17

Pendidikan Non-Akademis (+22)

Rudy Hilkya May 19, 2013

Menurut tulisan pada Kompas.com, 4 Januari 2012, ternyata sekolah belum punya tradisi mengakui, menghargai, dan mengembangkan bakat non-akademik siswa, Bahkan, sekolah kerap tak mendukung prestasi itu.  Menurut Suyanto Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Jenderal bakat siswa dalam bidang non-akademik juga penting. Bahkan, masih banyak ditemui kasus siswa berprestasi non-akademik yang sulit memperoleh izin dari sekolah ketika akan mengikuti ajang-ajang nasional dan internasional.

Sementara pada setiap penerimaan peserta didik baru, banyak sekolah-sekolah negeri yang membuka jalur siswa berprestasi di bidang non-akademis ini seperti dari juara olah raga, juara kesenian, dan juara-juara lainnya yang telah dicapai calon peserta didik bahkan hingga tingkat mancanegara (internasional). Jika selama ini sekolah dikatakan sangat kaku menerapkan keluwesan bahwa prestasi non-akademik juga membawa citra positif bagi sekolah, hal itu semata-mata karena hasil dari prestasi non-akademik seering dipandang sebelah mata, tidak menentukan keberhasilan mereka saat menyerap pengetahuan dari mata pelajaran yang notabene semuanya kebanyakan bermuatan kognitif.

Menurut saya pribadi, keberhasilan di bidang non-akademik adalah bakat yang alamiah dan tidak semua peserta didik memilikinya karena itu adalah gift and talent, yang memang dirahmatkan Sang Pencipta kepada para siswa ini. Kadang-kadang teman-teman guru hanya memandang bahwa siswa itu “baik” karena penurut dalam kelas, rajin mengikuti pelajaran, pandai berdiskusi dan argumen, nilai ulangannya bagus (karena rajin mengikuti les), semestinya keberhasilan siswa juga dipandang dari segi kinestetik, estetika atau menurut cara pandang holistik, bahwa pendidikan kepada para peserta didik harus diamati secara menyeluruh bukan bagian demi bagian.

Partisi-partisi atau pengotak-otakan pendidikan yang diberikan kepada para siswa malah membuat mereka semakin terbebani dan tidak mengalami kebebasan memilih sebagaimana yang kita telah alami. Semakin lama rentang waktu yang kita tempati sekarang berdasarkan pengalaman Bapak/Ibu Guru, bukan semakin mempermudah agar siswa dapat belajar menurut keinginannya (ditakutkan karena alasan mata pelajaran yang diikuti tidak dihormati, tidak disegani sebab tidak diujikan secara naional), momok ini yang juga membaur dalam prasangka bahwa pendidikan non-akademis itu tidak terlalu perlu dititikberatkan.

Porsi-porsi pelajaran Olah Raga dan Kesenian juga semakin dikurangi, atau jika pun masuk dalam domain kurikuler, belajar dengan mata pelajaran ini tidak terlalu diseriusi karena banyak kecenderungan siswanya bermain-main saja. Mengapa demikian? Karena yang diajarkan itu seperti doktrin, normatif, kaku seolah-olah materi pelajaran olah raga pun materi pelajaran kesenian yang demikian saja yang dikenal di persekolahan dan masuk dalam ujian akhir sekolah. Selain itu pelajaran olah raga dan kesenian bukan pelajaran pokok sebab tidak menentukan kelulusan siswa! Sungguh suatu ironika jika paradigma proses pendidikan  kita telah berlandaskan hal ini.

Kegiatan ini dilakukan saat liburan UN tahun 2011, siswa kelas XI tengah menguji tekanan isap menggunakan selang berdasarkan tekanan udara luar 1 atm dan mampu mengisap hingga setinggi 2 m

Berkaitan dengan pendidikan non-akademis yang nantinya menjadi keterampilan lunak (softskill) siswa untuk bertahan hidup, saya mengaitkan kegiatan belajar saya untuk hal-hal yang bersinergi dengan kinestetik dan estetika ini. Kelas fisika yang saya ajarkan tidak melulu kegiatan teoretik dan membahas persamaan serta teorema-teorema saintifik yang njelimet nan rumit, tetapi juga diselingi dengan percobaan-percobaan yang dilakukan di laboratorium dan saya tambahkan kegiatan-kegiatan non-laboratoris (foto-foto tersebut saya kerjakan tahun 2008/2009) dengan percobaan menggunakan beban berat badan untuk mengukur kekuatan pegas, percobaan menghitung kecepatan lari sebagai cara pendekatan memahami gerak lurus beraturan dan berubah beraturan, meniup sumpit dengan pipa paralon sebagai pelestarian cabang olah raga sumpit (bagian dari Festival Budaya Isen Mulang), lempar tangkap bumerang (keluwesan gerak siswa dalam mengamati dan menangkap perilaku bumerang), menggambar pola gerak harmonis getaran dalam diagram lingkaran sudut yang dihias dan diwarnai, membuat tabel nilai resistor berdasarkan warna, membuat peta konsep tanpa teks melainkan gambar subyek semesta pembicaraan, selain mendokumentasikan dan menuliskan kegiatan belajar yang mereka lakukan tersebut (selanjutnya dokumen, catatan harian mereka diunggah melalui webblog masing-masing siswa).

2013-05-18 08.08.35 2013-05-18 08.08.25 2013-05-18 08.03.41 2013-05-18 08.03.342013-05-18 07.14.17 2013-05-18 07.13.24 2013-05-17 07.46.55 2013-05-17 07.46.40 2013-05-16 10.42.38 2013-05-16 10.41.56 2013-05-16 10.41.32 2013-05-16 10.36.17 2013-05-16 10.25.49 2013-05-16 10.25.15 2013-05-16 10.25.07  2013-05-15 11.24.28 2013-05-15 11.23.21 2013-05-15 11.23.06 2013-05-15 11.22.00 2013-05-15 11.19.26 2013-05-15 11.18.07 3c

Model-model sederhana di atas menurut saya adalah kegiatan yang terintegrasi dengan pendidikan non-akademis, yang menjadi suplemen latihan softskill.  Hal ini diharapkan membuat para peserta didik semakin tangguh dan tidak tanggung-tanggung membangun fondasi keberhasilan belajar mereka di segala lini di masa mendatang.

About Author

Rudy Hilkya

Guru Fisika di SMAN-2 Palangka Raya, aktif berkicau di http://twitter.com/fisikarudy, juga menulis di blog pribadi http://fisikarudy.wordpress.com, mendirikan klub Fisikarudy di facebook selain bisa ditemui bertwitter di @fisikarudy - line, whatsapp juga SMS ke 0811-5204-209 sekarang aktif menjadi reviewer di http://rudyhilkya.com/ juga pada blog abal-abal http://rudykit.blogspot.com, rudyhilkya.wordpress.com

View all posts by Rudy Hilkya →

Comments (17)

  1. Sebenarnya pendidikan non-akademis itu juga penting.. tidak hny akademisnya yg penting. Kalau bisa semua pembelajaran akademis digabung sama non-akademis. Sehingga memacu semangat siswa, contohnya seperti yg dilakukan bapak. 🙂

  2. setuju pak kalau keberhasilan di bidang non-akademik adalah bakat yang alamiah dan tidak semua peserta didik memilikinya karena itu adalah gift and talent, yang memang dirahmatkan Sang Pencipta kepada para siswa ini. Kadang-kadang teman-teman guru hanya memandang bahwa siswa itu “baik” karena penurut dalam kelas, rajin mengikuti pelajaran, pandai berdiskusi dan argumen, nilai ulangannya bagus (karena rajin mengikuti les), semestinya keberhasilan siswa juga dipandang dari segi kinestetik, estetika atau menurut cara pandang holistik, bahwa pendidikan kepada para peserta didik harus diamati secara menyeluruh bukan bagian demi bagian.

    tidak semua pelajaran ataupun kegiatan Non Akademik itu buruk atau tidak berguna

    wah ada foto saya 🙂

  3. yang menjadi masalah adalah, ketika seorang siswa memiliki bakat prestasi nonakademis di bidang olah raga misalnya volleyball, tidak dibarengi dengan peningkatan akademis sekolahnya.. padahal olahraga memiliki sifat sportif, tanggungjawab.. sikap ini tidak muncul di pelajaran2 lain… maka kasus seperti ini pernah terjadi disekolah saya, walaupun dia seorang atlet tetapi terlalu banyak masalah, nilai yg tidak tuntas, sikap yang ‘layas’ dgn guru sehingga siswa tersebut tetap tinggal tidak bisa nilai nonakademisnya ketika ia tidak bisa terapkan dipelajaran lain…

    • sayang sekarang cekgu Rizal, padahal siswa juga mesti diberi kesempatan demikian, inilah kekakuan yang tumbuh di sekolah-sekolah kita dan kita biarkan dan juga para siswa tidak memiliki rasa empati dan memiliki pun suatu kecemaran karena pelajaran non akademis yang lebih memperkaya sikap dan perilaku justru tidak ditonjolkannya, sifat sportif hanya menjadi citra kosmetika semata.
      Seperti siswa seperti demikian perlu juga mendapat pelajaran pahit karena sikapnya selain terlalu banyak masalah tadi, kita pun tidak dapat menoleransikannya

  4. saya sangat setuju.. sebagian besar orang berpikir bahwa bidang akademis itu lebih penting daripada non-akademis dan sering kali bidang non-akademis dikesampingkan bahkan dianggap bisa “mengganggu”, padahal kemampuan, bakat dan minat orang tidak semua sama.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar