0

PENTINGNYA KEPEMIMPINAN ENTREPRENEUR UNTUK PENGEMBANGAN GURU PROFESIONAL (+1)

Jufri Sinaga April 7, 2015

Oleh: Jufri Sinaga, S.Pd., M.Si

Setiap satuan pendidikan harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat dari indikator kuantitatif dan kualitatif. Nilai Ujian Nasional (UN), persentase kelulusan, angka drop out (DO), jumlah mengulang dan persentase yang melanjutkan pendidikan merupakan indikator kuantitatif. Di samping itu, diperlukan pengukuran indikator kualitatif yang berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik dan berkaitan dengan pembentukan sikap serta ketrampilan/skill berwirausaha (entrepreneur) peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun, memiliki sikap dan ketrampilan/skill berwirausaha.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill dari pada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter termasuk karakter kewirausahaan peserta didik sangat penting untuk segera ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, peningkatan mutu pembelajaran dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan mampu menerapkan kepemimpinan entrepreneur dalam melaksanakan tugasnya. Kepala sekolah yang memiliki gaya kepemimpinan entrepreneur mempunyai visi organisasi yang hendak dicapai, pengambil inisiatif dan bertindak, menjadi urat nadi pembaharu di sekolah, memberi petunjuk dan semangat kepada bawahan, penuh tanggung jawab dan bentuk inovasi lainnya. Pemimpin entrepreneur selalu mencari peluang dalam menjalankan sekolah ke arah kondisi yang semakin baik. Kemudian, dia akan mampu membangun kepercayaan dan keyakinan dari bawahannya. Dengan demikian, kepemimpinan entrepreneur diperlukan dalam lembaga pendidikan karena diharapkan mampu mengembangkan sekolah ke arah yang lebih inovatif, melalui kreativitas, kerjasama, proaktif, pandai memanfaatkan peluang dan membuat sekolah lebih adaptif.

 

Pengembangan Kemampuan Guru Profesional

            Berbagai potensi yang dimiliki oleh guru harus dikembangkan terus menerus secara maksimal. Diharapkan seorang guru tidak langsung berpuas diri dengan kemampuan yang telah dimiliki, tetapi perlu mencari dan mengembangkan potensi untuk kemampuan lainnya. Sebagaimana dikatakan Margioli (2004) “Professional development can be defined as a career long process in which educator fine-tune their teaching to meet student needs”. Jadi, pengembangan profesi sebagai suatu proses yang panjang yang tidak henti-hentinya dalam bidang karir seorang guru, sehingga kelak ia akan pas dengan profesinya dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta didiknya.

Ada lima dimensi kompetensi kewirausahaan kepala sekolah (Dirjen PMPTK, 2009), yaitu: 1) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah. 2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan. 3) Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok. 4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah. 5) Memiliki naluri kewirausahaan dalam menjelaskan kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

Dengan kompetensi kewirausahaan yang dimiliki oleh kepala sekolah maka mereka pada umumnya mempunyai tujuan dan pengharapan tertentu yang dijabarkan ke dalam visi, misi, tujuan dan rencana strategis yang realistik. Realistik berarti tujuannya disesuaikan dengan sumber daya pendukung yang dimiliki. Semakin jelas tujuan yang ditetapkan semakin besar peluang untuk dapat meraihnya. Dengan demikian, kepala sekolah yang berjiwa entrepreneur harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur dalam mengembangkan sekolah. Untuk mengetahui apakah tujuan tersebut dapat dicapai maka visi, misi, tujuan dan sasarannya dikembangkan ke dalam indikator yang lebih terinci dan terukur untuk masing-masing aspek atau dimensi. Dari indikator tersebut juga dapat dikembangkan menjadi program dan subprogram yang lebih memudahkan implementasinya dalam pengembangan sekolah.

Pengembangan sekolah oleh kepala sekolah tidak terlepas dari pengembangan guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Pegembangan kemampuan guru ini bukan saja untuk kepentingan guru saja tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan. Dengan meningkatnya kemampuan guru, maka dia memeiliki kapasitas, kemampuan untuk mengobservasi dan menganalisa peserta didik. Guru akan terus memantau dan memodifikasi cara mengajarnya yang berbasis pada reaksi dan keinginan siswa.

Morris (2006) menyatakan bahwa guru harus kreatif. Guru yang kreatif adalah “Teaching creatively might be describe as teachers using imaginative approaches  to make learning more interesting, engaging, exiting and effective”.  Hal ini menunjukkan bahwa mengajar kreatif berarti guru menggunakan imajinasinya agar kegiatan belajar mengajar lebih menarik, tidak membosankan, dan peserta menyimak dengan penuh perhatian. Kemudian, guru mengajar kreativitas berarti guru menggunakan metode mengajar yang dapat mendorong daya kreatif siswa baik cara berpikirnya maupun dalam perilaku.

Guru kreatif, akan menggunakan banyak variasi dalam cara ia mengajar, mungkin ia menggunakan berbagai metode secara bergantian sesuai kebutuhan, mencari sumber pelajaran dari literature lain yang lebih menarik, ia mencoba menjelaskan hal-hal yang sukar menjadi mudah, ia mampu mendorong siswa belajar dan membaca buku. Dengan begitu, peserta didik bisa terkesan dan mendapatkan makna yang dalam melalui cara guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Sedangkan teaching for creativity adalah mengembangkan kemampuan kreativitas peserta didik, berpikir kreatif dan berperilaku yang sopan. Guru memberikan toleransi dalam batas-batas tertentu mengenai jawaban yang berbeda dalam menjawab soal. Tidak menuntut hanya ada satu jawaban yang benar, tapi guru memberikan peluang jawaban yang berbeda, kemudian masing-masing jawaban didiskusikan. Cara demikian akan memupuk kreativitas peserta didik.

 

Dukungan Iklim Sekolah

Untuk mengembangkan daya kreatif guru, berbagai usaha dapat dilakukan dan yang penting diantaranya adalah adanya iklim sekolah yang menunjang. Sebagaimana dikatakan Alma (2010) bahwa iklim sekolah menggambarkan suasana yang tercipta di sekolah karena adanya pola hubungan antar pribadi warga sekolah. Pola hubungan ini bersumber dari hubungan antar guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah, dengan pegawai, dengan orang tua peserta didik dan sebagainya. Iklim sekolah yang kondusif sangat dibutuhkan oleh guru untuk menumbuhkan dorongan dalam dirinya untuk bekerja lebih semangat dan termotivasi.

Dengan demikian, iklim sekolah ini merupakan faktor dominan dalam mendorong kreativitas dan produktivitas guru. Dalam iklim sekolah yang baik akan diperoleh dorongan dari obrolan antar guru, dengan kepala sekolah, dorongan dari sekolah, kelompok kerja, sifat saling menunjang dan menghargai. Melalui suasana yang demikian guru merasa tenang, nyaman, ada motivasi, tidak ada rasa takut dalam bekerja, tidak malu-malu, tidak ragu, sehingga guru semakin kreatif dan tentu akan meningkatkan penampilannya. Jadi, iklim sekolah ini merupakan atmosfir yang berlaku dan suasana batin bagi inidividu, kelompok atau semua warga sekolah. Akhirnya, iklim sekolah ini akan menjadi alat untuk meningkatkan loyalitas personil yang ada dalam sekolah.

 

Penutup

Kepemimpinan entrepreneur yang dimiliki oleh kepala sekolah sangat berperan dalam pengembangan keprofesian guru. Kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah, tentu berpengaruh signifikan terhadap pembentukan iklim yang baik. Iklim sekolah yang baik ini akan menciptakan suasana yang nyaman bagi warga sekolah dalam melaksanakan tugasnya. Kondisi ini juga akan menumbuhkan motivasi, guru akan selalu ingin meningkatkan pengetahuan, gandrung dengan kreativitas, disiplin dan bertanggung jawab dalam melakukan tugas profesinya,

 

Referensi:

Akbar, Ali Ibrahim. 2000. Tentang Pendidikan Karakter. Jakarta: Rajawali.

Alma, Buchari. 2010. Guru Profesional: Menguasai Metode dan Terampil Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Dirjen PMPTK. 2009. Dimensi Kompetensi Kepala Sekolah. Jakarta: Dirjen PMPTK Depdiknas.

Margioli. G. D. 2000. Professional Development. Virginia: ASCD.

Morris, Wayne. 2006. Creativity, Its Place in Education. On-line: www.jpb.com (6 April 2015).

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar