2

Peraturan & Konsekuensi (+2)

Muhammad Iskandar May 16, 2015

Sudah hampir 2 bulan ini saya menjadi fasilitator untuk tingkat SM. Pada saat pertama kali diberitahukan akan “kenaikan pangkat” dari fasilitator SD menjadi fasilitator SM saya senang sekaligus panik dan sedih. Senang karna saya dapat lebih mengembangkan kemampuan saya dan mendapat tantangan baru. Panik karna saya takut tidak bisa “mengendalikan” mereka (siswa-siswi SM), secara mereka lebih besar secara fisik dan pemikiran dibanding anak-anak SD. Saya harus lebih banyak belajar lagi agar dapat menyatu dengan mereka tanpa harus menghilangkan sikap patuh dan hormat kepada fasilitator mereka. Dan saya merasa sedih karna harus berpisah dengan Dzaki. Ya Dzaki, anak yg beberapa bulan ini saya bayangi. Dan dia yg sudah banyak memberikan saya pengajaran tentang kehidupan dan kebesaran Tuhan. 

Beberapa minggu saya mengajar di tingkat SM. Saya merasakan “ketakutan” saya menjadi nyata. Ya ketakutan saya kalau saya tidak bisa “mengendalikan” mereka terjadi. Selama saya mengajar, mereka lebih banyak bercanda, tertawa, dan membuat gaduh kelas. Hanya sesekali mereka memperhatikan. Karna saya tipe orang yg paling tidak bisa menerima ada orang yg bercanda saat saya sedang serius. Maka saya pun berazam untuk dapat “mengendalikan” mereka. Selama beberapa hari saya perhatikan cara fasilitator-fasilitator lain dalam hal “mengendalikan” mereka. ٩( •̀ω•́ )ﻭガンバッテ (ganbatte).

Sebenarnya saya tidak terlalu kaget dengan sikap mereka yg tidak bisa tenang saat jam pelajaran. Karna lebih dari 1 semester mereka belajar dari proyek yg dibuat. Mereka terbiasa untuk bergerak dan bereksplorasi sana-sini. Jadi suasananya tidak kaku seperti saat drilling kali ini. Ya dalam time line jadwal pengajaran, sekarang adalah saatnya drilling mata pelajaran. Dan saya kebagian mendrilling mereka pada pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 7 dan 8. Tapi yg membuat saya syok adalah kelakuan mereka yg seperti anak SD. 

#disitu kadang saya merasa sedih

Ditengah kegalauan saya mencari cara untuk bisa “mengendalikan” mereka. Pak Sahid memposting materi “Rules and Consequences” dari seorang “dedengkot” Sekolah Alam (maaf saya lupa nama beliau)  di grup WA fasilitator Jingga. Disana dituliskan, ‘hanya Tuhan yg berhak menerapkan reward & punishment. Kita hanya bisa menerapkan rules & consequences’. Hmmmm….sungguh menarik materi ini menurut saya. Karna selama ini kita selalu menerapkan reward & punishment. Ya metode ini (reward & punishment) dianggap ampuh untuk dapat “mengendalikan” anak-anak. Tapi metode ini memiliki kekurangan yg mendasar, yaitu ketika terlalu sering diberikan reward apakah si anak dapat melakukan semua tugasnya dengan penuh kesadaran tanpa pamrih? Dan ketika kita memberikan punishment, terkadang kita keliru melihat perbuatan si anak itu sebuah kesalahan atau tidak. Karna terkadang kita suka melakukan kesalahan dalam hal menjustifikasi. Selain itu si anak akan memiliki rasa takut dihukum lebih besar ketimbang rasa segan mereka ke kita. Kalau dengan metode “rules & consequences” kita mengajarkan kepatuhan terhadap peraturan. Kalau mereka melanggar, mereka menerima konsekuensinya. Jadi secara tidak langsung mereka akan belajar kedisiplinan, tanggung jawab, dan berpikiran jauh sebelum bertindak.

Dan tanpa pikir-pikir lagi saya pun mulai menerapkan metode “rules & consequences”. Namun karna saya masih terbiasa dengan “reward & punishment” dan belum sepenuhnya memahami metode “rules & consequences”. Maka saya menerapkan metode baru ini dengan konsekuensi yg memang saya akui lebih terkesan “punishment”. Hal itu saya lakukan untuk dapat membiasakan diri saya dan anak-anak terhadap metode baru ini secara perlahan-lahan. Jadi proses “hijrah” dari metode “reward & punishment” ke ” rules & consequences” tidak terlalu frontal.

Sebagai contoh, salah satu rules yg saya buat adalah “tidak membuat kegaduhan selama jam pelajaran”. Dan consequences yg akan mereka terima adalah “piket kebun dan atau piket membersihkan kamar mandi”. Secara sepintas memang rules dengan consequences-nya tidak sinkron. Ya hal itu dilakukan agar “transisi” pergantian metode dapat berjalan lancar. Stt sebenarnya sich karna saya belum begitu paham metode ini . Bisa dibilang ini proyek “eksperimen” . Selain itu anak-anak pun (mungkin) karna sudah terbiasa dengan “reward & punishment”, mereka belum bisa berpikiran jauh atas konsekuensi yg akan mereka terima. Dan akhirnya saya membuat konsekuensi yg (Insya Allah) bisa memberikan efek jera. Sehingga mereka akan berpikir ulang untuk mau melanggar rules/ peraturan. Jika mereka sudah terbiasa, maka konsekuensi yg tidak sinkron dengan peraturan ini pun akan saya cabut. Semoga saja ikhtiar ini dapat berhasil sesuai dengan apa yg diharapkan, amin. Dan apabila ada ide dan saran yg lebih baik mohon masukannya. 

Dan mari berssama kita ubah mainset “reward & punishment” menjadi “lures & consequences”

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10jingga1 jingga2

2,272 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar