2

PERAN AYAH (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto February 25, 2021

            Ini kisah tentang salah seorang murid saya lebih dari 10 tahun yang lalu. Namanya Zidni, anak pertama dari 6 bersaudara. Waktu itu dia masih kelas 4 di SDIT Al Uswah, sekolah yang baru berdiri, dia dan teman-temannya merupakan angkatan pertama. Yang kulihat dari Zidni adalah, dia anak yang punya pemikiran dewasa jauh melampaui usianya. Waktu itu dia pulang sekolah janjian dengan temannya untuk naik angkot. Kebetulan jarak sekolah dengan rumahnya itu sekitar 9 km dan tidak ada angkot yang langsung menghubungkan antara sekolah ke rumahnya. Harus berganti angkot dua kali.

            Saya yang waktu itu mendengar percakapan kedua anak ini bertanya,

            “Mas Zidni mau naik angkot?”

            “Iya, Ustadzah.”

            “Berani?”

            “Berani dong, Ustadzah.”

            “Jauh lho, Mas. Harus ganti dua kali pula.”

            “Tidak apa-apa, Ustadzah, saya sedang latihan mandiri. Saya ini anak laki-laki, harus berani. Kata abi, anak laki-laki harus siap menggantikan abi jika suatu saat abi tidak ada. Apalagi saya anak sulung, harus bisa menjaga adik-adik dan menjadi contoh. Jadi mulai sekarang saya latihan naik angkot sendiri jika abi tidak bisa jemput.”

            “Masya Allah, Mas Zidni hebat sekali sudah berani.”

            “Iya dong, Ustadzah,” anak itu tertawa gembira.

            “Semoga lancar nanti naik angkotnya ya.”

            “Ya, Ustadzah. Terima kasih.”

            Ada lagi satu kejadian yang menunjukkan kedewasaan sikapnya. Waktu itu dia mengalami kecelakaan, ditabrak motor saat pulang dari sholat Jum’at di masjid dekat rumahnya. Karena kejadian itu dia harus dioperasi dan memakai kruk ke sekolah selama dua bulanan. Tetapi tak satupun keluh kesah kudengar dari mulutnya. Bahkan yang ada malah kesabaran atas musibah yang menimpanya.

            “Ini musibah, Ustadzah, ujian dari Allah untuk saya kata abi. Maka saya harus sabar. Mungkin jika tidak diuji begini saya akan bandel atau sering main keluar rumah, atau bersepeda yang jauh dari rumah,” begitulah jawaban seorang anak kelas 4 yang membuatku terpaku saat itu. Konsep tauhid yang sudah terpatri kuat di hatinya, bahwa musibah dan kesenangan itu datangnya dari Allah.

            Yang saya kagumi dari Zidni adalah keteguhannya. Dan satu lagi, kedekatan dan kekagumannya pada sosok ayah yang dipanggilnya abi. Ayahnya selalu terlibat dalam apapun kegiatan Zidni, selalu memantau hafalan setiap ba’da subuh. Menurut saya inilah salah satu kunci sukses pembentukan karakter yang kuat pada diri Zidni. Ayah yang terlibat langsung dalam proses pendidikan anak.  Menurut teori parenting memang ayah harus berperan dalam proses pendidikan anak. Di Al Qur’an pun disebutkan bahwa proses mendidik anak itu lebih banyak dilakukan oleh ayah, seperti kisah Luqman dengan anaknya, Nabi Yusuf AS dengan ayahnya Nabi Ya’qub AS, Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS.

            Saya jadi berandai-andai, jika para ayah semua melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh ayah Zidni, pasti akan banyak sekali anak-anak tangguh dan berkarakter yang dihasilkan. Tentu sang ayah harus tangguh dan berkarakter terlebih dahulu.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar