13

Penyakit Gampang Lupa (+3)

M. Yusuf Amin Nugroho November 16, 2013

Kita manusia dan kita mudah lupa. Lupa pada apa saja. Pada keburukan-keburukan yang kita kerjakan. Pada masa lalu yang kelam. Pada buku yang baru dibaca semenit silam. Pada mimpi-mimpi kita dua sewaktu kecil. Pada nama teman-teman semasa di sekolah dasar. Pada kebaikan orang lain. Begitulah, kita. Oh, bukan kita. Maaf, maksud saya, saya. Sebab, barangkali—dan semoga—Anda tidak sebagaimana saya. Saya yang kerap lupa pada beberapa hal di atas. Termasuk juga—kalau ini berlaku bagi siapa pun—pada saat-saat kita bayi, dan tentu ketika kita ada di dalam kandungan, saat kita bertemu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuhan.

Disebabkan gampang lupanya kita itulah, maka Tuhan membuat Kitab Suci, manusia menulis buku, dan terciptalah kamera yang membekukan waktu.

Soal gampang lupa, mungkin bisa jadi pertanda bertambahnya usia. Tetapi bisa pula tidak. Saya lebih percaya yang terakhir. Gampang lupa mungkin semacam penyakit, dan tidak semua orang mengidap penyakit tersebut.

Penyakit, mag misalnya, tentulah ada sebabnya. Lalu apa sebab dari penyakit gampang lupa? Mungkin karena banyak dosa. Kemungkinan itu memang tidak ilmiah, tapi yang tidak ilmiah belum tentu salah. Jawaban yang lebih ilmiah, barangkali karena penyakit lupa ini disebabkan makanan tertentu, atau cara makan tertentu, atau pola makan yang keliru. Saya tidak begitu tahu. Tapi saya percaya, makanan, cara makan, dan pola makan dapat mempengaruhi kerja otak kita.

Saya menulis ini, sebenarnya dalam keadaan kesal. Saya menulis untuk menghilangkan kekesalan yang saya alami. Hari ini, beberapa kali saya melupakan apa yang seharusnya saya ingat. Pagi-pagi saya masuk ke kelas yang salah. Semestinya saya mengajar di kelas 8D tapi kelas itu saya lewati begitu saja, dan saya justru menuju kelas 8G. saya baru sadar jika saya telah lupa, setelah tahu kalau kelas itu ada gurunya. Tidak mungkin guru itu yang lupa, dan karenanya saya langsung mengecek jadwal lagi. Benar, Sayalah yang lupa.

Dan baru saja siang ini, sesaat sebelum saya menulis ini di sebuah warung kopi. Saya meluncur dari sekolah menuju Universitas Sains AL-Qur’an (Unsiq) Wonosobo berniat mengajar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Semester III dan V, sebagaimana biasa. Perihal tugas saya sebagai dosen yang sudah saya lakoni hampir 2 tahun, sebenarnya saya sungkan mengakuinya dan hanya orang-orang tertentu yang saya ceritakan. Tapi, karena ini menyangkut ‘lupa yang saya alami’, maka terpaksa saya menuliskan itu. Jujur saya, saya masih harus banyak belajar, lebih-lebih mata kuliah yang saya ajarkan adalah studi pesantren dan masa’il fiqh, dua jenis ilmu yang sering dilupakan, dan sedikit saja berkaitan dengan cerpen-cerpen yang saya tulis.

Kurang lebih 10 kilometer saya tempuh dengan kecepatan penuh. Saya buru-buru karena sudah terlambat. Sampai di kelas, eh ternyata sudah ada dosennya. Saya yang tidak membawa jadwal segera menuju ke ruang Dosen. Dan benarlah, jadwal mengajar saya semestinya tanggal 30 November.

Saya tahu, tadi malam saya sudah melihat jadwal yang terpasang di kamar, tapi begitulah saya lupa. Mungkin juga saya kurang teliti. Kurang teliti  sebenarnya berbeda dengan lupa. Mungkin ia saudara dekat, bisa jadi keponakannya. Hehe.. Ah, sudahlah. Sebaiknya, saya lupakan kejadian itu atau saya ingat-ingat? Mungkin sebaiknya saya simpan saja sendiri, dan dengan begitu orang tidak tahu aib saya ini. Tapi sudah terlanjur, sudah menjadi bubur. Maka, saya berdoa saja semoga tulisan singkat ini ada hikmahnya.

 

Nb.

Agaknya, akan semakin banyak yang kita lupakan di kemudian hari. Maka, beruntunglah orang-orang yang senang menulis, sebab menulis adalah upaya kita melawan lupa.

Tagged with:

Comments (13)

  1. Menurut apa yang pernah saya baca2 penyebab kita lupa :
    1. Sering melihat hal yang tidak baik (jorok)
    2. Terlalu banyak kegiatan
    3. Sering sibuk

    Pencegah :
    1. Senang Menghafal Kata (belajar bahasa)
    2. Banyak menghafal AL-Qur’an (bagi yang muslim)

    setuju : Apa yang kita dapat, kita ikat dengan menulis
    🙂

    • terimakasih atas tanggapan kawan-kawan. sekali lagi terimakasih.
      @PPak Subakri: tentang sebab-sebab “gampang lupa” mungkin benar begitu, dan juga banyak lagi sebab yang lain, yang ilmiah dan yang magis.

  2. Nurcahyo pernah menjelaskan di TVRI (jaman dulu sebelum ada TV swasta), bahwa otak manusia itu ada 2 pungsi: Menyimpan dan Daya Panggil. Saya gak pernah mengingat-ingat kapan saya disunat, tapi kalau orang bertanya kapan saya disunat… daya panggil saya akan menjawab. saya gak pernah mengingat-ingat ketika jatuh dari sepeda waktu kecil,tapi kalau ditanya pernah jatuh dari sepeda gak? daya pangil saya akan menjawab, kapan jatuhnya, dimana jatuhnya, bagaiman jatuhnya, apa saja yang sakit, dst. Pak M. Yusuf Amin Nugroho coba berlatih mengucapkan atau membaca sesuatu… simpan kemudian mintalah orang terdekat kita untuk mengujinya… lakukan dengan sesuatu yang paling sederhana, sedang dan agak rumit, jika belum berhasil.. istirahatlah di rumah sebab jika dipaksakan keluar… banyak orang multi tafsir kepada bapak. he he he Insya Allah, saya berdoa semoga cepat sembuh sebab ilmu yang bapak miliki sangat dibutuhkan masyarakat. Lakukan nasehat Pak mokhamad subakri, baca berulang-ulang, simpan lalu coba uji daya panggilnya. Semoga berhasil

    • @Pak Subhan yang budiman, bisa dicoba tuh. hehe… tapi perkara orang multitafsir terhadap kita, mungkin itu tak perlu dicemaskan. toh sebenarnya, penyakit gampang lupa saya ini, kalau boleh saya menilai, tidak begitu parah. Misal, saya sering lupa di mana menaruh kunci sepeda, apakah pintu rumah sudah dikunci, kapan terakhir mengisi pulsa listrik, dan hal-hal semacam itu… 🙂

  3. Ya pak Yusuf, beruntunglah bagi kita yang gemar dan disiplin dalam membaca dan menulis, tentang agama, pendidikan, apa saja yang baik. Dengan menulis berarti sudah aplikatif, apalagi sampai ke tingkat analisis, sintesis, dan evaluasi. Insya Allah Guraru bisa. Hal ini kita jadikan rutinitas seperti artikel yg kuposting sebelumnya. Terima kasih sharingnya dan salam perjuangan.

    • Terimakasih pak Ramdhan. Agaknya penyakit gampang lupa ini menjangkiti bukan hanya orang-orang tua, atau bahkan orang-orang yang berlumur dosa. Dan inilah yang kemudian dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingannya. maka muncullah istilah pengalihan isu. hehe…

  4. Terimakasih pak M. Yusuf Amin N. atas sharingnya. Menurut saya “Lupa itu bukan merupakan penyakit”. Sebagai manusia maka kita adalah tempatnya salah dan lupa. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Seorang nabi sekalipun pernah melakukan kesalahan dan lupa. he…he…he…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar