3

Perjuangan Menulis Di Koran (0)

Supadilah S.Si October 26, 2020

Naskah itu hendak saya kirim ke surat kabar. Saya pergi ke loper koran untuk mencari surat kabar mana yang tepat untuk tulisan saya. Ada alamat surat elektronik tertera di surat kabar itu. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya kirim tulisan saya dengan menggunakan laptop sekolah.

Setelah mengirimkan naskah, belum bisa bernapas lega. Kebanyakan redaksi tidak menginformasikan diterima atau tidaknya naskah. Tidak memberikan pemuatan naskah. Maka, penulis harus rajin mengecek. Saya agak kesulitan mengeceknya. Di sekolah tidak langganan koran. Sudah mengajukan usul ke kepala sekolah tapi menungggu semester depan sebab harus masuk pembahasan di kebijakan sekolah.

Hari pertama saya pergi ke koper koran untuk mengecek. Namun, hasilnya nihil. Tulisan saya belum dimuat. Ada rasa kecewa, tetapi masih ada harapan. Semoga besok dimuat. Hari kedua saya ke sekolah teman, di sana sudah langganan koran. Saya cek, belum ada tulisan saya. Semakin bertambah rasa kecewa saya. Hari-hari berikutnya saya lakukan pola pengecekan yang sama. Pindah antara loper koran atau ke kantor teman saya. Sebetulnya ada rasa malu juga numpang ngecek ke kantor orang. Namun, demi menjadi seorang penulis, malu itu saya kesampingkan. Waktu terasa berjalan lambat,  menunggu esok hari agar bisa mengecek koran lagi. Sampai pada hari ke sembilan, usaha dan penantian saya berbuah hasil. Tulisan saya dimuat. Ada fotonya.

Jantung saya berdetak kencang. Bangga dan haru. Tulisan saya ketemu jodohnya juga. Kalau tidak ingat sedang di kantor orang, mungkin saya akan berteriak. Untungnya saya sadar tempat. Dengan menahan malu, saya minta koran itu. Teman saya membolehkan. Toh, mungkin jarang ada yang baca, katanya.

Saya pamerkan koran itu ke teman. Dia mengucapkan selamat. Saya bergegas kembali ke sekolah. Sampai di ruang guru, saya pamerkan pula ke kepala sekolah. Dia pun mengucapkan selamat,  “Bangga punya guru penulis,” pujinya.

Saya sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Membanggakan kepada istri. Agar dia bangga pula dengan suaminya. Sesampainya di rumah, isteri sudah tahu dari postingan foto pemuatan tulisan yang saya unggah ke laman facebook. Di postingan itu banyak pula yang mengapresiasi. Jumlahnya hampir seratusan komentar dari teman-temannya dunia maya.

Malam itu saya dan isteri makan dengan menu lebih enak dari biasanya. Sebagai wujud syukuran atas pemuatan tulisan itu. Ada honor tulisan, walaupun jumlahnya tidak begitu besar. Namun, sudah dimuat saja menjadi sebuah kebanggaan. Honor hanyalah bonus. Upah lelah.

Tulisan saya masih jauh dari kata sempurna. Saat dibaca lagi, masih banyak kekurangannya. Isteri saya pun mengatakan hal itu.  Hal ini menjadi cambuk agar bisa lebih teliti lagi dalam menulis.

Ada banyak keuntungan tambahan kalau tulisan dimuat di koran. Salah satunya menjadi bukti kepada anak dan siswa, siapa tahu kelak mereka akan mengikuti jejak kita. Kalau punya ‘bukti’, ajakan kita akan lebih didengar ketimbang hanya sekadar menyuruh saja. Setelah dimuat, jangan lupa untuk mengklipingnya. Bisa juga dengan membingkainya. Lantas dipasang di rumah atau tempat kerja kita.

Saya berhasil mengompori kepala sekolah agar langganan koran. Usaha ini berbuah manis. Lebih cepat dari yang dijanjikan. Satu bulan berikutnya, sekolah kami sudah langganan koran. Selain dapat membaca berbagai kabar dan informasi, saya semakin mudah mengecek pemuatan naskah. Tak perlu lagi numpang di kantor orang.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Mari bersilaturahim :)

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar