1

Pengalaman Unik Mengajarku Sebelum Versus Selama New Normal (0)

Angie M. Marella October 6, 2020

Mengajar menjadi sebuah hal yang sudah biasa aku lakukan sejak aku duduk di bangku SMP. Aku sudah terbiasa mengajar sebagai guru les paruh waktu hingga akhirnya sekarang aku membuka tempat kursus sendiri. Bertemu berbagai macam karakter anak sudah menjadi hal yang biasa. Mencari ide baru yang kreatif dan inovatif untuk membuat anak memahami materi juga sudah menjadi makanan sehari-hari. Akan tetapi, pandemik Covid-19 ini banyak mengubah kebiasaan dan caraku mengajar. Hal yang biasa dapat dilakukan menjadi kurang efektif atau bahkan sulit dilakukan. Oleh karena itu, aku akan membagikan pengalaman unikku dalam mengajar sebelum pandemik Covid-19 di mana aku dapat bertemu tatap muka dengan murid aku dan selama new normal ini di mana semua proses pembelajaran dilakukan secara online.

Sebelum pandemik, anak-anak datang ke tempat kursus dan kita bisa bertemu secara tatap muka. Semua proses pembelajaran dilakukan secara luring (luar jaringan). Aku dapat berinteraksi langsung dengan anak, mengarahkan gerakan tangan mereka, membenarkan posisi duduk dan lain sebagainya. Tidak sedikit muridku yang masih duduk di bangku SD dan TK yang tidak dapat duduk diam dan fokus untuk durasi waktu tertentu. Mereka senang bersembunyi di bawah meja, berlarian, ataupun pergi ke luar ruangan dengan alasan ke toilet atau minum. Akan tetapi, hal itu masih dapat diatasi dengan mengatur susunan meja dan kursi yang cukup rapat, sehingga anak sulit untuk beranjak dari kursi dan berlarian. Terkadang aku juga dapat merangkul atau memangku beberapa anak yang kecil saat belajar agar mereka tetap duduk di bangkunya dan fokus mengerjakan tugas mereka. Ada juga anak yang perlu dibelai dan dielus-elus dahulu untuk membangkitkan mood belajarnya. Apabila ada anak yang menangis atau tidak ingin belajar saat datang ke tempat kursus dengan berbagai alasan, aku dapat membujuk dan memeluk mereka agak mereka merasa lebih tenang dahulu, dan terkadang aku dapat menawarkan mereka untuk istirahat sejenak apabila mereka merasa lelah dan masuk ke sesi berikutnya.

Bagi mereka yang belum menyelesaikan tugasnya dengan baik, aku dapat memberikan hukuman kecil dengan tidak memberikan ijin untuk keluar kelas alias pulang sebelum mereka menyelesaikan tugasnya. Tujuanku adalah membuat mereka bertanggung jawab dengan tugas mereka. Sejauh itu, hampir semua permasalahan anak dapat diatasi dengan cukup baik, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung lancar. Anak dapat mempelajari hal baru dan tetap merasa senang.

Akan tetapi, sejak pandemik Covid-19 melanda Indonesia dan bahkan seluruh dunia, proses belajar mengajar secara tatap muka harus dihentikan dan beralih ke daring (dalam jaringan) alias online. Tentu saja strategiku sebelumnya tidak dapat dilakukan. Aku tidak dapat menyentuh mereka secara fisik untuk meningkatkan mood dan fokus mereka. Aku tidak dapat menahan mereka yang ingin berlarian atau menyelesaikan kelas lebih awal. Tidak semua orang tua dapat dan mau menemani anaknya belajar di rumah. Terkadang mereka hanya mempersiapkan laptop atau komputer dan meninggalkan anaknya seorang diri bersama dengan laptopnya. Jika mereka mulai tidak dapat duduk diam, mereka dapat berlarian sesuka hati mereka. Saat dipanggil pun, terkadang mereka belum tentu mau mendengarkan dan datang mendekati laptop mereka lagi. Tidak jarang pula anak yang moodnya sedang tidak baik tidak mau mengerjakan apapun atau bahkan mengakhiri kelas dengan mematikan laptop mereka atau meninggalkan meeting di Zoom.

Aku pun harus memutar otak menyusun strategi baru agar mereka tidak meninggalkan bangku mereka ataupun keluar dari meeting Zoom-nya. Aku pun mencoba mengajak mereka terus berbincang tentang berbagai hal, seperti hal yang mereka sukai, aktivitas sekolah secara online, dan sebagainya, sehingga mereka tetap berada di dekat laptop mereka. Dan berhubung pembelajaran daring ini dilakukan secara privat per anak, hal tersebut pun dapat dilakukan tanpa mengganggu anak lain. Pembelajaran dilakukan secara personal per anak karena materi yang dipelajari tiap anak berbeda dan kecepatan mereka pun berbeda. Akan menjadi kurang efektif ketika mereka harus saling menunggu atau mendengarkan materi yang bukan menjadi bagian mereka.

Selain itu, aku pun banyak memberikan tantangan kepada anak agar mereka lebih fokus, seperti memberikan batas waktu tertentu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dan kemudian apabila mereka berhasil menyelesaikannya dengan baik, mereka akan mendapatkan waktu istirahat sejenak (sekitar 2 menit) untuk berlarian atau menggambar di papan tulis. Aku juga menggunakan fasilitas dari Zoom untuk membuat penyampaian materi lebih menarik seperti memberikan berbagai warna, menggambar, memutar video, dan sebagainya. Beruntungnya hal ini cukup berhasil diterapkan pada mereka. Terkadang mereka memang menggunakan fasilitas Zoom, seperti pensil, untuk bermain saat penjelasan materi, tetapi aku dapat mengatur akses mereka terhadap fasilitas tersebut.

Oh iya, ada pengalaman mengajar yang unik dan mungkin tidak aku dapatkan apabila mengajar secara tatap muka, yaitu kehilangan signal ataupun kendala teknis dari laptop/komputer yang mengakibatkan komunikasiku dengan murid menjadi terhambat. Terkadang suaranya menjadi putus-putus, videonya tidak berjalan, video dan audio tidak sinkron, dan sebagainya. Hal ini tidak akan pernah terjadi saat aku mengajar secara tatap muka. Terkadang aku dan murid aku harus meninggalkan ruangan Zoom dan kembali bergabung, mengatur waktu kelas lainnya, berpindah-pindah lokasi untuk mencari jaringan yang lebih baik, atau kadang kita perlu menggunakan Whatsapp Call juga sebagai audionya.

Memang banyak penyesuaian yang perlu dilakukan, namun dengan perkembangan teknologi dan keinginan untuk mempelajari dan mencoba hal baru, berbagai kendala mulai dapat diatasi. Proses belajar mengajar pun tetap dapat berlangsung walaupun tidak secara tatap muka dan dengan durasi yang lebih singkat. Walaupun tetap ada kelebihan dan kelemahan masing-masing dari proses pembelajaran tatap muka dan secara online, menurut aku hal tersebut telah memberikan pengalaman dan perspektif yang baru dan unik bagi aku sebagai guru maupun kepada mereka yang menjadi murid.

Ini kisahku, bagaimana dengan kisah kalian?

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat siang Ibu Angie 🙂
    terima kasih telah berpartisipasi di Guraru Writing Competition 2020.

    Sharing ibu kali ini, sangat terasa sekali dedikasi dan strategi untuk mengatasi anak murid dengan baik yang pastinya dapat dicontoh oleh rekan guru lainnya. Kami setuju sekali, memberikan pelajaran secra privat dalam belajar daring merupakan salah satu strategi yang baik untuk pemahaman anak murid. Untuk memberikan referensi bagi kendala teknis yang Ibu rassakan, bisa juga baca artikel kami di “7 Rekomendasi Teknologi Belajar Online”. Semoga bisa bermanfaat Ibu Angie! Sehat selalu 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar