4

Pengalaman PJJ Daring : Ada yang Rela Bangun Jam 2 Pagi Demi Sekolah Online (0)

AfanZulkarnain January 13, 2021

Tulisan ke-18 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Tahun ini adalah kali pertama saya menjadi wali kelas di madrasah tempat saya mengajar sekarang. Saya menjadi wali kelas X. Sekedar tahu, siswa madrasah tempat saya mengajar, berasal dari beragam daerah. Maklum, kami madrasah berbasis pondok pesantren. Siswa kelas saya ada yang berasal dari Tuban, Lamongan, Kalimantan,Gresik bahkan Papua.

Ada juga yang berasal dari Kairo. Iya, Kairo Mesir. Namanya Iqbal. Keluarganya tinggal di sana. Tahun ini, Iqbal dipondokkan di Jombang dan disekolahkan di madrasah tempat saya mengajar.

Karena pandemi, madrasah kami melakukan pembelejaran jarak jauh dengan dua strategi. Pekan on dengan menggunakan platform zoom, dan pekan off menggunakan e-Learning Madrasah.

Pekan on untuk kelas X dimulai pukul 07.15 WIB. Artinya di Kairo sama dengan jam 2 dini hari. Iqbal harus bangun sepagi itu untuk mengikuti kelas. Lewat video di zoom saya bisa melihat suasana ruangannya begitu remang-remang. Di atas mejanya terdapat buku tulis dimana ia mencatat semua materi pelajaran dan sebotol kopi yang sesekali ia teguk untuk mengusir rasa kantuk. Tak lupa peci warna putih selalu melekat di kepalanya. Rutinitas itu ia lakukan setiap hari di pekan on. Tak pernah absen. Bukti bahwa ia memiliki semangat luar biasa untuk belajar meski harus terjaga di tengah malam.

Saya pernah menyapanya di zoom , “Iqbal masih semangat? tidak ketiduran, kan?”

“Alhamdulillah, tidak Pak hehehe. Sudah sedia kopi.” begitu jawabnya.

Pada sekitar Bulan September 2020 , ia terbang ke Indonesia dan mulai melakukan aktivitas sebagai santri di pondok. Sejak saat itu, ia tak lagi begadang demi ikut kelas online. Mengikuti daring dari pondok tempat ia nyantri.

Beda Iqbal, beda pula dengan Nauval. Siswa yang berasal dari Lamongan ini saya tunjuk sebagai ketua kelas. Dia kerap mengingatkan di grup WA kelas, agar teman-temannya masuk kelas daring. Tanggung jawabnya begitu besar. Saya seringkali memintanya untuk mengecek kehadiran semua teman-temannya.

Ada hal lucu yang pernah ia lakukan. Datang di kelas zoom sangat pagi, pukul 7 kurang beberapa menit. Kelas daring masih kosong. Bahkan guru di jam pertama belum datang. Lalu ia nge-chat di grup WA kelas.

“Pak, kok kelas masih sepi,ya?” . Chat ini diikuti screenshot kelas zoom yang belum ada penghuninya. Hanya dia seorang.

Kontan semua teman-temannya bereaksi, “kepagian,mas.”

Saya lalu mengingatkan kalau kelas zoom dimulai Pukul 07.15 . Nauval membalas komentar saya dengan kalimat singkat, “inggih,Pak hehehe kulo supe.” diikuti emoticon.

Ada siswa yang nyeletuk, “Mungkin Nauval mau piket online ,pak hehehe.” Ada-ada saja istilah yang muncul dari anak-anak. Piket online. Hehehe.

Hal lucu juga pernah dilakukan oleh Qordhowi, siswa dari Sidoarjo. Saya akui, dia memang rajin sekali mengikuti kelas zoom. Bahkan saat libur. Iya, saat libur pun dia semangat. Jum’at adalah hari libur madrasah kami. Pada pukul setengah 8 pagi, ia tiba-tiba japri.

“Pak, kok zoomnya tidak bisa dari tadi,ya?”

Saya hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa, “Sekarang Hari Jum’at,le.” begitu saya balas chat-nya.

Dengan cepat ia membalas, “oh iya,Pak. Saya lupa kalau ini Jum’at.Hehehe” diikuti emoticon tertawa.

Itu adalah pengalaman berkomunikasi dengan anak-anak selama PJJ daring semester ganjil lalu. Sampai sekarang saya belum mengenal langsung semua anak di kelas saya. Kami hanya berkomunikasi lewat chat ataupun video call. Namun, alhamdulillah saya sudah hafal wajah mereka satu persatu.

Di madrasah kami, siswa ditugaskan untuk setoran hafalan Al-Qur’an pada wali kelas. Mereka bisa kirim setoran hafalan lewat video WA atau bisa juga melakukan videocall. Dari situ saya jadi hafal satu persatu wajah mereka. O,ya cara mereka membaca surat-surat Al-Qur’an sungguh luar biasa. Tajwidnya bagus sekali. Saya selalu berdo’a, semoga hafalan mereka menjadi ladang amal untuk mereka dan kedua orang tua mereka. Aamiin.

Ah, saya berharap semoga pandemi ini segera teratasi. Saya tak sabar bertemu mereka secara langsung. Bertatap muka dengan mereka untuk belajar bersama.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar