1

Peran Terbaik (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto April 9, 2021

            Hari ini saya membaca sebuah kisah dari penulis kesayangan tentang dua orang perempuan bersahabat yang bertukar peran. Reina yang ingin menjadi wanita karir sukses dan Dinda yang selepas kuliah ingin menikah dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Takdir mengharuskan Reina berakhir menjadi ibu rumah tangga penuh dan Dinda yang akhirnya malah harus bekerja di luar rumah. Membaca dengan kondisi hati yang sedang melankolis membuat saya seakan berkaca. Dinda adalah diri saya. Saat kuliah dulu, jika ada yang bertanya apa yang saya inginkan nanti, saya akan menjawab ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Ingin mendidik dan mendampingi anak-anak saya, karena itu tanggung jawab saya. Urusan mencari nafkah adalah kewajiban seorang suami. Maka saya tidak ikut-ikutan melanjutkan ke S1 seperti yang lain. Bagi saya pendidikan D3 cukup untuk bekal menjadi ibu rumah tangga yang hebat dan menghebatkan anak-anak saya nantinya.

            Tetapi takdir berkata lain. Bermula dari tawaran seorang kepala sekolah teman ibu saya, yang meminta saya untuk mengajar Bahasa Inggris di sekolahnya. Tujuh tahun mengajar di sekolah membuat saya sayang untuk berhenti meskipun telah menikah. Maka ketika menjelang menikah ada tawaran untuk mengajar di sebuah sekolah Islam terpadu yang baru berdiri, saya langsung mengiyakan. Hitung-hitung sebagai pengisi waktu saya selama masa adaptasi dengan keluarga suami.

            Sampai hari ini sudah 20 tahun saya bekerja di luar rumah, yang 11 tahun sudah berstatus istri dan ibu. Alhamdulillah saya tetap bisa mendampingi anak-anak dengan baik. Kekhawatiran saya dulu bahwa jika bekerja di luar rumah saya tidak bisa maksimal mendampingi tumbuh kembang anak-anak tidak terjadi. Meskipun bekerja di luar sebagai guru SDIT yang full day dan full kegiatan, saya hafal perkembangan masing-masing anak saya. Kapan mereka mulai tengkurap, merambat, bicara, berjalan, bahkan tumbuh gigi. Pekerjaan saya pun baik-baik saja. Saya sudah terdaftar di Dapodik, 4 tahun diberi amanah menjadi waka kesiswaan, dan 18 bulan sebagai kepala sekolah. Bahkan sekarang mulai merambah dunia trainer.

            Jika sekarang saya ditanya apakah masih ingin menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Keinginan itu masih ada, tetapi kondisi yang membuat saya masih tetap berada di sekolah yang saya cintai seperti keluarga kedua saya. Selama masih dibutuhkan, saya masih tetap ingin berada di sini.

            Pada akhirnya saya hanya ingin mengatakan bahwa apa pun keinginan dan impian kita, Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Tugas kita hanya mensyukurinya dan menjalani peran kita dengan penuh keikhlasan dan cinta. Karena segala sesuatu yang dijalani dengan cinta dan keikhlasan akan terasa ringan. Tidak ada peran yang tertukar, semua sudah ditakar dengan sangat baik sesuai dengan kemampuan kita. 

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar