit ditagih. Bahkan mereka mendapat penyambutan yang tidak ramah.

Ridho mendapat pencerahan tentang usahanya saat bersilaturahmi ke ustadz Harun di Way Meranti. Langkah yang harus dilakukan agar usahanya maju dan berkah sekaligus menjawab keluhan masyarakat tentang Ridho, sudah lama nyantri tapi tidak kelihatan kontribusinya. Masjid masih sepi, hanya Zuhur dan Ashar Ridho ke masjid tapi saat itu masyarakat pergi bekerja. Saat Maghrib dan Isya masyarakat ada, Ridho malah berdagang. Tak ketemu.

Perlahan keberkahan menghampiri kehidupan Ridho. Dia bisa pula membahagiakan dua anak yatim sepupunya itu. Syifa dan Lukman disekolah. Dalam ranah pesantren, kepatuhan Ridho seakan menjadi hal yang biasa. Memang, dunia santri identik dengan kepatuhan terhadap sang kyai. Selain itu, tahan banting dan mampu bertahan dalam kesusahan, juga menjadi karakter santri. Itu pula yang dapat kita baca dari sosok Ridho. Sebab, di pesantren para santri terbiasa hidup dalam serba keterbatasan sehingga mereka lebih siap saat menemukan kesulitan yang sesungguhnya. Santri, biasanya lebih mementingkan sang kyai daripada diri mereka sendiri. Menjaga kemuliaan sang kyai.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar