1

Perdana: Guru Baru menghadapi Pandemi (0)

Ika Sartika October 18, 2020

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh

Perkenalkan nama saya Ika Sartika, mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika yg baru saja lulus dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Tahun kelulusan yg serba perdana menjadi tantangan bagi pengalaman karir saya. Berbicara mengenai karir, saya memang bercita-cita menjadi seorang guru sejak kecil dengan alasan, saya ingin mengubah pandangan orang mengenai profesi guru yg dipercaya tidak menjanjikan. 

Saat masih di bangku kuliah, lulus menjadi sarjana Pendidikan sudah terimpi-impikan, namun banyak ketakutan pula terpikirkan. Senada dengan ketakutan para calon guru lainnya, saya percaya semua dipengaruhi dari bagaimana kita memulai. Hari pertama mengajar menjadi fokus utama, bagaimana first impression siswa terhadap saya menjadi penentu. Oleh sebab itu, saya menonton banyak video dan film terkait hari pertama mengajar di kelas. Ulasnya, guru dapat melihat gambaran besar bagaimana kelas akan berjalan.

Tak seperti apa yg diinginkan hati,  Pandemi datang tanpa permisi. Rencana yg sudah dirancang harus dirombak kembali, bahkan untuk mendapatkan lowongan kerja guru pun sedikit didapati. Sekolah-sekolah tak banyak mencari guru baru, tapi perusahaan-perusahaan pendidikan memanfaatkan Pandemi ini membuat program baru, yaitu Mengajar Online. Alhasil, saya sekarang mengajar di salah satu perusahaan yg menyediakan program mengajar online untuk sekolah-sekolah.

Mengajar online menjadi keresahan semua pendidik, terutama guru. Mengajar tatap muka saja sulit apalagi mengajar online, keluhnya. Sebagai pendidik yg baru saja terjun ke dunia pendidikan dan langsung disodori dengan PJJ, tak banyak kata yg bisa dikeluhkan, bukan karena sudah hebat, tapi memang tidak tahu harus apa yg dilakukan. Bagaimana bisa melihat gambaran besar rancangan kelas yg akan disusun, jika saya pun tidak bisa melihat siswa-siswi saya secara langsung? Pada tulisan ini, saya akan menceritakan bagaimana cara saya, sebagai guru baru, belajar menjadi seorang guru dari PJJ.

Selama Pandemi, teknologi menjadi hal penting yg harus seorang guru kuasai. Selain  alat penyampai materi, juga sebagai alat untuk memotivasi siswa agar mau belajar. Untuk memotivasi siswa, guru dapat membuat kelas menjadi lebih menyenangkan. Selama mengajar, pendekatan yg saya pakai adalah CPA (Concrete Pictorial Abstract) dan ini sangat membantu saya menyampaikan konsep dengan baik. Media pembejaran yg saya pakai adalah Zoom, dengan virtual manipulative yg menarik; Brainingcamp, Desmos, Kahoot, dll. Mengenai penggunaan teknologi, saya pribadi sudah terbiasa, karena selama kuliah memang teknologi sangat ditekankan di kampus saya. Tapi, yg menjadi kerisauan hati adalah pengolahan kelas secara online yg belum pernah saya pelajari sebelumnya.

Hari pertama mengajar, saya mengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas 3, saya memulai dengan membuat peraturan kelas bersama, seperti harus selalu menyalakan video, menyiapkan peralatan pembelajaran, dan pergi ke toilet sebelum kelas dimulai. Ini bertujuan agar pembelajaran bisa berjalan dengan lancar. Namun, walaupun peraturan sudah disepakati, selama sesi pembelajaran masih banyak siswa yg melanggar peraturan, ada yg mematikan video walaupun sudah diingatkan, tidak ada di tempat duduknya entah pergi kemana, berbincang dengan adiknya tidak memperhatikan, tidak mau bersuara saat ditanya, bahkan ada yg sedang dimarahi ibunya.

Sejujurnya, saya cukup kaget dengan apa yg terjadi di kelas, saya mencoba untuk tetap tenang, mengingatkan kembali peraturan perlahan, agar siswa tidak tersinggung. 1 jam pembelajan membuat keringat saya bercucuran, rasanya seperti mengajar 3 jam tanpa henti saat saya masih PKL. Seketika sebuah pertanyaan muncul “Apakah saya siap menjadi seorang guru? Bagaimana jika siswa tidak paham dengan materi yg saya ajarkan?”. Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan yg rumlah bagi setiap guru. Jadi, yg harus dilakukan adalah memberikan pembelajaran yg terbaik.

Hari berganti hari, seluruh siswa sudah mulai dekat dengan saya. Suatu hari, ada seorang siswi yg mengirimkan chat kepada saya melalui Chat Box yg ada di Zoom, dia menuliskan “I hate myself”. Setelah membaca chat tersebut, saya merasa perlu mencaritahu lebih lanjut tentang apa yg siswa itu maksud dan alasan kenapa bisa ada perkataan seperti itu muncul di mulut anak kelas 3 SD. Tindakan pertama yg saya lakukan adalah mencoba meminta siswi tersebut tidak meninggalkan Zoom terlebih dahulu, dan Alhamdulillah siswi itu mau. Saya memberikan beberapa pertanyaan, mengapa tidak mau menyalakan video selama sesi, mengapa tidak mau bersuara saat ditanya. Lalu, siswi tersebut menjawab,

“Miss, saya nervous untuk menyalakan video dan suara”.

Saya berkata,

“Baiklah, kalau ada sesuatu yg ingin kamu ceritakan ke Miss, boleh kamu ceritakan, boleh chat Miss ya, dan Miss berharap di pertemuan kita selanjutnya, kamu sudah bisa menyalakan video dan suara, karena Miss rindu suara manis kamu”.

Siswi itu menjawab,

“Baik Miss”.

Namun, di sesi pertemuan berikutnya, siswi itu tetap mematikan video, bahkan menggunakan nama yg tidak saya kenal. Saya baru sadar di pertengahan sesi bahwa siswi itu menggunakan nama lain. Setelah saya tahu, saya mencoba untuk berinteraksi dengan memberikan pertanyaan terkait materi yg sudah saya jelaskan, tapi siswi tersebut tidak mau berbicara dan membalas pertanyaan saya melalui chat. Saya coba kembali berbincang diakhir sesi, dengan pertanyaan yg berbeda. “Apa warna kesukaan kamu? Apa mata pelajaran kesukaan kamu? Apa kamu suka matematika? Apa kamu nyaman di kelas Miss? Apa kamu paham dengan penjelasan yg Miss berikan?” dan dari pertanyaan ini, saya berharap dia bisa terbuka lagi. Pada sesi berikutnya, siswi tersebut akhirnya mau menyalakan video dan berbicara. Dari pengalaman ini, membuat saya merasa sangat senang.

Dari pengalaman ini saya belajar, keberhasilan guru adalah keberhasilan siswa. Jika ingin membuat siswanya mau belajar maka buat siswa nyaman terlebih dahulu dengan kelas kita. Ilmu dapat meresap jika kita ikhlas menerima ilmu tersebut.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar