11

Pengorbanan dan Makna Pendidikan (0)

Supadilah S.Si December 5, 2020

Pernah dengar orang tua yang menjual barang berharganya untuk menyekolahkan anaknya? Pernah jumpa orangtua yang rela berhutang di sana sini untuk biaya pendidikan anaknya? Pernah lihat orang tua yang rela membanting tulang bekerja, rela kepala jadi kaki, kaki jadi kepala untuk membayar uang sekolah anaknya?

Atau, malah beberapa cerita di atas itu merupakan pengalaman kita sendiri? Cerita di atas bukan sedikit. Banyak. Terlalu banyak malah.

Bahkan dengan kisah yang lebih heroik. Di suatu daerah, masyarakatnya terkenal dengan kenekatan menyekolahkan anaknya. Bahkan rela jual rumah, tanah, atau kebun asal anaknya lanjut sekolah. Tentu, dalam hal ini  sekolah bisa disamakan kuliah.

Ya, masyarakat kita memandang sangat penting sebuah pendidikan. Biarlah hidup miskin asal bisa menyekolahkan anak sampai setinggi-tingginya.

Sering pula kita dengar kesah orang tua begini, “Cukuplah orang tua yang tidak selesai sekolah. Anak kalau bisa jangan seperti orang tuanya.”

Sampai di sini, kita sepakat ya, kalau pendidikan itu penting. Banyak yang mengamininya. Saya tak hendak mengatakan semua orang ya. Sebab faktanya ada juga orang yang menganggap pendidikan tidak penting.

“Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya kembali ke rumah.”

“Buat apa jadi sarjana. Banyak juga sarjana yang menganggur.”

“Nggak usah pintar-pintar amat. Toh sudah kaya. Kekayaan orang tuanya nggak akan habis tujuh turunan.”

Tuh, banyak juga yang nggak sepakat. Menolak bahwa pendidikan itu penting.  Alasan si miskin atau kaya kadang sama. Sekolah dianggap hanya membuang waktu. Lebih baik digunakan untuk kerja. Membantu orang tua di ladang atau kebun. Lebih cepat dapat uang.

Daripada, kalau sekolah, justru menghabiskan biaya. Padahal, untuk kehidupan sehari-hari saja sudah susah.

Begitupun alasan si kaya. Daripada membuang waktu di sekolah, mendingan buat mengurus usaha atau bisnis keluarga. Supaya bisnisnya semakin maju. Kekayaan keluarga semakin bertambah dan perusahaan semakin membesar.

Hmmm.  Begitulah pemikiran mereka. Keliru, jika tidak disebut salah. Namun, bisa jadi karena kondisi.

Tapi, mungkin kita bisa sepakat kalau lebih banyak orang yang sadar bahwa pendidikan itu penting.

Meskipun dengan berbagai alasannya. Alasan yang jika ditinjau dengan teori mutakhir zaman ini bisa jadi keliru.

Seperti alasan ini. Orang tua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi agar kelak mudah mencari kerja. Ijazahnya menjadi jaminan kemudahan melamar pekerjaan. Semakin tinggi ijazahnya, semakin besar pula daya tawarnya.

Nah, sekarang kan, bagi teori pendidikan kekinian, motivasi seperti ini perlu dikoreksi. Paradigma bahwa sekolah hanya untuk mengejar gelar atau ijazah agar dapat pekerjaan perlu diluruskan.

Sebab, banyak pula yang pada akhirnya bekerja yang tidak sesuai dengan pendidikannya. Misalnya, dia lulusan pertanian atau peternakan bekerja di bank. Masih banyak contoh lainnya.

Makna pendidikan bukan itu. Bahwa pendidikan merupakan sebuah usaha untuk mendapatkan pengetahuan, mengembangkan potensi, dan menyiapkan kehidupan di kemudian hari.

Lihat pada sistem pendidikan nasional kita, bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dewasa ini, pendidikan Indonesia mengarahkan agar seseorang itu berkarakter baik. Dengan berbagai keahliannya, seseorang diminta untuk memberikan sumbangsihnya bagi bangsa.

Apapun Pendidikannya, Keluarga Yang Utama

Saya jadi ingat mars Sahabat Keluarga. Bahwa pendidikan yang utama adalah keluarga.

Begini liriknya.

Pendidikan yang pertama dan utama

Pendidikan keluarga

Asah asih asuh anak kita

Agar jadi manusia seutuhnya

Berbudi pekerti luhur

Dan berakhlak mulia

Cerdas pintar dan berprestasi

Pendidikan keluarga

Mencerdaskan bangsa

Nah, jelas sudah bahwa apapun jenis pendidikannya, di manapun anak sekolah, pendidikan keluarga sangat menentukan.

Sebagai seorang guru, saya sering menemukan, siswa yang bermasalah pastilah dilatari keluarganya yang bermasalah. Hampir semua begitu. Baik yang bandel, tidak semangat sekolah, sering bermasalah, dan semisalnya. Setelah dicek, ternyata keluarga dia bermasalah. Entah itu keluarga broken home, salah satu orang tua tidak ada, atau orang tua salah mendidik.

Kita mengenal tiga jenis jalur pendidikan. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal, non-formal dan informal

Dewasa ini muncul semakin banyak pendidikan informal. Misalnya sekolah alam, home schooling, balai latihan kerja, dan lainnya.

Sah-sah saja mau pakai jalur mana. Namun, yang utama adalah pendidikan keluarga.

Saya menemukan banyak orang keren, maksud saya dia pintar membawa diri dalam masyarakat, bisa menyesuaikan diri di lingkungan, punya karakter baik, bahkan berprestasi, didasarkan pada keluarga yang mampu mendidik anaknya.

Jadi, sangat tepat disebutkan bahwa keluarga merupakan pondasi.

Di buku Belajar Mendidik yang ditulis Prof. Dr. B. S Mardiatmadja, dituliskan bahwa orang tua adalah pendidik utama. Bahkan ada satu pandangan yang membuat saya cukup terkejut.

Katanya, orang tua menjadi pendidik utama bagi anak. Selanjutnya, sekolah dan negara membantu orang tua dalam mendidik anak.

Wah, jadi sekolah ini sifatnya membantu orang tua. Nah, sangat berkebalikan dengan paradigma kita selama ini, bahwa pendidikan sangat utama dilakukan oleh sekolah. Dan, orangtua hanya sekadarnya.

Katanya pula, salah satu penyempitan makna pendidikan menganggap hanya dilakukan guru dan dilangsungkan di sekolah. Hingga beberapa puluh tahun, masyarakat Indonesia belajar menerima bahwa anaknya harus masuk sekolah jika ingin dikatakan terdidik. 

Penutup

Dengan beragam latar belakang pendidikan orang tua, mendidik anak menjadi sebuah kewajiban. Dengan beragam pula harapan agar anak menjadi apa, jangan lupakan pendidikan itu utamanya membentuk kepribadian yang berkarakter baik.

Sepintar apapun dan setinggi apapun sekolah orang tua, ijazahnya tidak menjamin kesuksesan orang tua mendidik anak.

Maka, teruslah belajar mendidik anak. Manfaatkan banyak sarana. Belajar lagi.  Bisa belajar kepada orang lain, baca buku, maupun sumber belajar lain.

Mendidik bukan hanya menabung pahala yang kelak kita tuai pahalanya, tapi juga mudah-mudahan menjadi kontribusi kota memperbaiki bangsa. Terima kasih. (*)

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (11)

  1. Betul pak

    Sering orang bilang yang sempat terngiang ditelinga saya
    “Buat apa sekolah tinggi kalau perempuan ujung²nya di dapur”

    Dalam hati menjawab
    “Saya memang wajib di dapur, tiap pagi tanggung jawab saya mengurus rumah tangga, tapi kewajiban saya lainnya adalah menyampaikan ilmu yang sudah saya dapatkan dari doa dan usaha orang tua saya”

    Pusing mikirin kata orang AWAM 😂😂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar