0

Perjalanan Menjadi Seorang Guru (0)

Pinondang Situmorang October 31, 2021

Menjadi seorang guru adalah pilihan, perjalanan hidup, mulia dan menyenangkan. Tidak kaya tetapi tidak miskin.

Perjalanan hidup setiap orang berbeda satu sama lain. Ada yang hidup dengan harta melimpah dengan segala kemewahan, ada yang pas-pasan dan ada juga yang melakoni hidup ini dengan susah payah, serba kekurangan, dan tidak mampu untuk membutuhi kehidupan sehari-hari.

Saya dilahirkan dalam keluarga yang tergolong kategori kurang mampu. Penghasilan orang tua sebagai petani tradisional yang hanya  mengharapkan hasil dari  dua petak sawah, sudah pasti tidak cukup untuk membutuhi keluarga besar kami, sepuluh orang.                        

Kondisi sulit ini mendorong saya untuk lebih dewasa menghadapi pahit getirnya hidup. Sebagaimana cita-cita kebanyakan orang, yaitu ingin hidup lebih layak dan mendapat pengakuan dari masyarakat, saya pun meninggalkan kampung halaman setelah tamat SPG (Sekolah Pendidikan Guru) untuk memulai sesuatu yang baru demi masa depan bahagia.

Syukur kepada Tuhan, lamaran saya diterima dan ada panggilan untuk wawancara dari Yayasan Perguruan Wage Rudolf Supratman Medan. Dengan senang hati bercampur rasa kuatir untuk mengahadapi wawancara tersebut. Maklum, seorang anak kampung yang belum lama datang ke kota Medan dengan gaya berbahasa Indonesia masih totok sekali. Namun dengan keyakinan dan perjuangan semuanya terlalui dengan baik. Saya sempat menolak dalam hati karena saya diterima bukan jadi guru melainkan menjadi pegawai tata usaha.

Seiring perjalanan waktu, lambat laun bisa belajar dan memahami administrasi sekolah secara utuh. Tiga tahun kemudian, saya bermohon kepada pengurus yayasan dan dikabulkan menjadi tenaga pengajar di tingkatan SD karena pada saat itu ada guru yang sudah tua minta pensiun.

Guru juga manusia dan berhak mendapat hidup layak dan lebih baik sehingga saya pun berusaha untuk meningkatkan status agar tidak hanya seorang guru SD lulusan SPG. Dengan segala keterbatasan biaya, waktu dan segalanya, saya kuliah pada sebuah Perguruan Tinggi swasta Program D3 jurusan bahasa Inggris selepas tugas mengajar. Malam hari sepulang kuliah harus mengajar privat les untuk menutupi biaya hidup yang semakin meningkat, menyewa kamar kos dan biaya kuliah.

Setelah memperoleh ijazah, saya mendapat kesempatan mengajar Bahasa Inggris untuk tingkatan SMP dan SMA pada 2 Perguruan swasta. Sambil mengajar di pagi hari, saya lanjutkan kembali kuliah program S1 di Perguruan Tinggi swasta yang sama seperti sebelumnya.

Panggilan tugas dan tanggung jawab yang lebih mengutamakan sekolah dan anak didik membuat perkuliahan saya sempat agak tertinggal. Setiap hari membawa pekerjaan sekolah ke rumah, yakni perangkat pembelajaran dan penyelesaian tugas-tugas siswa serta administrasi lainnya. Sambil menyelam minum air, sambil menjalankan tugas-tugas sekolah, akhirnya perkuliahan dapat terselesaikan juga.

Selanjutnya mendapat kesempatan menjadi wakil kepala Sekolah dan seterusnya menjadi kepala sekolah di SMA W.R. Supratman 2 Medan hingga sekarang.

Saya menikmati menjadi guru swasta selama 35 tahun lebih dengan bermacam persoalan, merangkai masa depan dengan segala keterbatasan namun tetap bersabar dan bersyukur.

Salam Pendidikan. Bravo Guru Indonesia!

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar