2

Perjuangan Menulis Di Koran (0)

Supadilah S.Si October 26, 2020

Pondasi literasi saya mulai ada sejak kelas 6 sekolah dasar. Saat itu, walikelas saya membuat tantangan. Seluruh siswa diberikan tugas untuk membuat tulisan bertema kegemaran. Akan dipilih tiga tulisan terbaik yang akan dipajang di mading sekolah. Tulisan saya terpilih. Karya saya pun terpajang di mading sekolah sampai setahun lamanya. Dari apresiasi wali kelas itulah saya termotivasi untuk menulis.

Selepas SD, saya malah tidak menulis lagi. Saat kuliah sering mengikuti kegiatan kepenulisan yang diadakan oleh lembaga jurnalistik kampus. Dari ikut acara mereka itulah muncul motivasi menulis dan ingin menjadi seperti mereka. Namun, itu belum cukup untuk membuat saya berani menulis secara serius.

Untuk membiasakan menulis, saya bikin blog. Dengan punya blog, saya lebih bebas menulis tanpa takut dibilang jelek. Juga tidak khawatir tidak diterima. Sebab saya sendiri redaksinya. Sudah banyak tulisan di blog. Namun, saya belum berani mengirimkannya ke surat kabar atau penerbit manapun.

Suatu ketika, ada teman kuliah saya yang tulisannya dimuat di harian Padang Ekspres. Saat itu saya merasa kok keren sekali ya bisa nampang di koran. Pengen-lah seperti dia. Saya kira dalam hal seperti ini dibolehkan iri. Iri membuat prestasi. Hehe.. Berbekal iri itulah saya memacu diri untuk menulis dengan lebih serius. Saya memilih tema pergerakan mahasiswa. Dengan penuh perjuangan, akhirnya selesailah naskah saya. Tulisan perdana saya dimuat di harian Singgalang di 2009. Lantaran iri dengan teman saya, Mujahidin Salam, yang telah dimuat duluan di koran Padang Ekspres.

Penah saya magang di sebuah lembaga kemanusiaan. Saya ditempatkan di bagian humas dan marketing. Diminta membuat liputan kegiatan. Walaupun belum bisa menulis dengan baik, saya terima tantangan itu. Juga mengingat saya harus punya pemasukan untuk membiayai kuliah. Pertama kali membuat tulisan liputan kegiatan, tulisan saya banyak kekurangannya. Sampai-sampai dimarah oleh pimpinan lembaga. Saya mendapat komentar pedas, “Tulisan apa ini? Masih mentah sekali.” katanya.

Ternyata, kalau baca tulisan saya dulu-dulu itu memang bikin geli dan membuat ketawa. Banyak salah ketik, kata-kata rancu, dan bikin kening berkerut. Maka wajarlah kalau dulu tulisan saya diejek. Meskipun, untuk mengoreksi tidak perlu mengejek juga. Mungkin itulah gayanya. Mengoreksi dengan pilihan kata yang bisa membuat panas telinga.

Namun, saya tak patah semangat. Saya jadikan ejekan itu sebagai jamu yang menyehatkan. Justru ejekan itu membuat saya harus bisa membuktikan bahwa saya bisa membuat tulisan yang lebih baik lagi. Saya tidak mundur dari aktivitas menulis. Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak? Toh, banyak penulis hebat juga tidak serta merta langsung bisa punya karya yang bagus. Tidak sedikit mereka yang mengalami penolakan demi penolakan saat mengirim karya mereka ke surat kabar atau penerbit.

Saat ini saya semakin ingin belajar menulis lebih baik lagi. Rajin mencari pelatihan menulis agar semakin mahir pula menulis. Ya, saya ingin menjadi seorang penulis.

Saya ingin jika kelak menyuruh anak untuk menulis, saya sudah punya bukti cukup yang bisa meyakinkan mereka bahwa saya juga tak sekadar menyuruh. Begitu juga saat saya menganjurkan siswa saya menulis. Dengan punya karya, saya akan lebih mudah untuk memotivasi mereka.

Saat pindah ke Banten, saya mulai menulis lagi. Kepindahan saya tanpa membawa banyak bekal. Laptop pun tidak bawa. Inilah yang membuat saya kesulitan untuk menulis. Saya tak bisa menulis di rumah.

Saya menulis dengan meminjam laptop sekolah. Di sela-sela mengajar saya kerjakan tulisan itu. Lama tidak menulis cukup membuat saya kesulitan merangkai kata-kata. Dalam satu hari saya bisa menyelesaikan tiga atau empat paragraf saja yang menjadi semakin sedikit setelah diedit. Hingga akhirnya satu naskah saya rampung setelah dibuat selama tiga pekan.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Mari bersilaturahim :)

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar